My Childish

My Childish
Habis Berantem



Dave sudah sampai di sekolah, dia terlambat. Untung semua guru rapat kecuali guru BK, iya pak Bayu. Dan pagi ini Dave pertama kali terlambat, ia berdiri di depan tiang bendera dengan jari- jemarinya merepat diletakkan di pelipis mata kanan.


Untuk pertama kalinya seorang Dave Algalasta terlambat? What? Why? Pak Bayu bingung. Bagaimana tidak bingung, pasalnya selama ini Dave terkenal pintar salah satu murid teladan yang paling di segani karena juga ia memiliki ketampanan di atas rata-rata.


"Saya bingung baru kali ini lho saya melihat kamu terlambat, kenapa? Bukannya setiap pagi datangnya tepat waktu? Dan itu juga wajah kamu kenapa itu?" cecar tiga pertanyaan dari Pak Bayu beruntung yang tak bisa Dave hindarkan dan tidak dapat dia hindari, dia bukan pria setengah badboy yang bisa melawan guru.


"Saya minta maaf untuk keterlambatan saya pak..." Dave menyentuh sudut bibirnya yang terdapat luka lebam agak membiru, pemuda itu meringis Pelan. "Dan sejujurnya saya juga tidak tahu siapa yang menyerang saya tadipagi,"


"Yasudah mending kamu ke UKS obati luka kamu kebetulan guru sedang rapat. Nanti minta tolong kepada anggota PMR."


"Baik, pak saya permisi."


Pak Bayu geleng-geleng kepala menatap Dave yang semakin menjauh dari lapangan, heran. Anak muda bisa saja mainnya tawuran, batinnya.


Dave duduk di brankar UKS dengan mengambil sapu tangan di saku celana abu-abu yang ia kenakan.


Seseorang berlari dari luar menghampiri Dave dengan perasaan panik. Ya, itu adalah Caramel. Sungguh wajah Caramel sangat khawatir.


"Dave!" Mata Caramel berkaca-kaca. Bukan Cengeng, sungguh. Caramel hanya khawatir dan prihatin, setakut itukah Caramel?


"Jangan nangis aku nggakpapa kok,"


"Gapapa gimana. Lukanya sakit nggak?"


Dave menggeleng.


"Bentar. Mana ya kotak obatnya?" Caramel berlalu mengambil obat merah Dan kapas yang tersimpan di box p3k.


Dave tersenyum kecil menatap kekasihnya intens sangat menggemaskan ketika Caramel dengan cekatan mengobati lukanya.


Sesekali Caramel ikutan meringis ketika Dave mendecih kesakitan.


Tanpa basa-basi Dave langsung memeluk tubuh mungil gadisnya dengan menggigit bibirnya menahan isak tangis yang tertahan. "Jangan tinggalin aku," Ujar Dave suara serak.


"Caramel nggak akan ninggalin Dave."


Deg!


"Al enggak akan ninggalin Dave." Entah kenapa kalimat terus terngiang-ngian di otak Dave mengigatkannya kepada gadis kecil yang pertama kali menjadi temannya saat dahulu.


"Ekhem,"


"Ini sekolah bukan tempat pacaran!" tegasnya ketus, Dia adalah Jessica teman sekelas Dave.


"Sirik aja lo. Ngapain lo kesini?"


"Nih Mel, buat Dave dari Pak Bayu guru kesayangan lo!" Jessi menodongkan kantong kresek di tangannya kepada Caramel.


"Makasih kak Jes,"


"Sama-sama. Sukur-sukur gue mau nganterin, ini permintaan pak Bayu! Bye dua Bucin."


"Dihh, nggak jelas banget sih tuh orang."


"Udah kakak makan aja. Pasti kakak laper kan? Daripagi belum makan,"


"Makasih ya Mel. Kamu selalu ada buat aku,"


"Aku akan selalu ada disamping kakak." ujar Caramel tersenyum manis.


"Jangan senyum ntar aku cium, soalnya senyuman kamu itu manis."


"Bisa aja bikin Caramel salting," Dia tersenyum malu sembari menunduk.


Cup!


Caramel melotot ketika merasakan bibir seksi Dave mendarat di pipinya. "Ini disekolah tau!" dengus Caramel memukul dada Dave.


"Biarin, abisnya kamu gemesin."


"Auwww!"


"Aduh maaf kak,"


"Kakak berantem sama siapa sih?" Caramel beralih fokus mengobati sudut bibir yang sedikit sobek tidak menghiraukan Dave yang terus menatapnya intens.


"Aku juga nggak tau." ucapnya sembari mengedikkan bahunya.


...****...