
Dave menuruni anak tangga dengan seragam rapinya, dapat ia lihat semuanya sudah berkumpul di meja makan dengan dihadapannya nasi goreng di hias telur ceplok.
"Kak sini duduk," Ujar Diva.
Dave menghampiri adiknya terlebih dahulu dia mengacak rambutnya itu sudah menjadi kebiasaan Dave lalu ia menduduk kursi disamping Diva.
"Mah aku udah Kenyang. Aku berangkat duluan." Sena langsung berdiri dan berjalan keluar tanpa berpamitan. Entah mengapa lelaki itu sudah tak selera makan semenjak ia melihat Dave, itu sudah biasa.
"Lho Sena Ini makannya masih banyak..." Sena tidak memperdulikan sahutan mamanya dia langsung menstater motornya dan meninggalkan pekarangan rumah.
Sementara Dave hanya mengedikkan bahunya acuh melihat Sena semakin menjauh.
Tidak ada suara di meja makan hanya suara dentingan sendok dan garpu mengisi keheningan. Nampak Felix Ingin mencairkan suasana dengan menanyakan Bagaimana sekolah Dave, namun anak sulungnya duluan berdiri.
"Makanan aku udah habis, aku berangkat dulu Pa, Tante." Dave berlalu menyalimi Papa dan Tante Sinta diikuti Diva lalu menoleh ke arah Diva karena gadis itu ingin berangkat bersama kakaknya. "Ayo,"
Dave dan Diva berjalan beriringan menuju mobilnya. Melihat hal itu Felix langsung berdiri dan berniat mengajak mereka namun lengannya di tahan oleh Sinta.
"Biarkan saja." ucapnya memenangkan suaminya sembari mengisyaratkan lelaki itu duduk.
***
"Nyebelin banget sih." Dia menghela nafas kasar, pagi hari mood Caramel sedang tidak baik setelah tadi di meja makan Mike mengomelinya karena setelah balik ke rumah tiba-tiba perut Caramel sakit terlebih lagi dia sudah tau kemarin Caramel keluar.
Caramel menduduki kursi ayunan Di halaman rumahnya lengkap dengan seragam, menunggu Dave menjemputnya untuk ke sekolah bersama, itu sudah biasa mereka berangkat, pulang bareng. Namun kalau Dave mempunyai Urusan OSIS atau Olimpiade cowok itu biasanya meminta bantuan ke sahabatnya Ehsan untuk mengantar Caramel pulang karena tidak mungkin ia membiarkan gadisnya pulang menaiki taksi atau kendaraan apapun. Caramel tidak biasa menaiki kendaraan semacam itu sendiri.
Sudah sekitar pukul 6.30 namun mobil Dave belum juga ada tanda-tanda mamasuki halaman rumah, biasanya jam begini pemuda itu sudah nongkrong di depan rumahnya atau satelah kalau Dave menumpangi adiknya.
Jam terus berlalu tapi Caramel belum berangkat sekolah, 15 menit lagi pagar sekolah sudah ditutup namun Caramel masih setia menunggu kekasinya itu.
Sampai Mike keluar dengan setelan jas abu-abu mengerutkan dahinya tajam, "Belum berangkat?"
Caramel menggeleng tanpa menoleh ke samping. "Kak, anterin Ke sekolah ya?" Kata Caramel dalam mode manja.
"Kakak Ayolah," rengek Caramel bibirnya mau beberapa centi. "Caramel nggak mau telat limabelas menit lagi sekolahnya udah Ke tutup!"
Siapa bilang Mike tidak mau mengantarkan adik kesayangannya sekolah, lelaki itu berdiri mengulurkan tangannya depan Caramel. Ceritanya ingin menggandeng adik.
Mobil Lamborghini meninggalkan pekarangan rumah dengan kecepatan diatas rata-rata sesuai kemauan Caramel.
Dalam mobil Caramel terus kepikiran mengapa Dave tidak menjemputnya? Apa cowok itu lupa? Atau Bagaimana? Padahal kemarin Dave mengatakan akan menjemputnya, biarpun Dave tidak berjanji akan menjemput namun Dave tetap datang tapi kenapa hari ini Dave tidak menepati katanya kemarin? Entah kenapa dalam mobil Caramel duduk dengan gelisah. Apa yang terjadi?
Tak perlu berlama-lama mobil Mike yang di kendarai Lelaki tersebut sudah sampai di depan gerbang SMA Alaska langsung saja Caramel memasuki gerbang setelah berpamitan.
"Caramel!" Suara cempreng Melda menggelegar di seantero ruang kelas sampai membuat semua murid terkejut termasuk Caramel
Untung belum ada guru yang masuk, batin Cara berdecak kesal kepada sahabatnya itu.
Caramel menaikan dagunya mengkode Melda jangan teriak-teriak. Melda menatap sekelilingnya, ada yang menatap sorot tajam kepada gadis itu karena mereka Ingin menyalin tugas temannya, ada juga yang Merasa terganggu. Seketika Melda tersenyum kikuk ke teman sekelasnya.
"Gue kangen bangett sama lo Car!"
"Kangen? Bukannya kemarin kita ketemu ya?" Tanya Caramel polos menggaruk tengkuknya.
"Maksudnya kengen lo sekolah, kangen ke kantin bareng!" Caramel hanya ber-Oh ria menanggapi sembari gadis itu menduduki bokongnya di kursi bangku kesayangannya setelah beberapa hari sakit.
"Kok Oh doang? Lo nggak kangen sama gue?"
"Nggak, tapi mood Caramel hari ini kurang bagus," dia meletakkan kepalanya di atas meja melipat tangannya sebagai bantalan.
"Eh, ini jam berapa? Kok belum ada guru?"
"Semua guru rapat jadi semua kelas jamkos…" Melda mengatakan itu sambil tersenyum lebar. Memang Setiap kelas jam kosong diantara mereka berdua Melda yang semangat.
...****...