
Seketika Dave balik menatap papa nya yang kini bersekedap tangan di dada santai.
"Bener pah, yang Di bilang Sena benar? Jadi selama ini papa khianatin mama? Aku benar-benar kecewa sama papa."
"Mama kamu udah mati!" ucapnya santai disertai ekspresi datar.
"Owhhh, jadi selama ini papa sudah menerimanya selama 10 tahun papa kemana saja? Menangisi kepergian mama, mengurung diri setelah kepergian mama, merasa tersakiti atas kepergian mama. Tapi aku tidak habis fikir sama papa," sahut Dave. "Pemuda itu mengatakan, dia adalah anak kandung papa. Berarti, selama ini papa berkhinat. Selama BERTAHUN-TAHUN, Brengsekkk.." imbunya berumpat nya tanpa menyebut nama Sena.
"Jaga omongan kamu, aku ini orangtua kamu"
"Orangtua dari mana? Orangtua hanya mementingkan diri sendiri, orangtua yang tidak ada disaat anak nya butuh, iya. Aku kecewa sama papa!" Dave berlalu pergi dengan keadaan gusar dan nafas terburu-buru.
"Aku kecewa sama papa!" tekan Diva.
"Caramel kamu tenangin Dave!"
"Iya kak" Caramel dan segera berlari menghampiri Dave dengan menggandeng tangan Diva yang masih menatap kecewa papa nya. Dan diikuti sepasang suami istri itu. sementara orang-orang yang berada di restaurant itu mulai terdengar bisik-bisikan, pasalnya Felix cukup terkenal di kalangan bisnis, jadi tidak heran bahwa banyak yang mengenal pria berkepala 4 itu.
"Ini semua gara-gara kamu." ketus Felix seraya mendelik tajam kepada Sena.
"Kenapa aku?"
"Karena kamu membuat kekacauan ini"
"Bahkan aku tak mengenali dia pah."
"Gak usah sok pura-pura tidak tahu, papa sudah tahu bahkan kalian satu sekolah kan. Arghhh..Sial" cibir papa Felix meninggalkan Sena, linglung.
'Ini semua gara-gara elu Dave' batin Sena bergumam, geram, dia tidak terima perkataan papa nya itu pun menyalahkan Dave.
"Kak," Panggil Caramel dan Diva serentak langsung mendekat Dave dan tak lupa juga Caramel memeluk pemuda rapuh itu diikuti oleh isakkan Diva. Biarpun dia tidak pernah sekalipun melihat wajah ibundanya, Diva bisa lihat ketulusan mama nya lewat mata kakak nya, sangat tulus kepada papa nya.
"Kak, kakak jangan sedih terus, Caramel ikut sedih lho" celetuk Caramel menggunakan jurus bibir nya yaitu mencebikkan nya membuat Diva terkekeh gemas, ya, itulah jurus manja Caramel yang semua orang melihatnya langsung gemas. Terbukti Dave langsung tersenyum tipis menatap gadis di samping nya. "Kak, kita ke biokop yuk." ajaknya cukup antusias.
"Emang kamu berani nonton horor, karena aku suka lho flm horor?" tanya nya sedikit membuat gadis itu takut, dan benar saja gadis itu menjadi gelagapan dan sedikit tegang.
"Ya-ya terserah kakak, lagian ada kakak kan yang ngejaga Caramel"
"Diva" rayu Caramel bergelayut manja pada gadis di sampingnya.
"Ya udah deh Diva ikut."
"Makasih Diva, Hi uwuuw deh,"
"Apasih kak."
"Ayo." Caramel langsung menarik tangan Diva kearea bioskop, sementara Dave tersenyum melihat dua gadis yang di cintainya berlari begitu antusias nya. Pria itupun berlalu membeli tiket serta popcorn
Film sudah di mulai, Dave diampit oleh kedua gadis itu. Tak berapa lama kemudian penonton mulai tegang dan sebagian menutup mata saat sosok makhluk halus menampakkan wujud nya, termasuk Caramel tapi tidak dengan Diva biarpun dalam hati gadis itu cukup takut tapi kelakuan nya tidak seperti Caramel yang sebentar- sebentar bersembunyi di balik dada bidang Dave, membuat nya sedikit terhibur.
"Gimana seru nggak?" tanyanya setelah mereka keluar.
"Setannya jelek, kayak kakak!" umpat Caramel dan di sambut gelak tawa Diva.
"Kok kayak aku?"
"Emang kayak kakak, jelek!"
"Siapa suruh kamu nonton horor!"
"Niatnya sih aku mau hibur kakak! Tapi akunya malah ketakutan." cibirnya memberengut kesal.
"Iya deh, iya aku salah, makasih hiburannya Caramel sayangku, cintaku!"
"Hem, gitu dong. Sama-sama kak Dave ganteng!"
"Dahlah banyak nyamuk disini" sungut Diva mendengus sebal, berada ditengah-tengah keduanya.
"Dih iri," ledeknya membuat Diva mendengus kesal pada kakak laki-laki nya itu.
***