My Childish

My Childish
Apapun Untukmu



"Beliin Roti Jepang!" jujur Caramel cepat ' Kok Caramel jujur banget sih, kak Dave pasti malu beliin yang kek gituan. Ah Caramel nggak mau bikin Dave malu! ' dalam hatinya berkata sembari membekap mulutnya dengan kedua tangan nya.


"Oke." Satu kata yang membuat Caramel speechless. Ini pertama kalinya Caramel menyuruh laki-laki membeli produk wanita macam itu, tapi ini Dave berani membelinya tanpa beban bahkan tak sesuai ekspektasi Dave bahkan santai saja tidak banyak cowok diluaran sana yang bisa saja malu.


"Kakak tau apa itu Roti jepang?"


"Roti jepang 'kan? Nanti aku ke Jepang ya beliin kamu Roti." Diluar dugaan Dave yang terbilang Caramel pasti senang, malah gadisnya ingin ketawa dibalik tangan membungkam mulutnya, lebih tepatnya tahan ketawa. Ucapan polos menarik yang pernah Caramel dengar.


"Bukan itu ihk, hahaha..."


"Kok kamu ketawa? Aku nggak lagi ngelawak loh, aku serius sayang." bingung Dave.


"Aku juga serius,,"


"Terus?"


Caramel mendekati lalu membisikkan sesuatu diluar nalar Dave yang membuat pemuda itu ikutan syok berat, "Beliin aku softex, dong?" cicit Caramel sembari mengatupkan kedua tangan nya.


Tidak langsung menjawab pemuda itu diam membeku seribu bahasa, mencerna kata-kata yang keluar dari bibir mungil gadis dihadapan nya. Ya seperti mencari jawaban yang paling tepat membuat Caramel senang mungkin?


"Apapun untuk kamu,"


"Cihh, bisa aja nih pacar gue." ucapnya mengikuti gaya bicara Dave.


"Udah berani ngikutin ya," Tangan Dave terangkat mengacak-acak rambut Caramel lalu memeluk kepala gadisnya dan mencium pucuk kepalanya. Setelahnya dia menoel-noel hidungnya sampai Caramel risih. Kebiasaan deh, batin Caramel mengumpati Dave.


***


Dave masuk ke minimarket dia langsung masuk mendorong pintu kaca dan menghampiri meja kasir disana ada wanita muda yang hampir seumuran dengannya memakai baju biru dan merah khas warna minimarket tersebut.


"Permisi,"


"Selamat datang, ada yang mau dibeli?" Seorang kasir itu tersenyum cerah ketika mendapatkan pembeli bening nan tampan seperti pemuda dihadapannya.


"Ekhem" Terlebih dahulu Dave menetralkan tenggorokannya supaya nggak gugup, pikirnya. "Saya beli pembalut" ucap Dave datar dan itu membuat senyum perempuan penjaga kasir seketika lenyap berganti wajah penuh kecanggungan.


"Pem— Pembalut?" gumamnya mengerjapkan matanya berulang kali, syok masa anak SMA pria membeli pembalut baru kali ini dia mendapatkan pelanggan seperti pemuda itu. "Maaf mas kalau boleh tau buat siapa ya?"


"Mau istri saya, pacar saya kek, terserah saya Mbak. Kepo!"


"Maaf mas saya lancang," perempuan tersebut tersenyum kikuk menciut mendapatkan peringatan ketus dari Dave.


"Saya buru-buru!" sambung Dave.


Kasir itu bertambah tersenyum bodoh penuh penyesalan menanyakan hal yang terlintas di benaknya pada akhirnya dia kecewa sendiri karena pemuda dihadapannya ternyata sudah mempunyai pujaan hati atau bahkan istri. Sungguh bodoh manjatuhkan harga diri saja, pikirnya.


"Yang ukuran berapa mas?"


"Ukuran? Panjang kali lebar." jawab asal Dave bibenaknya ingin cepat-cepat pergi itu saja.


"H—hah"


"Tunggu apa lagi?"


"Maaf mas ya—ng sayap atau一"


"Sayap emang pacar saya mau kemana? Ah udahlah terserah mbak saja"


"Apa saja."


Keluar dari minimarket Dave membawa semua kantong plastik ke mobilnya dengan susah payah. Cowok itu membuka bagasi lalu mengangkat semua kantong plastik berukuran besar karena tadi Mbak-mbaknya cerewetnya minta ampun jadinya Dave memborong semua merk, dan katanya produk baru toko itu jangan di tanya Mbaknya senyum-senyum pastinya produknya diborong olehnya.


Tak berapa lama dari itu ada yang menepuk bahu Dave, "Dave, ngapain lo disini?"


"Kalian ngapain disini?"


"Ye ditanya malah nanya…" Ehsan memberengut kesal terhadap Dave. Sementara itu Jery disamping mereka berdua menahan tawa setelah mengintip kantong kresek besar didalam bagasi.


"Anjir banyak banget tuh, lo habis ngeborong? Buat istri lu ya Dave? Wahh parah banget lo gue laporin ke Caramel kalo lo selingkuh baru tau rasa lo."


"Maksudnya?"


Ehsan menyikukan perut Jery memberi kode kalau cowok itu harus diam.


"Hah, lupain Dave."


"Lhah kalian sendiri dari mana?"


"Lo buta apa gimana? Gue tadi merhatiin lo terus, emang lo nggak nyadar?" Dave menggeleng polos.


"Eh tadi gue beli obat penghalang bikin debay" ujar Jery pelan.


"Anjeng, lu ngapain anak orang Jer?" pekik Ehsan membuat perhatian orang yang berlalu lalang menatap mereka bertiga.


Plak


"Dengar dulu pe'a..." sungut Jery menoyor surai hitam Ehsan yang membicara sembarangan dan omong kosong tentangnya.


"Sakit ogeb." aduh Ehsan seraya meringis memegang kepalanya.


Dengan tak peduli Jery dengan santai melanjutkan ucapannya mendekati keduanya, "Kemarin mama gue sama papa gue一 ehem, kata nyokap gue biarpun papa gue udah tua tapi dia, ah mantep masih kuat segala gaya di praktekin anjirr...."


"Gaya apaan njir? Bikin bulu gue jadi merinding aja,"


"Jangan dipotong dulu..." Ahay kok Ehsan sok polos gini "Jadi makanya gue kesini buat beliin mama gituan, ambigu banget jadi jyjay gue" gumam Jery.


"Terus lo ngapain San?"


"Gue habis beliin dede emes gue obat sakit maag"


"Cie-cie San, lo udah punya gandengan?"


"Siapa bilang gue punya gandengan, jangan mikir macam-macam," ketusnya.


"Udah ah gue mau cepat-cepat takut Caramel nungguin!"


"Oh." serentak mereka lagi.


'Etdah, gue punya teman pada somplak-somplak semua ' Gumam Dave pemuda itu cepat-cepat mengendarai mobilnya sebelum dia ikut nggak waras kayak sepupu lucknat nya.


***