
"Stop, stop"
"Kenapa?"
"Gue turun disini aja."
"Kan rumah lo disana?"
"Gue bilang, gue mau turun disini!"
"Iya iya," Dengan pasrah Jery menepikan mobilnya di pinggir, padahal dia mau mengantar Melda sampai depan rumah sekalian temu orangtua cewek itu.
"Makasih ya udah anterin gue!" Sebelum turun Melda berbalik menghadap Jery sembari menyunggingkan senyum.
'Duh gue dikasih senyum, manis banget.' gumam Jery tak berkedip sekalipun, kemudian dia tersadar dan memberikan senyum balasan yang tak kalah manis.
"Sama-sama"
Melda ingin membuka pintu mobil, akan tetapi dia urung karena tangannya di cekal oleh Jery.
"Kan ini masih hujan, nih" Jery mengeluarkan payung dari dashboard mobilnya, lalu menyondorkan kedepan Melda.
"Nggak usah, rumah gue udah dekat. Udah gapapa" Melda menolak sacara halus.
"Buat lo aja, gue gak mau lo kena setitik air hujan sedikitpun" celetuk Jery memperlihatkan gigi ginsulnya.
Tak dapat di pungkiri, Melda tertegun sebentar. Tarpesona kepada cowok di hadapannya. Melda menautkan kedua alisnya. "Terus lo, kan mobil ini cuman ada satu payung. Em, menurut prediksi gue sih, hujannya bakal lama!"
"Gue rela kok, hujan-hujanan demi lo" Oke, dalam semenit ini Melda menunjukkan tampang polosnya depan Jery. "Lo tunggu disini gue bukain lo pintu" Jery keluar dengan membawa payung lalu berputar kesembarangan arah pintu samping pengemudi.
"Makasih kak payungnya"
"No problem, kembali kasih" sahutnya senyum.
Jery kembali kedalam mobil dan membunyikan klakson.
"Hati-hati kak!" arahannya. Jery melambaikan tangannya tapi tidak menurunkan kaca.
Melda tersenyum tipis menatap payung berwarna tosca ditangannya.
****
"Kak,"
Dave yang baru dari dalam, langsung menghampiri brankar Caramel dan menaruh mangkuk di nakas, mengambil kursi dan duduk depan Caramel.
"Ehm," Perlahan Caramel menundukkan kepala. "Aku cuma mau bilang jangan terlalu lama marah sama om Felix, mau gimanapun om Felix tetap ayah kakak!" cicitnya memainkan jemarinya.
Dave tersenyum tipis walau samar, "Kamu istirahat, besok kita pulang pagi-pagi." alihnya.
Caramel mengangkat wajahnya, "Besok kakak gak sekolah?"
"Sekolah kok, cuma setelah nganter kamu"
Caramel mengangguk pelan. Menidurkan tubuhnya, dan perlahan matanya tertutup pulas.
Dave berjalan menuju sofa, duduk memikirkan apa yang dikatakan Caramel. Tangannya morogoh suku mengambil benda berbentuk pipih miliknya. Segera pemuda itu mencari kontak seseorang, setelah sudah tersambung dia menempelkan handphonenya di telinga.
"Bro gua minta tolong"
"......"
"Tolong cari informasi tentang kenapa bokap gue sampe nikahin mamanya Sena"
"......"
"Oke thanks." Dave mematikan sambungan telepon lalu menyimpan ponselnya di saku celana. Dave mengusap wajahnya disertai helaian nafas gusar, kemudian dia mengambil posisi diatas sofa mencoba tidak memikirkan tentang masalah orangtuanya.
****
Matahari tampak malu-malu menampakkan sinarnya, dapat dirasakan seorang pemuda membuka gorden ruangan. Meski ini bukan terlalu pagi, tetapi mata Caramel mau tak mau harus ia mengerjapkan.
"Kamu sudah bangun?" Terlihat depannya, seorang pria sudah siap dengan seragam putih lengkap dan rapi seperti biasa. Memang jam segini Dave sudah terbangun dari tidurnya, dan langsung mandi, walaupun cuaca dingin.
Kadang Caramel bingung Dave bisa bangun sepagi ini, sedangkan dia masih sangat malas membuka matanya kalau masih sepagi ini. Mungkin karena faktor orang rajin kali ya.
"Dah, kamu siap-siap terus kita pulang."
"Kak Mike mana?"
"Mungkin bentar lagi juga dateng." Dave membantu Caramel berjalan.
"Ga usah kak aku bisa sendiri."
Dave mengangguk.
...…...
...…...