My Childish

My Childish
Jangan Sedih Lagi



"Mbak, tolong siapin air anget ya. Caramel demam" titah Dave


"Baik den"


"Ayah, ibu" gumam Caramel, seraya menggeleng kepala, sepertinya gadis itu mengigo bertemu orang tuanya dalam mimpi.


...-In dreams-...


"Sayang," panggil wanita paruh baya bersama pria paruh baya disampinya seraya menyunggingkan senyum. Tubuh keduanya nampak bercahaya yang dapat menyilaukan penglihatannya.


Caramel menoleh. "Ibu, Ayah!" Caramel segera mungkin berlari memeluk orang tuanya, namun terhalangi karena tangan Ayah nya merentang melarang Caramel mendekat.


Seketika Caramel memundurkan derap langkahnya, heran.


"Caramel!" panggil seorang pemuda gagah mendekat pada gadis itu.


"Kak Dave," Yah, itu adalah Dave. Caramel menoleh kedepan arah pria dan wanita yang mulai hilang dari pandangannya. Perlahan Ayah dan ibu menghilang terbawa cahaya, dan Caramel polos bingung tidak mengingat kejadian 13 tahun silam. Pikirannya masih tetap kekeh menganggap keduanya masih hidup.


"Hiks... hiks.. hiks, Ayah ibu kalian dimana?" teriak Caramel histeris.


"Caramel hey sadar. Ayah dan ibu sudah tiada!" ucapnya.


"Enggak kak! Ayah dan ibu masih hidup. Huaaa.... Ayah ibu!"


...----------------...


"Caramel hey sayang bangun!"


"AYAH! IBU…!" Caramel terbangun dengan keadaan linglung, Dave yang melihat gadisnya itu mengedarkarn pandangannya setiap sudut kamarnya kebingungan menatap tingkah aneh Caramel. "Ternyata cuma mimpi" gumamnya lirih.


"Hai." sapanya.


"Kakak!" Astaga! Caramel baru menyadari keberadaan pemuda itu. "Aku ketemu ayah dan ibu disuatu tempat"


"Itu cuman bunga tidur honey!"


"Iya Caramel tahu, tapi itu kayak kenyataan kak. Ah iya Amel ingat, tadi tuh ayah sama ibu disana. Mereka manggil Caramel" penuturannya menunjuk arah balkom kamarnya.


Dave manarik Caramel kedalam pelukan, menyalurkan kekuatan pada gadisnya.


"Maksud kakak aku harus lupain ayah ibu gitu?"


"Bukan gitu…!" Dave menggaruk kepalanya, tak gatal. Pemuda itu bingung memperjelaskan bagaimana lagi kepada gadisnya yang kini mengerucutkan sebal. "Maksud aku tuh, kamu harus memulai hidup baru. Seperti yang aku katakan kemarin bahwa ayah dan ibu sudah tenang diatas sana!" imbuhnya menjelaskan


Caramel mendogakkan kepala, menatap manik mata hitam pekat milik Dave yang dapat menghipnotis kaum hawa, lalu ia manggut-manggut mengerti. Dave menyunggingkan senyum termanis sembari tangannya mengacak-acak rambut gadis itu, dia berakhir mengecek suhu tubuh gadisnya yang nampak belum turun panas.


"Kamu rebahkan dulu tubuh kamu ya, aku kompres!"


Caramel melepas pelukannya dan kembali ke posisinya semula, merebahkan tubuhnya diatas kasur. Membiarkan pria itu meletakkan kain kecil di atas dahinya.


...*******...


"Dave lo kenapa?," tanyanya


"Pusing gue ngadepin bokap!" gumam Dave. Sekarang Dave berada basement apartemen sepupunya Jery. Jery sendiri baru pulang ketanah air setelah mengikuti ayahnya di perjalanan jauh, dan bersekolah disana. Namun, mulai besok ia pertama kali bersekolah dengan Dave di satu tempat yang sama.


"Om Felix kenapa lagi?"


"Biasa. Semenjak nyokap ninggalin bokap, hidup papa gue terasa sunyi, korbannya sampai di Diva sendiri. Gue kasihan sama dia, tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua belah pihak"


"Gue coba bantu Diva,"


"Gimana?"


"Ya apa lagi, cariin papa lo istri yang bisa menerima lo dan Diva serta papa lo dong"


Pletak


Dave merasa gemas dengan Jery, menyetil kepala sepupu begonya itu. Bisa-bisanya dia mau mencarikan jodoh untuk papanya, ia tahu niat pemuda itu baik. Tapi... Hah jery jery, segitu gampangnya dia mengatakan itu, dasar pria playboy ngenes.


"Main nyentil aja lu, sakit nih"


"Makanya kalau ngomong itu dipikir"


"Maaf"


...****************...