
"Emm....gak sayang"
Mendengar kata tersebut membuat Caramel mencebikan bibirnya sebal, sehingga membuat Dave gemas sendiri 'kan, jadi ingin mencibit pipi gembul Caramel.
Ternyata dugaan Caramel salah, dia tidak sayang dengannya. Tapi untuk apa kasih sayang selama sebulan ini yang di dapat dari cowok itu??... bukankah cowok tersebut yang menyatakan cinta kepadanya!, pikiran polos Caramel.
"Kalau kakak ga sayang Caramel, kakak bisa ko putusin aku.." ucap Caramel lirih, dia sedikit menundukan kepala sembari menggigit bibirnya menahan isakan tangis yang sedari tadi matanya sudah berkaca-kaca.
Dave menengadah kepalanya menatap Caramel dalam, sedangkan Caramel memalingkan wajahnya
"Hey kamu ngomong apa sih, aku bercanda kok," tuturnya terkekeh menangkup pipi Caramel lalu memutar wajah cantik Caramel menghadap agar gadis itu menatapnya, dan berhasil wajah mungil Caramel sudah teralih menatapnya.
Dave langsung mencubit wajah mungil Caramel sampai membuat sang empu mengaduh sakit.
Aw..
"Dave kenapa sih, hobi banget nyubit Caramel!.." omel Caramel menatap jengkel pria yang kini terkekeh geli melihat tingkah laku gadis manja itu.
"Maaf, abisnya pacar aku gemesin. Pingin terus," sahut Dave memperlihatkan senyum termanisnya.
"Lagian siapa sih, yang ga sayang sama cewek secantik kamu," imbuhnya menatap lekat Caramel membuat wajah keduanya semakin dekat.....Hingga..
"STOP!," Caramel menjauhkan tubuh tinggi Dave, hingga pria itu mengerukan dahinya dalam.
"Kenapa?,"
"Ihih… kakak Caramel tuh masih polos, Jadi Amel belum pantes main gituan"
JOS!
Caramel langsung diam membeku dengan seribu bahasa, dia tahu bahasanya sedikit ambigu dan dia terlalu blak blakan.
"Aku cuma mau meluk kamu kok, kek gini," sahut Dave memeluk dari belakang, posisi mereka masih menduduki sofa.
Caramel berdiri masih tak memperlihatkan wajahnya yang basah karena menangis, Dave juga ikutan berdiri. Caramel membalikkan tubuh mungilnya menghadap pria itu, dia langsung saja memeluk pria di hadapannya, karena tubuh Dave terlalu tinggi untuk nya alhasil gadis itu menjinjit guna agar semampai dengan tubuh tinggi tersebut.
Dave yang bingung, mengapa Caramel menangis. Setahunya secengeng-cengengnya Caramel dia juga punya sifat periang, dia tidak cepat menangis seperti ini. Apa Dave ada salah, atau salah kata, atau bagaimana???. Ah udahlah, Dave heran!..
"Kamu kenapa?" bisik Dave tepat samping telinga Caramel, dia membalas pelukan hangat Caramel. Karena posisi mereka masih kayak teletubbies.
"Gapapa, Caramel cuman kangen ayah dan ibu" katanya membenamkan kepalanya di belakang punggung cowok itu.
Dave yang mendengar isak tangis gadis dicintainya, merasa iba. Apalagi dia sudah mendengar dari Mikael tentang Caramel dan kedua orang tuanya, dia tak habis pikir di usia masih sangat kecil Caramel dan Mikael sudah kehilangan kedua orang tersayangnya untuk selamanya. Dan juga Caramel masih sangat labil di usia yang baru saja mengginjakkan 17 tahun ini.
Dave merasakan kesedihan gadis cengeng itu. Pria tersebut mengeluskan punggung Caramel dan mengeratkan pelukan guna menyalurkan kekuatan kala Caramel sedih teringat kisah pilunya Dave Algalasta yang selalu ada untuknya.
"Kamu ga perlu larut dalam kesedihan lagi itu hanya masa lalu, Caramel harus mulai hidup baru seperti apa yang dikatakan bang Mikael kamu harus kuat. Aku yakin kalau kamu bisa mengikhlaskan ayah dan ibu, mereka pasti tersenyum bahagia diatas surga sana, jadi kamu ga usah sedih lagi, aku ikutan sedih lhoh." tuturnya menangkap pipi Caramel dan menghapus benih cair yang terpampang.
Caramel merekahkan senyuman sembari mengulurkan tangan nya menghapus tetes air mata yang memenuhi wajah tampan Dave, memang benar kata pria itu dia juga merasakan kesedihannya.
Yah, Caramel harus kuat, walaupun tak sekuat kakaknya yang baru seminggu ini menjadi seorang suami.
...****************...