My Childish

My Childish
Demam



Sudah dua hari Caramel mengurungkan diri di kamar membaringkan tubuhnya dikasur queen size nya. Semenjak kejadian kemarin memang Caramel enggan bangun dari kasur tersebut, selain tubuhnya yang lemas suhu tubuh Caramel juga hangat. Tadi Rara sudah mengecek dengan termometer sangat tinggi dan naik 39,9 celsius.


Memang Mike sudah mengatakan jauh-jauh hari bahwa kejadian kemarin tentu membuat Caramel syok dan berujung sakit berhari- hari.


Caramel selalu menolak jika bersangkutan dengan dokter, selain takut di suntik Caramel juga takut divonis penyakit aneh seperti di Tv-tv sinetron yang gak jelas dan juga artikel-artikel di HP yang pernah dibaca nya, apalagi bau-bau obat- obatan yang menyengat dalam indra penciumannya sungguh membuat Caramel pusing dan muntah.


Cklek


"Caramel....."


"AKU BILANG NGGAK, YA ENGGAK!" Caramel langsung menurunkan selimut dari tubuhnya setelah tersadar suara itu bukan suara bariton milik Mike melainkan pemuda yang bernama Dave, kekasihnya.


Disana Dave tersenyum tipis sembari menggeleng menatap gadisnya. Kemudian Dave mendekati gadis yang tidur telentang diatas tempat tidur dengan selimut sampai di dada.


Masih memakai seragam, sepulang sekolah Dave langsung meluncur ke rumah Caramel. Menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangannya, dan tak berapa lama pemuda itu mengecek dengan termometer yang di ambil diatas nakas samping kasur.


"Panasnya gak turun-turun." gumam Dave disertai helaan nafas berat.


"Gimana kondisi kamu?" lalu pemuda itu mengalihkan pandangan ke Caramel.


"Ini semua gara-gara kamu!!" tuding Caramel mencibikkan bibirnya.


"Kok gara-gara aku?"


"Ya, gara-gara kamu lah coba aja waktu kamu jaga aku sesuai perintah kak Mike pasti nggak kayak gini! Aku masih trauma tau, hiks hiks hiks" Runtuh sudah pertahanan Caramel yang menggigit bibir bawahnya untuk tidk menangis dengan menyembunyikan mata kaca-kacanya.


"Kok mewek," ucapannya bergumam dengan dahi berkerut tajam.


"Ya kalau mewek di bujuklah bukan dilihatin! Huaaaa." ucapnya ngegas. Caramel berusaha bangun lalu bersandar di sandaran ranjang, mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah.


Mode sensitif! Dave cepat-cepat menjatuhkan tubuhnya disamping Caramel, memeluknya, dan tak lupa mengeluskan punggung Caramel sayang.


"Minta maaf gak? Aku ngambek sama Dave"


"Iya deh, iya aku salah, minta maaf." pasrah Dave walaupun dalam hatinya dia mengutuk tak salah apa-apa, tak apalah, toh juga pada akhirnya cowok yang harus mengalah. Karena menurut teori yang dibacanya definisi cowok yang selalu salah dan cewek selalu benar bukankah begitu?


"Kita ke RS ya? Dave tuh takut Caramel hiperpireksia," ucap Dave pelan tapi pasti.


"Tap—"


"CARAMEL BILANG DIAM!! Sttttt, jangan brisik!" cepat Caramel menutup mulut Dave lalu seakan-akan menguncinya dengan segel.


"Caramel udah kunci mulut bawel Dave!"


Rasanya ingin sekali tertawa sembari mencubit pipi Caramel gemas, namun saat ini Caramel terlihat sensitif. Oke, Dave hanya tersenyum menahannya.


"Kak, Caramel punya tebak-tebakan, kakak tebak ya. Manis-manis tapi bukan gula, hayo apa?"


"Apa ya? pasir kali?" ngasal Dave jujur saat ini dia malas menebak kecuali gula, 'kan semuanya harus ada gula kalau nggak ya tidak manis, pikir Dave.


"Ihhh, bukan. Selain gula Dave juga manis kok," Dengan malu-malu gadis itu malah menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang pemuda dihadapan nya.


"Bisa aja nih pacar gue"


Caramel mengubah posisinya menjadi bersandar dibahu Dave, "Dave, Caramel mau yang manis- manis tapi bukan gula"


"Aku..." Menunjuk dirinya.


"Bukan! Caramel kan udah setiap hari mengeliat kakak bahkan saking bosannya pengen jitak. Caramel mau susu ih, nggak peka banget,"


"Oke Dave bikinin Caramel susu kedelai." Kedelai? karena Caramel alergi susu sapi.


"Bukan bikin! Caramel mau susu stoberi kedelai itu lho, Dave beliin ya di minimarket depan."


"Sama....." Caramel menggigit bibir bawahnya seakan enggan untuk mengatakannya.


"Sama apa?"


"Beliin Roti jepang!" jujur Caramel cepat 'Kok Caramel jujur banget sih, kak Dave pasti malu beliin yang kek gituan. Ah Caramel nggak mau bikin Dave malu! ' dalam hatinya berkata sembari membekap mulutnya dengan kedua tangan nya.


"Oke." Satu kata yang membuat Caramel speechless. Ini pertama kalinya Caramel menyuruh laki-laki membeli produk wanita macam itu, tapi ini Dave berani membelinya tanpa beban bahkan tak sesuai ekspektasi Dave bahkan santai saja tidak kebanyakan cowok diluaran sana yang bisa saja malu.


...****...