
Melda melirik arlojinya "Yaudah Car gue pulang dulu ya, nanti sehabis pulang sekolah gue kerumah lo"
"Sip." balas Caramel mengacungkan jembolnya.
"Kak, gue pamit" pungkas Melda kepada ketiga pria dan Diva di sampingnya dan dibalas anggukan Dave dan Ehsan.
Tak lama dari Melda keluar dari ruangan Caramel, Jery juga ikutan berpamitan kepada ketiganya. Ehsan tahu apa yang dilakukan Jery, pasti untuk mengantar Melda pulang, dia hanya mendengus kesal. Kapan sih, sahabatnya keluar dari jurusan ke playboy-annya.
Karena Jery tidak mengajak Ehsan pulang, cowok itu berinisiatif mengekori Jery.
"Ngapain lo ikutin gue?" cetus Jery seraya menegur Ehsan.
"Kan kita kesini bareng, jadi gue mau nebeng"
"Gak, gak." tolaknya. Lalu Jery merogoh saku celananya mencari pecahan uang seratus ribu selembar, dia menyondorkan kepada Ehsan. Ehsan mengangkat kedua alisnya seakan bertanya 'Apa?'. Jery tidak bereaksi cowok itu hanya memasang wajah datar.
"Iya, iya." Ehsan yang mengetahui maksud Jery mengambil uang merah itu, dan membuat Jery tersenyum cerah. Lalu dia segera meninggalkan Ehsan, berlari menyusuri koridor rumah sakit.
Sampai depan loby, Jery menelisik. Dan tak lama senyumannya terbit ketika matanya sengaja menangkap seorang gadis dan yakin itu pasti Melda. Jery mendekat kepada orang itu, karena orang itu sedang membelakanginya.
"Cantik." goda Jery.
Cewek itu menengadah dari ponselnya beralih kesampinya dimana cowok yang tidak dia kenal berdiri. Dengan tatapan tajam dia berkata "Apaansih, iya saya tahu saya cantik, tapi jangan godain saya dek."
"M-mbak"
Wanita itu mendelik siap menerkam kepada Jery "Kamu pikir saya akan tergoda, dasar anak bau kencur. Berani-beraninya mau godain saya"
"Maaf mbak" gumam Jery menyesal, dia pikir itu cewek yang di carinya.
"Sayang" tiba-tiba dari arah depan terdengar suara lelaki menghampiri si wanita dengan membawa payung.
"Sayang"
"Eh dek kamu jangan godain pacar saya ya, kamu itu masih anak kecil. Masih belum pantes pacaran" hardik si cowok mbaknya berapi-api sembari merangkul wanitanya dan berlalu meninggalkan Jery yang melongo ditempat.
Dih..enak saja Jery dikatain anak kecil, emang sih Jery itu masih bau kencur. Tidak lihat apa, tubuh Jery tinggi begini kayak tiang listrik kata Melda.. Itu orang buta apa ya. Tau ah Jery hanya mengedikkan bahunya cuek.
"Hahahaha..." tawa menggelegar mengisi keheningan di loby rumah sakit membuat Jery memberengut kesal ketika dia tahu siapa yang menertawainya. Melda.
"Ptttrrr.. Mampus lo diceramain sama mas-mas hahaha"
"Puas banget hehe…"
"Ayo pulang" Jery tidak memperdulikan cibiran gadis itu, langsung meraih pergelangan tangan Melda.
Dengan cepat Melda menyingkirkan tangan Jery "Gak usah pegang-pegang" sertak Melda, cewek itu menarik nafas "Lagipula gue bisa pulang sendiri" Kali ini ucapannya jutek, sejutek juteknya.
"Melda nurut deh, ini udah malem, cewek nggak boleh pulang sendirian, hujannya juga deras banget. Ayo"
"Nggak mau" kekuhnya jutek, lagi lagi di menghempas tangannya dari Jery.
"Sumpah deh Mel, kalau ini bukan malam gue udah tinggalin lo, gue cum-"
"Ya udah tinggalin aja" ketusnya membuang mukanya sembarang arah.
"Gue cuma mau nganterin lo, sebagai tanda bahwa gua cowok gentlemen. Lama-lama gue panggil juga lo miss jutek" gumam Jery.
Melda menggigit bibir bawahnya tidak menghiraukan sungutan Jery, benar juga kata Jery malam ini hujannya lumayan lebat, mana sempat dia memberhentikan taksi. Tapi kalau cowok tersebut mengantarkannya sampai rumah dia takut bunda dan ayahnya bisa cerewet kalau mereka melihat anak sematawayangnya diantar sama cowok.
Melda berpikir sebelumnya mengatakan "Yaudah gue nebeng lo" Dengan terpaksa, ingat terpaksa, itupun sudah membuat Jery tersenyum menang.
Tanpa sadar dibelakang orang kesana kemari Ehsan melihat sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Cemburu ya?"
Ehsan membelalak matanya setelah mendengar suara gadis kecil di sampingnya. "Diva. Kapan kamu disini"
"Hem..belum lama sih, tapi yang aku lihat, kakak terus merhatiin mereka berdua. Cemburu ya, sama kak Jery"
"Nggak" Dengan cepat Ehsan mengatakan itu.
"Hem gak cemburu, okey." gumam gadis itu. "Kak, kakak anterin aku balik"
"Dave mana?"
"Katanya dia mau nginep jagain kak Caramel, soalnya baru besok dia udah boleh pulang" kata Diva. Ehsan mengangguk pelan, lalu meraih tangan Diva. Entah perasaan apa ini setelah Ehsan memegang tangannya, yang pasti jantung Diva langsung bergetar tak menentu. Dia melihat tangannya yang bertautan dengan Ehsan, menyunggingkan senyum tipis.
"Yaudah yuk pulang" ajak Ehsan. Keduanya pun melangkah, sebelum itu Ehsan sudah memesan taksi online gojek.
...----------------...