
Pagi hari menyapa, seorang gadis yang masih tengkurap memeluk guling. Tak lama kemudian datanglah sang kakak berniat membangunkan gadis itu dari tidur pulasnya.
Mike membuka gorden kamar Caramel agar gadis itu melototkan matanya bangun, namun gadis itu enggan mengerjapkan matanya, karena tentu saja masih berat.
"Sayang bangun.." Berapa menit Caramel mendengar suara lembut, tapi itu bukan suara Mike ataupun Rara membuatnya mengerjapkan mata berkali-kali untuk menetralkan cahaya lampu kamar nya.
"Kakak!"
"Kenapa?" heran Dave melihat tingkah kekasih kecil nya itu, juga seraya melirik Caramel menyilangkan dadanya.
"Aku nggak mimpi kan," Caramel mengucek- ucek dan segera mencubit pipi nya keras, mengetes ini mimpi atau kenyataan. "Auuwwwhh"
"Kamu kenapa sih?"
"Kakak ngapain masuk kamar Amel?" pekiknya. Bagaimana bisa Dave masuk kesini, sementara dia hanya memakai pakaian tipis lebih tepatnya hanya memakai pakaian dalam yang ditutupi selimut.
"Emang kenapa, kan biasanya kamu nggak ngelarang aku masuk kamar kamu, So?"
"Kakak" ucapnya lirih.
Oke, sekarang Dave tahu kenapa tingkahnya aneh. Jangan salahkan Dave masuk kesini, karena tadi Mike menyuruhnya sendiri masuk. Karena beberapa kali Mike dan Rara sudah mencoba membangunkan gadis kebo itu, tapi tak kunjung bangun. Beginilah kalau Caramel begadang kemari, batin Dave.
Dave mengulum senyum seringai tipis. "Pikiran kamu itu ya, aku nggak mungkin menyentuh benda kenyal kamu, siapa yang mau!" kata Dave berbisik sedikit menggoda.
"Jadi kakak tidak akan pernah menyentuh nya" pikiran polos Caramel kini menyelam kemana-mana.
"Bukan gitu Caramel.. Sudah kamu ke kamar mandi, aku tunggu di depan. Jangan lama-lama" Pergi melangkah cepat-cepat, sementara Caramel mengerjapkan matanya beberapa kali. Dave pergi dari kamar gadis itu sebelum Caramel berbicara aneh lagi dan lagi, dan berakhir membuatnya khilaf.
Pria itu turun menemui kak Mike yang terduduk di sofa sembari mengeratkan tali dasinya. "Udah bangun?" tanyanya dan di balas anggukan Dave.
Astaga. Gadis itu kemana saja, sedari tadi dia susah membangunkan Caramel, eh sekali ada Dave, Caramel langsung nurut. Mike mengerutuki adik nya dalam hati.
Caramel turun menuruni anak tangga, dengan keadaan masih menguap dan sesekali melatupkan mulut nya dengan tangan mungil.
"Makanya kalau mau begadang itu, lihat waktu. Kalau kamu nggak bisa, ya tidur" sahut Mike memberengut kesal menatap sebal adik nya, dan saat itu pula istrinya mencubit pinggang Mike geram.
"Aw, sakit sayang. Segitu pedulinya kamu sama Caramel, sampai suamimu jadi korban" umpat Mike menatap Rara disertai cemberut manjanya.
Caramel menjulurkan lidah nya mengarah ke Mike dan itu membuat pria itu makin mengumpatkan Caramel.
"Kakak kamu kenapa?"
"PMS kali, atau kakak nggak pernah menuhin permintaan kak Rara"
Mike langsung saja berlari ke atas, ngomong bareng adik nya membuatnya tambah pusing.
"Yuk berangkat Caramel udah siap" ucap nya membenarkan tas gendong nya.
"Ayo!" Dave langsung merangkul Caramel menuju dimana mobil nya dan Diva di dalam.
"Kalian lama banget sih, Diva sampe lumutan lho" dengusnya.
"Maaf." jawab Caramel. Gadis itu membuka handle pintu jok belakang sebelah Diva.
"Kamu nggak mau kedepan? Memangnya aku supir?" gerutu Dave.
"Siapa yang anggap kamu supir? Nggak ada tuh" ucapnya ketus sembari memalingkan wajahnya memainkan handphone nya.
Oke, sekarang tanggal berapa sih? Caramel lagi sensitif guys, biasa perempuan lagi dapat. Dave cowok penyabar, pemuda itu meraih pintu dan masuk.
***
Dave dan Caramel berjalan melewati lapangan basket, terlebih dahulu Dave mengantar Caramel ke kelasnya. Tapi ditengah lapang ada bola basket meleset ingin mengenai tubuh mungil Caramel, namun dengan gercep Dave menangkap bola.
"Upsss.. Sorry" sahut seorang pemuda ber name tag Sena.
Dave melempar bola basket di tangan nya, dan untung nya bola ini, pas gol ke dalam ranjang kecil itu, membuat Sena menerbitkan senyum miring.
"Boleh juga, elu"
"Lain kali hati-hati" ucapnya datar, lalu melenggang pergi bersama Caramel, sebelum Sena mengucap ...
"Sesama sodara, harus saling akur bukan?" cetus nya, dan itu berhasil memberhentikan langkah keduanya tanpa menoleh.