
Jam istirahat, Dave dan Caramel duduk di kursi kantin, menunggu pesanan mereka. Sembari Caramel asik memainkan ponsel ditangannya, sementara pemuda di hadapannya sedang menatap intens Caramel.
"Kamu masih marah?"
"Marah? Karena?" Dia tidak mengalihkan pandangannya ke layar benda pipih itu.
"Kemarin?"
Caramel menggeleng sambil mengangkat kepalanya.
"Terus?"
"Ya, kenapa?"
"Kamu belakangan ini berubah,"
"Emang aku berubah kenapa?"
"Kamu kesannya lebih mandiri nggak kayak biasa."
"Contohnya?"
Perdebatan mereka terhenti karena mbak Wulan membawa nampan berisi pesanan mereka.
"Makasih mbak Ul"
"Sama-sama. Permisi"
Caramel menggerakkan tangannya meraih sendok dan garpu yang sudah di siapkan diatas meja.
"Biar aku yang suapin?"
"Nggak usah kak." tolaknya mengambil alih sendok dan garpu.
"Kamu kenapa sih?" tanyanya desak.
"Gak" jawabnya singkat, padat, dan jelas Caramel yang fokus dengan makannya menatap sebentar pemuda jangkung itu.
"Aneh kenapa? Kakak kali yang aneh..."
"Kok kamu jadi nyalahin kakak?"
"Ya, belakangan ini kakak kemana aja, setiap kali sibuk?" tanya Caramel ngegas tak sekalipun ia menatap Dave.
"Kan kamu tahu, kakak lagi ngurusin acara camping. Sekarang kamu kasih tau aku, ada apa kamu berubah selama ini?"
"Kok jadi Caramel? Caramel gini-gini aja gak ada yang berubah"
"Gini-gini aja? Gak ada yang berubah? Kamu sadar dong Mel selama ini kakak selalu kasih perhatian tapi kamu nolak, gak kayak biasanya. Contohnya itu tadi aku mau suapi kamu, tapi kamunya malah nolak... "
Caramel menggigit bibir bawahnya menahan tangis, "Maaf kak, aku cuman nggak mau nyusahin kakak" Caramel menunduk dengan air matanya yang berhasil lolos di pelupuk.
"Siapa bilang kamu nyusahin sih Mel? Kamu gapernah nyusahin aku" Tangan Dave terulur menghapus benih cair membasahi pipi mulus Caramel.
"Caramel ... mau berubah tapi nggak bisa kak." ucapnya sembari menggeleng pelan.
Dari dulu, dari segi apapun memang Caramel selalu di manjain oleh kedua orangtuanya dan Mikael. Karena itu manja adalah sifat pribadinya yang selalu melekat di dalam dirinya.
"Kamu nggak perlu berubah. Siapa bilang hem?" tanya Dave.
"Gaada, Caramel cuma mau mandiri seperti apa kata kak Mike. Caramel mau belajar jadi mandiri yang ga ketergantungan kakak terus, pasti kakak risih kan?, kakak ngerasa jadi budak Caramel kan?" Tidak, Dave ,tidak percaya. Sifat Caramel tetap sifatnya, dia tidak mungkin begini tanpa sebab pasti ada yang disembunyikan oleh gadisnya. Tapi Dave mencoba memancing gadis itu.
"Kakak nggak ada pikiran kayak begitu. Kakak lebih suka kamu yang manja, jangan berubah cukup jadi diri kamu sendiri ya? Kakak lebih suka Caramel Manja"
"Tapi.. kata kak Novita, kakak bakal bosen ngelihat Caramel terus-terusan Manja dan nyusahin kakak"
"Novi? Nek lampir itu?"
"Kak Novi pernah bilang kalau sebenarnya kak Dave nggak suka cewek manja kayak Caramel, dan pernah bilang lambat laun sikap Caramel ke kak Dave bakal jengah dan pergi ninggalin aku" jelas Caramel tunduk dalam- dalam, "Awalnya Caramel nggak percaya, dan memilih cuek karena pikir kak Dave orang baik yang ga ninggalin aku. Tapi.... Tapi setelah kakak bentak aku waktu itu, aku jadi sadar mungkin kakak bosen hari itu sama perilaku aku" pikirnya
"Ya ampun Bee," Dave mengesek dan memindahkan kursinya ke samping Caramel dan menangkap tubuh mungil itu, tidak peduli mereka menjadi pusat perhatian semua siswa yang ada dikantin. "Kamu jangan berfikiran kayak gitu lagi, kakak suka kamu yang dulu terus merengek, kak suka kamu nyusahin kakak, kakak suka, kakak nggak bakal bosen. Cukup jadi diri sendiri."
...****************...