My Childish

My Childish
Prioritas



Dave memanahkan busur dengan anak panah tepat pada sasarannya yang sehingga membuat Caramel loncat-loncat kegirangan lalu gadis itu ingin sekali diajarkan olehnya.


"Gimana kak bisa nggak?"


"Bisa dong apasih yang gak Dave bisa!"


"Dihh…"


Lalu Dave merangkul pinggang Caramel dari belakang memegang dan memasang anak panah, dan mengangkat busur siap melepaskan string.


"Yeyy..gol kak hebat,"


"Iya siapa dulu dong yang ajarin!" ucap Dave membanggakan diri sendiri.


Setelah berapa lama seorang gadis sudah datang menghampiri dua sejoli itu tapi terlebih dahulu dia menuju karpet dimana Ehsan duduk.


"Kak!" ujar Diva.


"Dek,"


"Diva."


"Kok kesini gak ngajak Diva?" tanya Diva ketus tanpa memperdulikan Caramel di samping kakak nya yang menyapa.


***


Setelah jam 5 sore Mike dan Rara pulang Dave segera mengantar Diva pulang ke rumah Papanya sementara dia segera ke apartement namun sebelum itu dia mampir dulu dengan keinginan Diva pastinya.


"Kak,"


"Emm?" dehem singkat Dave namun matanya masih beralih ke ponsel yang di genggamnya.


"Kakak kemana aja sih 2 hari ini? kok jarang banget jenguk Diva disini!" kata Diva memanyungkan bibirnya kesal sembari memeluk lengan kekar Dave sebelum pria itu ke apartemen karena hari sudah malam dan juga mereka tadi sudah makan malam sekeluarga.


Terkadang Diva risih melihat Dave lebih mem-prioritas kan Caramel daripada adiknya sendiri.


"Kak, kakak nginep ya di sini?"


"Kakak harus balik ke Apartemen,"


"Ayolah kak. Kakak nginep ya please, please" Diva sengaja mengeluarkan jurus puppy eyesnya yang tak bisa sama sekali di tolak apalagi dengan tatapan memelas membuat siapa saja luluh.


"Udah kamu nginep saja." Keduanya pun berbalik menatap pria paruh baya ke arah dapur, disana ada Felix mematung sembari memegang gelas.


"Ya, ya kakak disini aja? Papah udah izinin tau nggak boleh di tolak!" pinta Diva mengelatupkan kedua tangannya menghadap Dave.


"Yaudah deh kakak nginep," Akhirnya Dave menyerah membuat Diva mengembangkan senyum, juga Felix yang mendengarnya mengangkat sudur bibirnya samar.


Setidaknya Dave mau menginap di rumahnya daripada di apartemen nya sangat sepi mengigat Diva sudah tak tinggal disitu. Dan ia juga mulai dari awal berdekatan dengan anaknya dan mau menghilangkan rasa canggung perlahan kepada Dave.


"Yey, makasih kak. Yuk aku anter ke kamar" Diva dan Dave berjalan berdampingan menaiki tangga dengan Diva terus bermanja-manja di lengan lelaki itu.


Bukannya balik ke kamar Diva malah naik ke pangkuan kakaknya sambil menonton televisi di kamar itu, sedangkan Dave hanya fokus ke layar ponselnya.


"Kakak ngapain sih? Daritadi main Handphone mulu," ujar Diva kesal. Bagaimana tidak kesal coba pemuda 18 tahun itu sedari tadi bermain HP tanpa memerdulikan adiknya yang berada dipangkuannya.


"Bentar kakak chat Jery dulu siapa tau dia nyariin kakak ke apart." jawab Dave.


Hommm… Diva menguap menutup mulutmya.


"Kamu tidur gih, kakak juga mau tidur."


"Yaudah kak aku balik ke kamar." pungkas Diva.


Cup! kecupan singkat sebelum Diva keluar dari kamar Kakaknya. Dave hanya mematung memandang punggung adiknya yang semakin menjauh terhalang tembok sampai Diva masuk kedalam kamar sebelah.


Memang kamar Diva bersebelahan dengan kamarnya.


***