My Childish

My Childish
Panahan



"Kak, bosen!" Caramel menduselkan-duselkan rambut Dave yang merebahkan tubuhnya di pahanya sembari memasukkan Snack ke mulut cowok itu. "Jalan yuk?"


"Enggak! Caramel kamu tuh baru sembuh kita disini aja," Gadis itu mencebikkan bibirnya gemas mendengar penolakan Dave.


"Lagian aku juga udah minum obat." gumam Caramel sebal. "Aku mau jalan! Suntuk tau!" rengek Caramel sesekali ia menarik pucuk rambut pemuda itu.


Mbak Lastri berjalan menuju sofa depan televisi dimana Caramel duduk memangku Dave. Wanita itu meletakkan dua gelas bening berisi jus jeruk sebagai teman makanan ringan mereka.


"Makasih mbak,"


"Iya."


Lalu mbak Lastri meninggalkan kedua sejoli itu sembari tersenyum menatap mereka. Anak muda memang beda kalau sudah masalah percintaan hari-harinya sumringah, batinnya.


"Emangnya kamu mau kemana, hm?" tanya Dave yang mulai jengah Caramel terus merengek dan mengacakan rambutnya.


"Caramel mau…" cewek itu mengetuk dagunya bingung.


"Bingung 'kan?" Dave sudah terduduk disebelah Caramel sembari menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


"Ihh, Caramel mau main!" Dia yang merasa risih menghempas tangan Dave kasal.


Tok, tok, tok


"Assalamualaikum. Caramel, Dave?"


Ck, Dave hanya bisa mendecak ketika mereka mendengar suara dari balik pintu, Sudah dipastikan kalau itu teman-temannya. mengganggu saja!


"Itu pasti mereka," Caramel berdiri hendak membuka pintu namun tangannya di cekal oleh Dave.


"Jangan!"


"Apasih kak minggir," pinta Caramel menyuruh Dave meminggirkan yang menghalangi jalannya.


"Nggak,"


"Minggir kakakku sayang!" rengek Caramel bergelayut manja dilengan Dave dengan senyuman manis dan kedipan mata genit, pemuda tersebut luluh membuat Dave berangsung- angsung memberi jalan kepada Caramel membuka pintu.


Sebenarnya ia masih ingin berdua dengan Caramel tapi yasudah daripada gadisnya itu mengambek lagi. Lagipula dari lubuk hatinya berkata jangan terlalu lama berduaan yang ketiganya setan, Dave tidak mau jika terlalu lama nanti jatuhnya khilaf.


"Waalaikumsalam. Silahkan masuk"


"Loh, kok Caramel? Lo rebahan aja, pasti lo masih sakit kan? Emang ya tuh nek Lampir bener-bener ya, udah tau lo takut ketinggian. Eh malah ngerjain—"


"Sssttt… Lo bisa diem nggak Mel? Panas nih kuping gue dengerin cerocosan lo mulu daritadi,"


"Eh Ehsan anaknya Bambang lo Juga bisa diem gak? Terserah Melda dong, 'kan ia kangen sama sahabatnya. Iya kan Mel?" Jery beralih menatap Melda dengan senyuman dan menaik turunkan alisnya genit.


Plak


"Aduh kok di tampar sih Mel?"


"Berisik banget lo berdua!" lalu Melda berlalu menggandeng tangan Caramel dan masuk tanpa memperdulikan kedua curut itu.


"Rasain tuh! Rezeki anak bobrok haha…" Setelah mengatakan itu Ehsan berlari masuk sebelum terkena amukan Jery.


"Oke, semuanya udah kumpul. Kak Dave, Melda, Kak Jery dan Kak Ehsan, kita pergi yuk?"


"Pergi kemana?" tanya Ehsan.


"Baru aja kita dateng…" keluh Jery asli datangnya kesini itu hanya untuk nongkrong, bermain PS itu saja tidak lebih, sebelum penghuni rumah pulang.


"Udahlah turutin aja guys, emang nih anak susah bilangnya disuruh istirahat malah merengek pengen keluar" sahut Dave pasrah.


"Biarin, aku tuh pengen refreshing kak."


"Ck, emangnya mau kemana sih?"


"Emm, main panahan boleh tuh, gimana?" tanya Caramel tanpa berpikir panjang dia berdiri.


"Oke siapa takut!" Dave berdiri menggenggam tangan Caramel dan menariknya, Caramelpun berjalan sambil bersandar di pundak Dave. Sementara itu ketiga jomblo di belakang hanya mengikuti sembari mengumpati kedua sejoli itu.


"Emang ya, kalau bucin udah tolol singkatannya bulol! Gak bisa liat tempat apa?" gerutu Jery menatap sinis keduanya.


Pletak


"Eh, gak boleh gitu!" kata Melda menjitak kepalan Jery membuatnya mengaduh sakit.


Kelimanya berjalan menuju bagasi dimana mobil Dave terparkir. Jery tak lagi bersuara dia benar-benar mengunci mulut disepanjang jalan menuju tempat latihan pemanahan.


***


Mereka semua sudah sampai di tempat pemanahan. Jery dengan senang hati mengajari Melda dan Dave dan juga Caramel, sementara Ehsan tidak ikutan menembakkan panah biasanya dia yang paling bersemangat kalau urusan memanah, dia yang paling antusias karena cowok itu bisa mengalahkan Jery.


Tapi kini rasanya tidak bersemangat lagi. Ya, kali dia menjadi nyamuk antara mereka berempat. Kedua temannya bersama pasangan sementara dirinya hanya sendiri.


Ehsan hanya memandang mereka menduduki bokongnya diatas ber alaskan karpet memainkan handphone sembari merenungi nasibnya sebagai jomblo ngenes.


Ah dia tau, apa dia harus mengajak Diva kesini. Iya ia harus mengajak gadis itu supaya dia ikut bermain dan tidak lagi di cueki oleh pasangan bucin itu.


Ehsan segera menscoll nomor Diva menghubungi gadis itu agar datang menemaninya dengan begitu ia tidak lagi kesepian.


''Hallo kak, kenapa?'' Beberapa detik akhirnya sambungan terhubung membuat Ehsan lega.


"Ah iya Va, lo sibuk nggak?"


"Enggak, Diva lagi di rumah papa. Kenapa?"


"Emm lo kesini ya?"


"Lhoh, emangnya kakak lagi dimana?"


"Gue lagi dilapangan archery club gue sherlock tempatnya,"


"Oke." Lalu sambungan terputus secara sepihak.


Ucapan daribalik telepon membuat Ehsan bernafas lega kayaknya anak itu tidak terlalu sibuk terdengar dari kunyah dari mulut Diva menandakan gadis itu lagi makan. Setidaknya dia tidak kesepian.


Dave memanahkan busur dengan anak panah tepat pada sasarannya yang sehingga membuat Caramel loncat-loncat kegirangan lalu gadis ingin sekali diajarkan olehnya.