My Childish

My Childish
Mimpi Indah Caramel



"Dari mana aja kamu?," tanya papa Dave bernama Felix. pasalnya sudah jam begini anaknya baru pulang dan dengan sekenanya dia berlalu begitu saja melewati papanya.


Pertanyaan Felix langsung memberhentikan langkah Dave. Pria itu berbalik, menatap balik sorot tajam mata papanya dengan santai.


"Jam segini baru pulang, kamu pasti abis nemuin anak cengeng itu 'kan" ujar Felix


Dave hanya cuek, tidak menghiraukan perkataan papanya, dia berjalan menaiki tangga tanpa mengubris papanya yang saat ini mendesah frustasi.


"DAVE! PAPA BELUM SELESAI!" tariaknya marah dengan menatap nanar anaknya menaiki tangga.


Frustasi melihat kelakuan anak sulungnya itu. Istrinya sudah meninggal ketika tabrakan di masa lalu, kejadiannya sudah 10 tahun yang lalu, semenjak adik Dave masih kecil. Membuatnya harus menjadi ayah sekaligus ibu untuk Dave dan adiknya. Untung saat itu ada bi Inah yang membantunya mengurus serta menyayangi anaknya sampai segede ini, sampai Dave berusia 18 tahun dan sang adik 10 tahun. Tapi Bi Inah sudah Tiga tahun yang lalu meninggal, karena penyakit mematikan yang di deritanya, hingga membuat Dave, dan adik perempuannya Diva hidup tanpa kasih sayang dari seorang ibu.


"Kak! kakak bisa nggak sih denger papa sedikit aja,"


"Kakak cepak, bisa minggir nggak" katanya seraya menyuruh adiknya agar dia segera merebahkan tubuhnya yang lelah. Diva yang mengerti Dave lelah langsung menghindarkan dirinya membiarkan kakaknya istirahat. Dave menarik tali ranselnya, membenarkan tas yang bertengger dipunggung itu.


Dave merebahkan dirinya di ranjang king size miliknya, merasakan kantuk yang menjalar di kelopak mata, perlahan pria itu menutup matanya pelan-pelan. Tak lama dengkuran halus terdengar menandakan, kini Dave tertidur pulas. Padahal seragam sekolah masih membungkus tubuhnya.


Tadi di dalam mansion Caramel, dia menunggu gadis itu tidur siang. Sebelumnya dia sempat menyiapkan cokelat panas untuk Caramel. Karena Dave tahu bahwa selesai makan siang, Caramel selalu ingin di buatkan cokelat panas. Tapi ini belum juga makan siang, Caramel sudah ingin cokelat panas. Kata Mikael kepada pria itu tentang Caramel, bahwa dia harus menuruti mau gadis tersebut. Kalau tidak Caramel bakal demam berkepanjangan. Karena itu mau tak mau Dave harus menuruti keinginan Caramel, ingin cakelat panas, walaupun gadis itu belum makan siang. Percuma saja gadis itu dipaksa, kalau ini keinginan mutlak gadisnya. Bisa-bisa gadis itu beneran demam, pikir Dave.


******


Pagi hari, Dave sudah siap dengan seragam dan berbagai lainnya. Pria itu menuruni anak tangga menuju ruang makan. Disana sudah ada Diva yang sedang menyantap nasi goreng di hadapannya, dalam diam tanpa ada siapa pun selain perempuan itu.


"Papa mana?"


"Udah berangkat kak, dari pagi"


Dave menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Selalu saja begitu, pikirnya.


"Sudahlah kak. Gapapa" tutur Diva tersenyum manis. Sebenarnya gadis itu sedih, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari sang ibu. Eh…masih ada sang ayah, sama saja. Kalau boleh jujur, dia sangat merindukan mamanya yang sudah tiada, apalagi Diva tak pernah melihat wajah ibunya semenjak dia sudah beranjak dewasa. "Yaudah kak, kakak Dave duduk gih" imbunya sembari menarik kursi untuk kakanya.


Dave mengacak rambut gerai adiknya sembari menduduki kursi sebelah dimana adiknya menikmati sarapan paginya.


"Kamu cepetan ya. Kakak antar kamu,"


"Kakak mau anterin aku?" tanya Diva dengan antusias. Antusias, pasalnya Dave hanya mengantarnya seminggu sekali. Selama ini Diva hanya diantar oleh supir papanya.


"Iya, cepat gih. Habis ini kita jemput Caramel" sahutnya menduduki sofa seraya menunggu adiknya yang kini sudah memasang mengikat sepatu.


Diva memberhentikan sejenak tangannya, mengangkat tangan. Gadis itu mengacungkan jempol, oke.


Mobil Dave sudah memasuki pekarangan rumah besar di hadapannya dan di sambut oleh Caramel yang baru saja keluar balik pintu besar.


"Kak, aku disini aja ya." ucap Diva memegang HP di tangannya, memainkan handphone. Bukan apanya, dia hanya tidak mau mengganggu dua sejoli itu. Diva tahu sendiri Caramel 'kan selalu menyambut Dave dengan pelukan hangatnya, jadi dia tidak mau menjadi nyamuk dihadapan mereka berdua


Dave mengangguk. Diapun segera menghampiri Caramel yang sedang menunggu di teras berpetak itu.


"Jangan lari. Nanti kamu jatoh" titah Dave dan disambut cengiran bodoh gadis yang kini menghampirinya.


"Kak"


"Hm"


"Tadi malam, aku mimpi indah tau" ucapnya seraya senyum lebar terlihat jelas di wajah mungilnya, sampai mata melengkung bulan sabit.


"Mimpi apaan" kini Dave penasaran apa yang dimimpikan gadis kecilnya itu. Sambil menuju, dia menggandeng tangan Caramel menuju mobilnya.


"Nikah sama kakak"


"Hah" cengo Dave. Astaga! Pria itu tak habis pikir, mengapa gadisnya yang polos ini berpikiran sampai kesitu. Mereka masih SMA. Seketika otaknya blank kemana-mana.


...----------------...