My Childish

My Childish
Salah Paham



Bel istirahat pertama sudah berbunyi, kini kelas 12 IPA 1 sudah mulai sepi dikarenakan semua murid langsung meluncur ke kantin. Berbeda dengan Dave yang masih berkutat dengan Ipad nya, ada berbagai pekerjaan yang harus ia urus.


"Dave ke kantin yuk, lapar nih gue" ucap jery sembari memegang perut nya yang keroncongan, cacing pada demo.


"Ho'oh sama, yuklah!" timpal Ehsan.


"Kalian duluan aja, gue masih beta ngerjain ini"


"Kerjain apaansih?"


"Lu nggak tau aja, gimana bos Dave."


"Cielah, udah jadi bos lo. Perusahaan mana?"


"Kepo banget sih lo." ketus Dave tanpa melihat sepupu nya.


"Yaudah sih. Yaudah lo nyusul ya Dave, gak bisa diajak kompromi ni lagi perut gue."


"Jangan lupa nyusul, jangan kerjaan mulu"


"Yo.."


Jery dan Ehsan berjalan meninggalkan Dave yang masih saja berkutat dengan ipad nya, sampai dia rela meninggalkan jam makan. Tapi tenang saja, kata dia menyusul.


Sesampai ke kantin, semua mata siswi pada jelalatan menatap dua orang itu, Jery dan Ehsan. Memang sih mereka berdua famous di sekolah ini, bahkan sejak pertama masuk di sekolah ini. Buktinya, jery yang baru kemarin masuk sudah mendapat julukan itu.


Jery tersenyum manis melihat para siswi menatap nya mempesona.


"Kenapa lo?"


"Banyak cewek cantik San." bisiknya. Sudah berulang kali Jery ucapkan itu kepada cowok tinggi di depan nya kecuali Dave.


"Gue pecek nanti mata lo, supaya nggak jelalatan." kata nya Ehsan ketus, menatap sepupu sahabat nya sekaligus sahabat nya itu tajam dan memutarkan mata nya jengah.


"Yaudah sih San, maap." celetuk Jery, menakutkan juga cowok satu ini kalau marah lebih nyeremin daripada sepupu nya.


Masih di pintu kantin, keduanya memutarkan mata nya ke seantero kantin. Pasalnya sedari tadi kantin sudah penuh, jadilah mereka terlambat ke kantin. Gara-gara Dave sih.


"Kak, sini" teriak salah satu murid melambaikan tangan.


"Okey."


"Mau kemana lu?" tanya nya menyerkas Ehsan.


"Kesana."


"No no no, kita disana aja!"


"Kan disana banyak cewek cantik San!" ucap Jery melangkah satu langkah tapi keburu Ehsan menarik kerah seragam Jery.


"Kemana?" tanya lagi Ehsan jengkel.


"Ke sana!"


"Gue bilang kita stay di sana nungguin Dave, ngapain lo kesana!"


"Iya-iya ah lepas."


"Bagus, jadi anak penurut"


"Mamak lo nggak ada disini pea, noh cari dirumah lo"


"Lah ngapain lo bilang anak?" tanya Jery mengumpat.


"Pe'a lu," Ehsan berjalan mendahului Jery sambil melipat tangan di dada.


"Woy tungguin!" Jery mengejar Ehsan yang sudah berjalan duluan ke tempat pojok bekas para siswa tadi.


Sesampai tempat duduk, pemuda itu langsung memesan makanan. Terlebih dahulu Ehsan pamit kepada Jery untuk ke toilet.


"Eh lo sini sebentar"


"Kenapa kak?"


"Lo tolong dong, mintakin nomor ponsel cewek disana" ucap Jery menunjuk ke arah meja bersebelahan dengan tempat duduk nya. Terdapat dua cewek cantik yang sudah siap menyantap makan nya, dan Jery menunjuk cewek chuby dan gerai panjang disana.


"Makanan udah datang" ucap seorang gadis kepada Caramel, manaruh nampan depan maja Caramel dan dirinya.


"Wah banyak banget Mel" cetus Caramel mengeliat makanan di hadapan nya.


"Iya dong, kan gue yang traktir"


"Makasih Melda"


"Sama-sama, yaudah makan. Nanti gue yang dimarahin Dave lho kalau sampe maag lo kambuh"


Selang beberapa menit dari Ehsan ke toilet, Dave sudah tiba di kantin dan langsung menghampiri sahabat dan sepupunya. Namun sebelum itu Dave mendengar suara tamparan berasal dari tempat duduk pojok sana.


"Adik kelas songong ya, kenapa lo nampar gue?"


"Karena lo salah kak, lo suruh Sena buat cari tau ukuran Caramel" bentak Melda kesal kepada cowok yang bernama Jery, tapi yang dia tahu cowok depannya itu siswa baru dan pasti nya adalah senior.


Bug


Dave langsung melayangkan bogeman kepada sepupu nya setelah mendengar perkataan Melda bahwa Jery menanyakan Caramel ukuran cewek itu.


"Lo apain Caramel"


"Dave!"


"Caramel itu pacar nya Dave Jer.." bisik Ehsan tepat samping telinga Jery yang sudah merinding menatap Dave yang sudah berubah menyeramkan dari sebelumnya.


Glek..


Jery menelan saliva nya matanya melayang kepada Dave yang menatap tajam ke arah nya.


"Kenapa lo nggak bilang!" greget Jery. Pantas saja tadi Dave tanpa aba-aba menghajar nya, karena ini toh.


"Gimana mau gue bilang si Melda langsung nampar lo"


"Maaf Dave gue salah,"


"Sekali lagi lo nyakitin sahabat gue, awas lo ya gue pecek-pecek lo!"


"Udah Mel"