My Childish

My Childish
Guru Les



Dave berjalan menuju kantin bersama teman dan sepupunya. Tengah perjalanan koridor IPA dia melihat Novita dibentak oleh seorang pria paruh baya di depan ruang guru dan dia yakin itu ayah Novi.


Dave bergegas menghampiri keduanya. Novi hanya diam dan tunduk menatap kedua sepatunya, matanya sudah berkaca-kaca.


"Om?"


"Dave" tuntu saja daddy Novi mengenal anak muda depannya, dia adalah anak Felix Algalasta teman bisnisnya.


"Ini bukan urusan kamu!" Ketusnya seperti yang sudah beliau duga Dave akan menanyakan apa yang terjadi.


"Maaf om saya ikut campur, kalau boleh tau ini ada apa?" Benar sudah dugaannya anak itu pasti mempunyai keingintahuannya. Di sisi lain juga daddy Novi sangat menghormati Dave, tapi maaf kali ini daddy Novi dalam keadaan kecewa akan nilai Novi.


"Dav tolongin gue" Hanya itu yang keluar dari bibir Novi dengan lirih, dia sedikit melirik ke arah ayahnya.


Dave adalah orang yang peka, meski kadang sikapnya berubah sangat datar dan dingin. Tapi itu dia tahu permasalahan ayah, anak itu. Karena itu dia mengangguk pelan, "Saya akan menjadi guru les Novi om." Ayah Novi yang tadinya kecewa kepada anaknya, sekarang sedikit lega. Untung ada Dave, sebenarnya bisa saja dia menyewa guru privat untuk Novi hanya dia terlalu sibuk. Sudut matanya menatap Dave penuh wibawa, dia juga tahu Dave anak yang pintar dipastikan Novi bakal senang diajar olehnya apalagi Dave dan Novi teman sekelas.


"Dav cepetan napa, lo jalannya lelet banget sih!" gerutu Jery katanya menoleh kebelakang namun di belakangnya hanya ada Ehsan yang termenung.


"Eh Dave mana?"


"Gak tau"


"Lho kalian berdua kan yang jalan beriringan, terus kemana tuh anak?"


"Gak tau" Ehsan kembali termenung.


"Nggak tau apa perut gue udah demo nih, elah!"


"Gak tau"


"Lha lo kenapa sih sadar apa pura-pura bego, semua aja gak tau!" umpatnya dengus.


"Ya emang gue ga tau!" beo Ehsan sangat menjengkelkan.


"Tau ah, kesel gue" dengusnya. Jery menghentak-hentakkan sepatunya menyusuri lantai kantin.


"Dihh napa tuh anak, menstruasi kali ya?" tanya pada diri sendiri sambil menggeleng kepala. Diapun menghampiri Jery.


***


Pulang sekolah Novi terus menggandeng lengan Dave posesif dan itu membuat sang empu risih di tatap sebegitunya. Ini kalau Caramel tau nih dia pasti Jealous lagi sudah dipastikan. Untung tidak ada si duo curut dan temannya Melda wanti-wanti, dan sekolah juga tidak begitu ramai sesuai rencana Dave.


Disini lah depan pagar rumah berjulang tinggi tambah besar bak eropa desain interior kuning keemasan. Ini pertama kali Dave ke rumah Novi itu tidak merubah wajahnya berubah tetap datar. Apa yang dirubah senang? Dave hanya berdecak kagum dalam hati menatap bangunan gagah itu lewat kaca mobil.


Maid membawa dua gelas jus jeruk dan di sajikan di meja ruang tamu depan Dave.


"Okey kita mulai belajarnya" sahut Novi menuruni anak tangga dengan cepat menghampiri Dave.


Dave menoleh kebelakang melihat Novi yang sangat antusias membuatnya lega.


"Ayo"


"Mau kemana lu?"


"Sofa depan TV"


"Nggak kita ke taman aja. Nanti lo keseringan nonton daripada belajar"


Novi hanya mengikuti Dave dengan gusar keluar di taman rumahnya, pemuda itu tau aja apa yang ada dipikirannya.


"Gimana lo paham gak?" Panjang kali lebar Dave menjelaskan kepada gadis di hadapannya. Pertama mapel matematika, pelajaran membuat Novi bosan tapi ini gurunya Dave jadi dia yes yes saja meskipun terpaksa.


Novi mendapat pertanyaan hanya mengangguk.


"Sekarang lo kerjain ini, kalau lu belum paham lo tanyain gue"


Lagi-lagi Novi respon mungut-mungut ngasal.


"Dave kalo yang ini caranya gimana ya?" Novi menunjukkan satu pertanyaan.


...****...