
Sebenarnya Dave sangat enggang ke rumah papanya. Namun beberapa hari sebelum pesta ulang tahun Diva papa Felix sudah menyiapkan pesta Diva membuat gadis itu ceria lagi dan dengan gampang dia sudah menerima papa dan keluarga Sena.
"Walcome to home anak papa yang cantik" sambut pria paruh baya dan di sampingnya ada seorang wanita seumuran dengan papanya tak lain adalah ibu tirinya.
Diva menyapa papa Felix hanya senyum simpul saja, matanya beralih menatap kakaknya yang masih datar sembari bersekedap melipat tangan depan dada. Akhirnya gadis tersebut mendekat dan membisikkan sesuatu.
Jujur dari dalam lubuk hatinya juga masih tidak memaafkan papanya, tapi seiring berjalannya waktu dia berusaha untuk memaafkan. Dia sudah cukup umur, tahu bagaimana tersakitinya wanita yang sedang sayang-sayangnya pada seorang pria tapi pria itu diluar sana bermain wanita lain dan itu yang di rasakan mamanya pada saat tahu papanya selingkuh, namun selama hidup ibunya tidak pernah mengetahui tentang hubungan gelap keduanya.
"Kak, ini hari ulang tahunku kakak nggak mau kan aku sedih" lirihnya. Dave tersenyum kikuk menanggapi.
"Kakak sudah ada kan kado buat Diva?" tanyanya menyengir.
"Udah"
"Yaudah yuk" Diva mengajak semua masuk ke dalam berpesta. Ternyata semua sudah di siapkan sempurna, teman-temannya berkumpul mengerumuni Diva sementara Diva menaiki panggung dan segera mengucapkan sepatah dua kata untuk hari birthday.
HAPPY BIRTHDAY DIVANA ZAHILA
HAPPY BIRTHDAY RATU GINGSUL
HAPPY BIRTHDAY MANIS
"Terimakasih, terimakasih, terimakasih"
Diva menghampiri Ehsan di ujung kolam menerawang langit-langit biru, sepertinya Ehsan sedang memikirkan hubungan keduanya. Ya, keduanya itu adalah sepupunya dan sahabat Caramel siapa lagi kalau bukan Melda. Tadi terlihat jelas mata pemuda itu tak luput menatap Melda dan Jery, sepertinya dia menyukai Melda maka dari itu ia risih Melda terus berada dekat Jery sementara Jery, dia teman Ehsan dan bisa jadi Jery masih seorang playboy. Ehsan tidak mau kalau suatu hari Melda sampai bertambah dekat Jery dan berakhir sakit hati Melda.
"Sendirian aja kak?" matanya lurus memandang langit penuh bintang kerlap - kerlip.
"Iya. emang sama siapa?" Dia mengalihkan pandangan matanya menoleh kepada Diva dengan kerutan dahi.
"Ya, bisa jadi kakak punya gebetan gitu atau baru PDKT-an mungkin?
"Hahaha, Kamu bisa aja. Udah mulai tau ya yang gituan?"
"Yakan Diva udah gede, kakak gimana sih. Diva udah mau masuk SMP"
"Itu namanya bukan gede, kamu yang duluan ngerti soal gituan " celetuknya seraya mencolek hidung Diva.
"Kakak sakit!" ringis memanyunkan bibirnya.
Lalu mereka berdua terkekeh geli. Biarpun Ehsan dan Diva berbeda umur 7 tahun, Diva sudah mengerti perihal percintaan anak remaja dan yang namanya patah hati dan cinta bertepuk sebelah tangan. Maka dari itu dia berusaha menghibur Ehsan yang terlihat menyukai Melda sedangkan Jery mencoba mendekati Melda.
"Kak Ehsan belum jawab pertanyaan aku"
"Pertanyaan apa?"
Diva menarik nafas sedalam-dalamnya sebelum mengulang pertanyaannya. "Kakak udah punya gebetan gak sih?"
"Hey... fokus dulu sama pelajaran kamu itu jangan mikirin yang lain"
"Punya sih, tapi cewek yang aku suka itu baru putus dari pacarnya"
"Kenapa gak coba di deketin kalau udah putus?"
"Dulu sih gue mau coba dekatin dia tapi keburu dikejar sama teman gue" jawab Ehsan lirih namun masih terdengar jelas di telinga Diva.
"Kenapa kakak nggak perjuagin"
"Lo mau gue perjuangin lo"
Deg!
"Bercanda Diva"
"Ish nyebelin"
"Lo angep gue serius?"
"Gak" jawab Diva cepat.
"Oh iya nih kado buat lo"
"Apaani kak?"
"Buka dong" sahut Ehsan.
Tangan mungil Diva mulai membuka bungkus kado berwarna navy berukuran 10×10, ternyata ada bungkusan lagi. Diva mendongak menatap penuh tanya Ehsan, sementara Ehsan hanya menaikkan alis kedua alisnya. tangannya bergerak lagi membuka bungkusan entah apa isinya? Kenapa begini? Apa Ehsan segaja?, pikir Diva.
"Ini apa sih kak?" Tanya Diva
"Kalau aku kasih tau bukan kejutan namanya" cetus Ehsan mengacak-acak rambut Diva sehingga cewek itu menepisnya mendengus kesal, nada ketus sambil mengembulkan pipi chubbynya. Selalu saja begitu, pikirnya.
Diva menurut membuka bungkusan terakhir dengan memutar matanya malas.
Sampai terlihat kotak kecil di hiasi dengan pita merah, dengan cepat Diva membuka kotak kecil tersebut.
Matanya berbinar melihat sebuah jam tangan arloji pink berhias manik-manik kecil yang berkilau.
"Kamu suka?"
"Suka banget kak, ini jam tangan branded yang aku suka banget. Maksih kak" serunya. Saking senangnya dia reflek memeluk pemuda di hadapannya.
Tak sengaja sepasang mata mengarah ke pinggir kolam dimana Diva memeluk Ehsan dengan senang hati pemuda itu membalas dengan senyum.
...*******...