My Childish

My Childish
Caramel Nggak Cemburu



"Dave" panggil seseorang perempuan menduduki kursi kantin berhadapan dengan kursi Dave, namun terhalang meja di hadapannya.


"Ehm?" Masih fokus dengan ponselnya, pemuda itu berdehem menjawab perempuan yang beberapa detik lalu menghampirinya.


"Dave ihh" cicitnya berdesis.


"Apaansih Nov!"


"Gue mau minta tolong ke lo, buat ajarin gue?"


"Gue sibuk." jawaban Dave seraya memutar bola matanya jengah sekaligus malas. Dia kira apaan, cuma masalah ajar mengajar aja toh. Bukannya tidak mau bantuin, pemuda itu hanya tidak mau Caramel salah paham. Dave tahu sekali apa yang menyebabkan gadis cengengnya itu tidak mau berbicara setelah Dave di ampit oleh banyaknya cewek di Alaska High School ini yang terjadi seminggu yang lalu dan berujung perkelahian antar cewek, lagi pula Novi itu anak orang kaya bisalah gadis itu sewa guru les privat.


"Ayolah Dave bantuin gue! masa lo gak kasihan sih, gue udah hampir empat tahun loh disini. Tapi belum lulus juga, karena nilai gue dibawah rata-rata. Beda sama lo yang pintar, bahkan dikelas lo yang paling pintar" jelasnya memohon sembari meraih tangan Dave. Novita memang benar sudah bertahun-tahun sekolah di Alaska, namun belum lulus sampai sekarang karena otak yang kurang memuaskan untuk mendapatkan rangking atau juara umum atau hanya sekedar lulus. Umur Dave dan Novi terlampau 1 tahun, itu berarti dulu Dave adalah adik kelas Novi. "Lo tenang aja dan lo gak usah khawatir, gue bakal bayar lo berapapun yang lo mau tapi please bantuin gue ya ya" celoteh Novi menatap Dave dengan puppy eyesnya.


"Udah celoteh nya" singut Dave datar mendengus sebal sekaligus pusing menghadapi gadis cerewet satu itu. Pria itu mengangkat jus jeruknya berniat pindah tempat duduk, namun tangannya keburu di tarik oleh Novita.


"Please" ujar Novi memaksa. Sebenarnaya itu cuma alasan, dia hanya ingin dekat cowok itu dan ingin selalu dekat Dave. Awal Dave memasuki Alaska High School, ia sudah terpana atas ketampanan Dave, dan selain tampan dia juga mempunyai daya pikir yang sangat pintar, karena itu alasan Novi sampai sekarang masih menyukai pemuda itu.


"Gue bilang, gue sibuk Novi!" geram Dave.


"Setengah hari aja, mau ya?"


Berniat membalas ucapan Novi, Dave urungkan karena Caramel menyerang dadakan Novi. Secara tiba-tiba dia tarik rambut gadis di hadapannya, tanpa ampun, keras sangat terasa dikulit kepala Novi. Sebelumnya gadis itu sering melihat Novi selalu mencari cela untuk bisa berdekatan dengan Dave. Hari ini di sekolah Alaska menjadi saksi pertengkaran mereka.


Kantin yang tadinya hening seketika riuh, ketika pandangan semua murid menangkap Caramel dan Novi. Mereka sama terkejutnya dengan Dave, pasalnya sedari dulu sampai sekarang di kenalnya Caramel adalah anak cengeng yang mudah menangis, merengek, pokoknya Caramel mempunyai sifat kekanakan.


"Apaansih sakit Ihkk…" Novi membalas perlakuan Caramel tak kalah sengut dari Caramel, sampai Caramel ingin menangis sejadi-jadinya namun di tahan.


Dave terpengarah melihat kekasih kecilnya itu menarik kepalan rambut Novi membabi buta dan juga di balas oleh Novi sama. Kini mereka saling tarik-menarik rambut satu sama lain.


"Siapa yang keganjengan Mel!, justru gue mau di ajarin sama Dave!"


"Itu sama aja kak!"


"Caramel udah," sahut Dave menarik paksa gadisnya.


"Apaansi kak, dia tuh udah keganjengan. Aku nggak suka"


"Sa-sakit Mel shittt…" rintih Novi.


"STOP CARAMEL!" Perlahan tangan Caramel terurun setelah mendengar bentakan Dave. Dave mengcengkram pergelangan tangan Caramel menuju taman belakang sekolah.


"Kenapa emm… Mau marahin aku?" ucap Caramel lirih dengan linangan air mata yang kini terlihat di pipinya.


Dave langsung memeluk gadis mungil itu, menenangkannya, membenamkan kepala gadisnya ke dada bidang nya. Dia sangat menyesal sudah membentak Caramel. Entah kenapa dia tidak suka sifat Caramel saat ini, Caramel dikenalnya bukan seperti ini.


"Caramel gak cemburu, Caramel cuma mau kak Novi nggak dekat-dekat lagi sama kakak. Tapi kenapa kakak malah bentak Caramel. Amel enggak suka"


"Iya iya sayang udah ya. Maafin kakak, kakak nggak bermaksud bentak kamu" Kata Dave sembari mengeluskan rambut tergerai indah gadisnya.


******