
Kata dokter, sebentar lagi Caramel bakalan sadar. Tapi haruskah iya salahkan dokter, kalau sampai malam gadis itu belum ada tanda-tanda akan bangun. Namun itu Dave masih setia menunggu gadis kesayangannya bangun dari tidurnya, sementara Mike sudah sejak tadi dia pulang ke rumah. Jangan salahkan Mike sebagai kakak gadis itu, karena Dave sendiri yang menyuruhnya istirahat.
"Kamu sadar dong, jangan buat kakak cemas"
"Eugh" rengkuh Caramel seraya membuka matanya, dengan cepat Dave mendonggak kepalanya dan terbit senyum ketika Caramel terbangun.
"Kamu udah sadar"
"Kakak?"
"Iya kamu butuh apa hem?"
Caramel mengeleng pelan, tangannya terangkat menyeka pipi Dave. "Kakak kenapa nangis? Udah kak Cara gapapako"
"Kakak cuman minta maaf. Nggak bisa jagain kamu, sampe kamu kayak gini"
"Caramel gapapa kak" ucapnya lagi di sertai wajah polos membuat Dave tersenyum.
"Aku panggil dokter ya, kepala kamu sakit!"
Caramel menahan tangan Dave, lalu menggeleng. "Ga usah Caramel bilang gapapa. Caramel cuma mau kakak disini, temanin aku" lirihnya. Dave mengacak lembut surai perempuan itu.
"Kan kamu bangun dari pingsan, seharusnya kamu di periksa dulu"
"Caramel nggak pingsan"
"Hah"
"Eh, maksudnya, sebenarnya tadi Caramel udah sadar. Tapi karena Caramel pura-pura nutup mata, terus akhirnya pulas deh tidurnya, hehehe"
"Ada-ada aja." Dave tertawa kecil melihat Caramel yang imut.
"Kakak sini deh dekat Caramel, bobo. Caramel mau di bacain dongeng sama kakak" Entah kenapa tiba-tiba Caramel ingin di bacakan cerita, kan Caramel baru bangun dari tidurnya. Kok mau tidur lagi?
Sembari menepuk-nepuk tempat tidur sebelahnya.
Dave mengangkat alis sebelahnya, namun ia tidak menolak. Dave mengambil buku dongeng kesukaan gadis itu di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya samping Caramel.
"Tumben, mau tidur lagi?"
"Gak, cuma mau denger kakak cerita." ucapnya senyum merekah.
"Kak," panggilnya, sembari menggigit bibir bawahnya meragu.
"Kenapa?"
"Lanjut aja deh kak, nggak ada apa-apa!"
"Bener?" tanya Dave memastikan. Pasalnya dia melihat Caramel nampak ragu untuk mengatakan apa yang ingin gadis itu ucapkan. Namun, Caramel menggeleng sembari tersenyum simpul menandakan bahwa gadis itu tidakpapa.
"Kebiasaan." Sedikit curiga sih, namun Dave pintar menyembunyikannya, pria itu hanya mengacak rambut itu dengan gemas.
"Kakak yang kebiasaan, berantakan tau!" cemberutnya.
"Udah berantakan."
Ish. Caramel mencibiri Dave dalam hati.
Dave membuka sampul buku cerita Caramel, mencari laman yang belum Caramel baca, dengan gadis itu menunjuk.
"Pada suatu hari-" Awalnya Dave mulai bercerita, sebelum ada perempuan mengagetkan mereka berdua dengan pekikannya, membuat Dave kesal.
"Astagfirullah!" pikiknya mereka berdua. Seorang dua gadis tersentak serta terkejut, ketika memasuki ruangan Caramel. Pasalnya tadi dilihat posisi Dave dan Caramel saling bertatapan. Tidak masalah sih cuma tatapan, tapi ini Dave membisikkan sesuatu sembari memegang buku.
"Putar balik Diva!" sentaknya.
"Ini juga putar balik kak!" serkas Diva.
"Astaghfirullah al-adzim Ya Allah, mimpi apa hamba semalem. Mata hamba ternodai!" gumamnya menggerutu.
Tentu kejadian ini membuat Dave mendengus kesal.
Brukk
Gadis sekiranya seumuran dengan Caramel menunduk sedari tadi, tertabrak seorang pria tinggi kayak tiang listrik. "Lo!!" kagetnya membulatkan matanya sempurna menatap orang itu. Hampir sama dengan pria di hadapannya, namun juga terbesit terpesona pada gadis di hadapannya. Sementara dua sepasang mata menatap mereka berdua dengan santai, seakan sudah saling mengenal satu sama lain.
"Melda." Dengan semangat empatlima pria memanggil nama perempuan di hadapannya, tak lupa dengan mengangkat sudut bibir, senyum.
...****************...