My Ceo Is My Husband

My Ceo Is My Husband
Bab 32



Selesai makan siang mereka kembali ke kantor. Setibanya Lily di kantor ia duduk dan memandangi kursi Taufan yang masih kosong tiba tiba pikiran Lily kembali ke restauran.


" Siapa perempuan itu"


"Hufftt" Dengus Lily.


"Ngapain juga aku mikirin si bos tengik"Lily segera menepis pikirannya.


Tak berapa lama Lily melamun akan Taufan sekarang Taufan sudah berada di mejanya.


" Ngapa dia sudah ada disini"


Taufan yang sadar jika Lily sedang memperhatikannya.


"Heem" dehem Taufan yang langsung membuat Lily tersadar dan salah tingkah.


"Kenapa kamu liatin saya" tanya Taufan.


"Mm siapa yang liatin anda saya liatin jam dinding" ambigu Lily.


"Jam dinding disana bukan disini"ujar Taufan.


" Duh ****** gw" gumamnya.


"Mm saya tidak liatin tuan, tuan gr"


"Apa kamu naksir saya akan perjodohan tadi malam" ledek Taufan.


"Iddih amit amit gw naksir lu, lu kali yang naksir ama gw" ujar Lily.


"Ogah gw naksir ama lu ondel ondel"


"Bodo amat serah gw mau kerja" ujar Lily menghiraukan ocehan Taufan.


****


Sepulang kerja Lily berpapasan dengan si Daffa di parkiran.


"Hy Ly, kenapa aku telfon sama ku di riejecdt" tanya Daffa.


"Gw sibuk sorry" ucap Lily cuek sambil langsung membuka pintu mobilnya dan masuk. Lily langsung menancapkan pedal gas mobilnya.


***


Di kediaman Narenda Mereka semua pada makan malam.


"Fan" panggil Rian.


"Iya pah"jawabnya.


" Besok kamu ga usah ke kantor" ucap si Rian.


"Kenapa pah" tanya Taufan yang tak tau akan apa yang dimaksud Rian.


"Besok temenin Lyra untuk ke butik sama beli baju" ucap Rian.


"Kan bisa pergi sendiri pah, lagian Taufan sibuk besok" tolak Taufan.


"Ya ga bisa gitu dong sayang ini kan calon istri kamu dan ini pernikahanmu sayang jadi kmu harus yang nganterin dia fitting baju mama sudah pesankan baju untukmu dan Lyra" tutur Adhel.


"Cuma istri boongan aja harus ribet begini" gumam Taufan dalam batinnya


"Hufft" dengus Taufan.


"Iya ma pah Taufan besok yang nganter Lyra" ujar Taufan.


"Pagi ya sayang" Adhel mengingatkan anak semata wayangnya.


"Iya ma pah Taufan pagi pagi buta akan stay disana" ucap Taufan.


"Sudah sudah makan saja jangan berdebat" sahut Rian.


Mereka semua diam dan melanjutkan makan mereka tanpa bersuara hanya alunan sendok piring yang saling beradu seperti alunan musik.


***


Di kediaman Wijaya mereka juga makan malam bersama.


”Dad" sapa Leon.


"Iya Le" jawab Herman.


"Tunangan Lily siap Dad" tanya Leon.


" Apaan si lu kepo banget ke tunangan gw" sahut Lily.


"Bodo amat serah gw lah" sahut Leon yang tak mau kalah.


"Hddeh Dad jangan kasih tau ni bang abang panci" ucap Lily.


"Lu kira gw tukang kredit panci" ujar Leon.


"Ya lu cocok sebagai tukang kredit panci" ledek Lily.


"Kurang asem lu, Adek Luck...." belum selesai Leon menyelesaikan kalimatnya Lisa memotongnya.


"Udah kalian jangan berantem mulu, kpan akurnya" potong Lisa.


"Ntar klo Lily nikah Leon akan akur" ujar Leon.


"Bang Le..." panggil Lily.


"Stop daddy mommy pusing liat kalian" sahut Herman.


"Kayak anak kecil kalian" sambung Herman.


"Iya Dad" sahut mereka barengan.


"Mom siapa tunangan Lily, Leon ga bisa ikut karna ada keperluan" ujar Leon.


"Tunangan Lily Taufan" jawab sang Mommy.


"Taufan Putra Narendra" tanya Leon yang masih tak percaya akan hal ini.


"Iya emang kenapa Le" tanya sang Mommy.


"Gak apa apa Mom" ujar Leon.


"Awas aja jika dia nyakitin ade gw" gumam Leon dalam batinnya.


Selesai makan malam mereka semua kembali ke kamarnya. Leon yang hendak memejamkan matanya teringat akan siapa tunangan adik satu satunya tersebut. Leon segera mengambil handphonennya yang berada di atas nakas ia segera menscroll nama Taufan dan memencet tombol hijau.


"Ada apa Le" tanya seseorang tersebut.


"Lu tunangan sama ade gw" tanya Leon.


"Iya masa keluarga lu gak cerita"


"Udah lah ga penting, Lu jangan sampek nyakitin ade gw gara gara si sisil awas lu jika duain ade gw hanya gara gara perempuan itu jika lu berani gw akan buat peritungan buat lu, gw titip adek tersayang gw ke lu" ancam Leon.


"Sabar Le gw sama adik lu cuma nikah kontrak gw akan bercerai gw gak akan apa apain adek lu" tutur Taufan.


"Bagus jika lu tau apa yang harus lu lakuin" ujar Leon.


"Iya Le gw tutup dulu ya" ucap Taufan sambil memutuskan sambungan telponnya.


Leon meletakkan benda pipih perseginya di atas nakas ia melanjutkan tidurnya yang tertunda.


***


keesokan paginya Lily tertidur pulas hingga tak alarm membangunnya pun tak mampu. Kini alarm ke dua pun berbunyi.


TRINGGGGGGGG..........TRIINGGGG......


Lily langsung melemparnya dengan bantai yang otomatis jam weker tersebut jatuh.


"Lily" teriak sang mommy dari keluar kamar.


"Heleh mommy ganggu tidurku aja" gerutu Lily.


Lily segera beranjak bangun ia langsung membuka pintu dan disana sudah ada mommynya yang mematung sambil berkacak pinggang.


"Apaan sih mom ini masih pagi"ucap Lily sambil menguap.


"Ckck pagi ini sudah jam 8 lewat" ujar Lisa.


"What Lily harus kerja mom Lily harus mandi dulu"ucap Lily dengan panik.


"Eits" cegah Lisa.


"Kenapa mom Lily dan telat nih" ujr Lily.


"Ga usah ke kantor"


"Kenap sekarang kan bukan hari libur"


"Kamu harus fitting baju beli cincin di bawah sudah di tunggu Taufan" tutur Lisa.


"Kenapa gak mommy aja yang beli semua" ujar Lily dengan malas.


"Kamu yang nikah kenapa mommy yang harus repot"ucap Lisa.


"Nikah pura pura"gumam Lily dengan pelan yang terdengar samar.


"Apa yang kamu bilang" tanya Lisa.


"Gak ada cuma mau siap siap kata mommy" ujar Lily.


"Cepet kamu siap siap kasian tu calon mantu kelamaan nunggunya ntar karatan loh" canda sang mommy.


"Ya ya ini Lily mau siap siap"


"Karatan lah sabodo amat yg penting bukan gw"


Lily segera membersihkan badannya dan segera berganti pakaian. Lily menggunakan dress selutut warna peach rambut yng di gerai yang membuat ia semakin cantik.


Selesai itu Lily langsung menuruni anak tangga disana Lily sudah malas harus jalan dengan Taufan mau tidak mau ia harus bersandiwara akan hal ini.


"Pagi mom Dad" sapa Lily.


"Pagi juga" jawab mereka berdua.


"Ayo kita sarapan dulu" ajak Lisa dan mereka mengiyakan ajakan Lisa dan sarapan bersama.


"Tante om Taufan pamit dulu ya sama Lily" ucap Taufan dengan sopan.


"Cih sok sopan banget ni org" gunam Lily.


"Iya titip anak om ya" sahut Herman.


Lily dan Taufan segera bergegas pergi ke butik dengan menaiki mobil mewah milik bos sintingnya. Didalam mobil tidak ada pembicaraan sama sekali hening.....