My Childish

My Childish
Prediksi



"Sayang," Panggil Mike ketika ia sudah tiba di ambang pintu kamar pria itu segera merebahkan diri disamping Rara tapi sebelum itu Mike menaruh punggung tanganya di kening istrinya. "Kamu sakit ya?"


"Gapapako yank" Rara berusaha tersenyum, wajahnya pucat tak seperti kemarin-kemari juga tadipagi dia menumpahkan semua muntahnya membuat tubuhnya terasa lemas. Wanita itu rasanya malas untuk beranjak dari tidurnya, kini dia merasakan apa yang suaminya rasakan beberapa hari belakangan ini sehingga membuat Mike urung meninggalkan Rara apalagi dia hanya sendiri.


"Kamu nggak kekantor?"


Dttt... dtt.. dttt


Mike segera merogoh saku celana nya, diapun menjauh dari Rara dan mengangkat telepon salah satu Asisten sekaligus sahabatnya itu.


"Hmm?"


"..."


"Kau saja yang wakilkan."


"..."


"Yaudah kamu cancel aja meeting nya, saya ada urusan yang lebih penting dari ini"


"..."


Setelah mengangkat telepon Mike segera menghampiri istrinya, menduduki ujung ranjang.


"Rasya? Kamu ke Kantor aja, aku gapapa kok"


"Nggak ah gimana aku mau kekantor, kamu kan sakit. Yang ada aku nggak bisa fokus karena mikirin kamu terus"


"Ada Mbak Lastri!"


"Kan Mbak Lastri lagi belanja bulanan!" ucapnya tak kalah tegas.


"Yaudah," Rara memanyunkan bibirnya lucu membuat Mike tak tahan untuk mencium bibir ranum wanita itu tapi di cegah oleh Rara.


"Jangan!"


"Kenapa?"


"Sayang"


"Gak!"


"Yaudah deh pulang Mbak Lastri, aku langsung pergi ke kantor"


Dan benar saja pulang Mbak Lastri dari pasar, Mike langsung ke kantornya. Iya benar kata Rara bahwa dia harus disiplin waktu jangan malas-malas, perusahaan ini amanah orangtuanya dan ia harus memenuhi amanah itu karena ini adalah permintaan terakhir Ayah dan Ibu nya. Mengigat tentang ayah ibunya dia juga memikirkan Caramel, bagaimana keadaan gadis itu sekarang di hutan?.


"Huh, akhirnya kau datang juga" sahut Rasya memasuki ruangan sahabat karibnya itu.


"Kenapa?"


"Kau bilang kenapa? Kita sudah membicakan ini ditelfon, tapi kau tidak mendengarkanku, dan ini aku mengomeli mu karena kamu telat datang. Dengar Mike tadi itu ada klien penting dari luar negeri, mereka kesini jauh-jauh lho dan mereka hanya mau menemuimu bukan menemuiku. kamu tahu tidak kita kehilangan event ini, dan itu semua gara-gara kau!" Rasya memijit pelipisnya dengan sangat kecewa dan pusing. Klein yang selama ini mereka incar-incar sudah tidak mau lagi memakai jasa perusahaan mereka.


"Maaf Sya aku betul-betul tidak tahu. Terus kita harus bagaimana?" tanya nya dengan ekspresi biasa-biasa saja lebih tepatnya polos menurut pria di hadapannya.


"Menurut kamu bagaimana?" ketusnya.


"Pake nanya balik lagi. Sudahlah kalau kau masih begini itu tandanya kau masih seperti anak kecil, ngambekkan" dengus Mike dan itu mendapatkan toyoran dari Rasya.


"Kamu tidak tahu bagaimana usahaku mendapatkan Event ini!" Memang benar antara karyawan yang bekerja disini hanya ia yang Mike andalkan untuk mendapatkan investor luar negeri itu.


"Iya-iya" Dengan malas Mike menjawab pernyataan dari sahabat bawelnya.


"Terus kemarin kamu kemana saja? Nggak kasih kabar ke aku."


"Kemarin aku kurang enak badan dan kamu tahu tidak kondisi ku yang kemarin berpindah kepada Rara. Kamu tau nggak itu termasuk gejala apa?"


"Apa keluhannya?"


"Kemarin aku sering mual dan muntah, terus pusing kepala rasanya malas gitu beraktivitas, mudah kelehan juga, sekarang berpindah ke Rara."


Cukup lama Rasya terdiam memikirkan kata-kata sahabatnya, akhirnya dia menemukan jawaban yang pas, "Menurut aku sih, dari gejalanya kayak istri kamu itu hamil deh. Tapi coba kamu cek ke dokter, siapa tau aku salah prediksi." Rasya ngomong kayak gini karena dulunya ia kuliah di fakultas Mipa dan mengambil jurusan kedokteran, jadi tidak ada salahnya menuruti perkataan pria itu.


***