
Kring.....
Jam pulang sudah tiba Melda keluar dengan Caramel, keduanya bersenandung ria sampai kedua pemuda datang dari depan mereka.
"Yuk"
"Ayuk. Mel, mau bareng?"
Melda melirik Dave yang sedari tadi hanya datar, "Lo pikir gue mau jadi nyamuk di antara kalian, ogah"
"Hehehe. Yaudah Mel duluan, yuk kak" Caramel bersenandung ria sembari menggandeng tangan kekar Dave.
"Balik bareng gue yuk?" ucap Jery dengan senyum mautnya.
"Ogah." tolaknya memutar mola matanya malas meladeni Jery.
"Lo kenapa sih, senyum dikit napa. Lo jelek tau kalau jutek mulu, kayak kanebo kering"
"Hee... Sembangan lu" sertak Melda reflek mencubit pinggang Jery sehingga pemuda itu menekik kesakitan.
"Ya emang kenyataan, nih ya menurut gue lo itu bak bidadari kalau lagi senyum manis kek gulali." ujarnya menaik turunkan alisnya genit.
Sumpah nih, Melda ingin sekali mensleding Jery sampai mampus tapi ini masih dalam sekolah. Dia pikir perempuan itu gampang luluh, oh tidak.
"Makasih pujiannya tapi gue gak butuh, bye"
Tiba-tiba depan gerbang terdapat cowok seumuran dengannya. Ah cowok itu,,, mantan pacarnya. Dia melihatnya, cepat-cepat Melda berlari ke arah Jery yang ingin masuk ke mobilnya, menggandeng tangan Jery.
"Lo mau apalagi?"
"Sampe kapan lo mau ngehindar dari gue?"
"Heem, sampe kapan? Liam lo udah buat kesalahan yang besar. Stop, aku nggak mau ada urusan lagi sama kamu, tolong jangan ganggu aku lagi"
Melda melepas genggaman tangannya pada Jery dan beralih menarik Liam menjauh dari parkiran. "Liam, dulu gue gak maksa lo, gue hanya merengek tanpa maksain gue suruh-suruh lo manjain gue. Dan asal lo tau, semenjak lo videoin gue! Itu namanya penghinaan, banyak yang bullying gue waktu itu. Lo udah ngejatuhin harga diri gue, dan rasa kecewa gue! GAK akan pernah hilang."
Dari belakang ada Jery yang menguping pembicaraan mereka, akhirnya berjalan menghampiri keduanya. Tanpa aba-aba dia menggenggam tangan Melda. Melda menatap kedua tangan yang saling bertautan itu.
"Yuk pulang"
"Lo siapa? Jangan ikut campur" sentak Liam terlihat jelas kilatan kemarahan terpancar di wajahnya berarti dia cemburu melihat perlakuan Jery terhadap perempuan dicintainya.
"Lo nggak lihat hem? Perlu gue tunjukin?" Jery mengangkat tangan satunya dan Melda menunjukkan di depan wajah Liam. "Lo tau kan artinya apa?"
"Yuk pulang Mel, gak ada untungnya lo bicara sama dia" jelasnya menunjuk muka Liam. Jery dan Melda berlalu menuju mobil yang terparkir di ujung, sementara itu Liam meretakkan giginya geram.
"Mantan lo?"
"Bukan"
"Pacar sih, tapi udah lama nggak berhubungan"
"Berarti dia mantan pacar lo dong?"
"Ah iya. Udahlah nggak penting bahas dia"
"Jadi lo mau bahas kita"
"Apaansih"
"Pipi lo merah, berarti lo malu" kata Jery jujur, memang sedari tadi pipi Melda memerah saat Jery menggenggam tangannya dan membelanya.
"Mana ada" elak Melda. Dia memegang pipinya dengan kedua tangan dan benar saja pipinya panas dan muncul merah merona.
Jery manggut-manggut. "Gue anterin?"
"Gak perlu gue naik taksi aja"
"Mel, disini udah sepi loh nggak gue ga mau ninggalin cewek sendirian"
"Itu ada bokap gue" Melda menunjukkan mobil BMW dan seorang pria paruh baya turun membuat Melda terkejut.
"Ayah" sapa Melda tersenyum cekikikan.
"Masuk"
"Iya yah" Melda menurut.
Ayah Melda menatap pemuda di depannya dari atas sampai bawah. Sepertinya dia kenal siapa Jery...
Beberapa detik pria itu diam menatap dalam Jery sehingga membuat anak muda itu gugup bahkan ketakutan di tatap tajam oleh Ayah Melda.
Namun, "Makasih ya, kamu udah bela anak saya tadi"
"Sama-sama Om" Dengan cepat Jery menjawab.
"Sepertinya kamu takut sama saya"
"Eh…"
"Kamu jangan takut, saya bukan iblis yang bisa mencekik kamu" ucapnya datar mengintimidasi.
"Hah?" tiba-tiba Jery mencospay menjadi keong, dan membuat perempuan dalam mobil tertawa kecil melihat kelakuan Jery depan Ayahnya.
Ayah Melda berlalu meninggalkan Jery yang masih menganga itu.
...----------------...