
Lily segera mengambil laporan tersebut tangan satunya sambil membawa kopi.
"Nih kopi lu" ujar Lily.
"Gak lu campur garam lagi kan" tanya Taufan.
"Gak lah gak percaya amet sih lu" ujar Lily.
"Coba minum" pinta Taufan.
"Mana mana gw yang minum" ucap Lily.
"Eitss tapi kan ntar mulutlu nempel disini gak usah dah" ujar Taufan.
"Dasar sialan" umpat Lily.
Taufan segera meminum kopi buatan Lily.
"Gimana gak ada garam kan" tanya Lily sambil menaikkan alisanya.
"Nah gitu dong ini namanya istri budiman" puji Taufan.
"Dih besok gw taroh sianida mau" ucap Lily.
"Silakan kalau lu bisa"
"Ya pasti bisa" ucap Lily.
"Secerdik apa sih lu sampe mau racunin gw" tanya Taufan sambil mengangkat satu alisnya.
"Secerdik kancil" jawab Lily asal.
"Dih ngarang buktiknya rencana lu gagal mulu"
"Serah lu deh males gw sama lu" ujar Lily kesal dengan mahluk satu ini.
"Itu dokumen apa yang lu bawa" tanya Taufan.
"Oh ini segera lu tanda tangan ini dari karyawan lu titip" jelas Lily sambil memberi dokumennya.
"Yo dah mau apa lagi lu disini cepet kembali kerja" usir Taufan.
"Ini gw mau balik ga usah ngusir juga kali" sahut Lily sambil menatap Taufan tajam.
Lily segera kembali ke mejanya ia lebih suka menatap layar komputernya dari pada menatap Taufan yang sudah menyandang sebagai suaminya.
"Komputer ini lebih ganteng dari pada Taufan gila" umpat Lily.
"Eh wait komputer punya jenis klamin yqa aduh oon bnget sih ini kan benda mati ya udah deh gw kasih gender buat ni komputer" gumam Lily pada batinnya.
"Mulai sekarang kamu berjenis kelamin laki laki"
"Ehem emang komputer punya jenis kelamin" seru Taufan mengagetkan Lily. Lily langsung menghela nafas dan mengelus dadanya.
"Apaan sih lu ngagetin aja, mau bikin gw mati perlahan ha" ucap Lily dengan nada kesal.
"Ya gw pengen matiin lu biar bebas dari perjodohan ini" ucap Taufan dengan santainya.
"Ntar lo duda dong kalau gw mati"
"Duda hanya status tapi gw masih perjaka" ujar Taufan.
"Iddih hus sono lu jangan ngajak ngomong gw ntar lu suka lagi ma gw"
"Iddih gr banget sih jadi cwe" ucap Taufan.
"Eh wait lu gila ya gw gak mau punya istri gila" ujar Taufan yang ingat perkataan Lily yang memberikan jenis kelamin terhadap komputernya.
"Sembarangan lu ngatain gw gila, gw masih sehat tau tdi gw cm menghafal dia dialog drama" ambigu Lily.
"Wait dialog drama" Taufan mengulang kembali kalimat Lily sambil mengernyitkan dahinya.
"Em ya itu buat kampus abis ini" ngeles Lily.
"Benarkah drama atau mengada mengada" tanya Taufan sambil menatap tajam.
"Bener serah lu aws minggir gw mau makan siang dulu" ujar Lily sambil mendorong Taufan dan Lily segera kabur darinya.
Lily segera berlari takut kebohongannya terbaca akan hal ini dan Lily tak sengaja menabrak Daffa.
Bruggggg
"Sorry gw gak sengaja" Lily segera meminta maaf.
"Gak di maafkan" ujar Daffa pura pura ngambek.
"Yah gw harus gimana dong" tanya Lily yang tak tau maksud apa yang di inginkan Daffa.
"Gw mau lu nemenin gw makan siang sebagai permintaan maaf lu" pinta Daffa.
"Hanya makan siang kan gak lebih" ujar Lily.
"Cie mau yg lebih" goda Daffa.
"Ish apaan sih"
"Yodah ayo kita ke caffe seberang aja" ujar Daffa.
"Ambil mobil dulu lah"
"Gausah kita jalan kaki aja" ujar Lily menarik tangan Daffa.
"Yodah ayok gw kira lu gak suka jalan kaki kek cewek cewek lainnya" seru Daffa.
"Gw gak gitu lah jaraknya deket ngapain pakek mobil" ujar Lily.
Tin...tinn...
"Lily awas" Daffa segera menarik Lily hingga Lily jatuh kepelukannya.
"Huftt untung aja makanya kalau nyebrang liat liat Ly jangan kek tadi main sembarang nyebrang" ujar Daffa yang tak berhenti nyerocos.
"Iyaa maaf makasih ya udah nolongin Lily" ujar Lily.
"Ist okey ayuk kita nyabrang"
Mereka berdua segera menyebrang dan masuk ke dalam caffe bertema klasik. Lily dan Daffa memilih ruangan yang berada di dalam di bandingkan di luar karna panas banyak polusi lagi.
"Nona tuan mau pesan" pramusaji menghampiri mereka sambil memberika buku menu ujtuk mereka lihat.
"Aku pesen steak aja sama kentang minumnya jus apel aja" ujar Lily pramusaji tersebut segera mencatat pesanan Lily.
"Tuan pesan apa" tanyanya pada daffa.
"Saya pesan ayam panggang saja sama nasi" ujar Daffa dan pramusaji tersebut segera mencatatnya dan meninggalakan mereka berdua.
"Indonesia banget lu pakek nasi" ujar Lily.
"Iya dong gw kan orang indonesia no rice no eat" seru Daffa.
"Hahaha bisa aja lu" ujar Lily sambil tertawa.
****
Sedangkan kedua sahabatnya sedang menunggu Lily di kantin waktu demi waktu detik demi detik menit demi menit bergilir namun Lily tak menampakkan batang hidungnya.
"Lily kemana sih" tanya Cherry.
"Ya mana gw tau "
"Ish lu kan sahabatnya"
"ya lu juga sahabatnya ege"
"Coba telfon" suruh Joddi.
"Iya ya ngapa gak kepikiran sampe situ tadi" ujar Cherry segera mengambil handphonennya yang bewarna pink tersebut.
"Lu sih ege makanya gini" ujar Joddi.
"Apa lu bilang gw jitak lu ntar"
"Emang berani lu ma gw" tantang Joddi.
"Berani yang bilang takut sama lu siapa" ujar Cherry sambil menatap Joddi dengan tatapan tajam seakan mau menerkam mangsanya.
"Ributnya nanti" ujar Joddi.
"Bilang aja lu takut ya kan"
"Cih gw takut sama lu amit amit sekarang hubungi Lily dulu dimana kenapa dia gak turun turun" ujar Joddi.
"Oh iya iya gw lupa"
"Lupa kek nenek" gumam Joddi pelan supaya tidak terdengar oleh Cherry karna ian malas berdebat.
Cherry segera menscrool naama Lily di handphone kesayangannya gak butuh berapa lama nama Lily sudah ada dia segera menelpon Lily.
"Lily lu dimana kita nungguin nih"
"Ga lagi makan siang di caffe sebrang lu makan berdua aja dah sama Joddi ya gw tutup dulu papay"
"Ly lu makan siang sam siapa ..." belum sempat Cherry menyelesaikan kalimatnya Lily segera memutus sambungan telfeponnya.
"Gimana" tanya Joddi.
"Lily sedang makan siang di caffe sebrang" ujar Cherry.
"Sama siapa" tanya Joddi kepo.
"Gatau sambungannya di matikan sama Lily"
"Mungkin dia sama pak Taufan kali dia gk ingin di ganggu mknya di matiin telfo lo" seru Joddi.
"Iya mungkin yo sah tok kita makan aja" ajak Cherry.
"Yo dah makan apa ribetnya sih"
**Hay kangen novel ini gak ya, yang kangen yuk acungkan komen di bawah ya jan lupa jempolnya.
pindah up sore ya klo pagi masih school.🙏**