
Setelah mengatakan itu Melda menemui tiga cowok, siapa lagi kalau bukan Dave cs.
"Dimana Caramel?"
"Dia lagi temanin lalat eh- maksudnya Lala ke arah hutan, katanya sih buang hajat."
Jery dan Ehsan terkekeh dengan nama yang disematkan Melda.
"Mel, Mel si nyamuk mana?"
"Nyamuk,"
"Teman si lalat."
"Tuh!" Melda menunjuk Novi dengan dagunya
"Kok bukan dia yang nemenin si Lala?" ucap Dave serius tanpa menghiraukan sepupunya yang lagi bercanda.
"Tau tuh!" Melda mengangkat bahunya acuh.
"Kok perasaan gue gak enak ya?" gumam Dave, cowok itu dengan segera beranjak dari kursi panjang terbuat dari balok kayu itu cepat tanpa memerdulikan ketiganya.
"Eh Dave lo mau kemana woi"
"Kita ikutin aja yuk?"
"Yuk" Melda dan kedua pemuda mengikuti Dave ke arah hutan.
"Dave woy tungguin woy elah," gerutu Jery.
"Kalian mau kemana?" tanya bu Alya melihat keempat anak murid nya itu berjalan tergesa-gesa terlebih Dave sangat cemas dengan kondisi kekasih kecilnya.
Mengigat Lala itu geng dari Novi yang terkenal populer sinis, dia takut Caramel dikerjain.
Melda memutar matanya melihat seluruh siswa siswi yang sudah siap berbaris.
Tak sengaja matanya menatap Novi dan Lala yang tertawa, sadar Melda mengepalkan tangannya.
Tak lama dari itu dia kembali lurus menatap Bu Alya yang sedari tadi menunggu jawabannya, "Bu, kita mau cari Caramel dia ngilang." Melda pun sama paniknya dengan air muka yang di tunjukkan Dave.
"Apa? Caramel ngilang! Astaga yaudah kalian cari Caramel tapi jangan jauh-jauh ya, kalau nggak ketemu juga hubungi bapak atau ibu."
"Iya bu, makasih," Terlebih dahulu mereka berempat menyalimi Ibu Alya.
"Kalian hati-hati!" setengah teriak bu Alya respon mereka hanya mengangguk.
Sudah berapa kali keempatnya berteriak menjerit nama Caramel namun nihil tak ada tanda-tanda sama sekali Lala pun menghilang entah kemana, Dave tidak tahu. Namun Dave yakin gadis itu kembali tempat Camping tanpa Caramel, awas aja kalau ketemu Dave dia akan mensobek mulut pedas nan cerewet gadis itu, batinnya menggeram.
"Caramel lo dimana?"
Terdengar suara pekikkan cewek yang entah darimana namun setelah Dave mendengar dengan pasti suara itu di tunjukkan dekat jurang.
"Dave lo mau kemana?" Jery menahan Dave ketika pemuda itu
Dengan malas Dave menatap Jery, "Mau kesana." pemuda itu menunjuk semak-semak.
"Ja--jangan," cicit Jery
"Astaga Jery, ini masih pagi loh lu udah takut? Cih penakut,"
"Iya nih gimana seorang playboy Jery William dapetin Melda kalau cowoknya aja penakut!" celetuk Ehsan menyentil dahi Jery sampai Jery mengaduh sakit.
"Gue bukan penakut ya! Gue cuma nggak mau sepupu gua kenapa- napa!" ngegasnya.
"Mel, gue denger orang minta tolong. Tapi samar-samar gitu,"
"Yaudah liat yuk."
"Yee ni anak, kalau takut yaudah gak usah ngikut. Gue sama Dave sama Melda mau kesana."
"Yaudah ikut"
Tempat lain Jessica terus berteriak minta tolong ya siapa tahu ada orang di hutan.
"Mel, lo pegang kuat tangan gue!"
"Aku takut kak," ucapnya lirih.
Jessica kalang kabut, dia tidak tahu harus bagaimana? Seandainya Gadis itu membawa teman untuk membututi Lala mungkin saat ini dia menelpon Dave atau Melda yang notabenya dekat dengan Caramel.
"Aku takut… Aku nggak kuat." gumam Caramel
"Tahan Mel lo harus bertahan, pegang yang erat tangan gue. TOLONG" kata Jessi diakhiri teriakan kata penekanan.
"Kak, aku udah ng-gak kuat. Tol--ong le-lepasin aku," ucap Caramel terbata-bata.
"Lo gak boleh ngomong gitu, gue tau lo takut ketinggian kan? Gue ga mau lo kenapa-napa."
"Astagfirullah Caramel. San, Jer kalian cari tali," pekik Melda sehingga membuat dua pemuda disampingnya menutup kedua telinganya.
"Nggak usah kelamaan. Bantuin gue," Dave mengambil alih tangan sebelah kanan dan Jery sebelah kiri. "Ayo Mel naik aku pegangin."
Sekuat tenaga Caramel berusaha memanjaki bebatuan. Setelah berhasil naik Caramel langsung memeluk Dave seraya terisak memejamkan matanya, sungguh dia sangat takut mungkin bila Dave dan kawan-kawan terlambat datang dia pasti sudah terhanyut dalam jurang dalam dibawah sana.
***