Miss My Sister

Miss My Sister
Pingsan



Sasya memasuki rumah. Saat melewati ruang tengah dia kaget dengan apa yang dilihatnya. Bunda Nayla dengan mata sebabnya duduk di sofa. Buliran air mata masih terlihat jatuh membasahi pipi nya.


"Bun.. " Bunda Nayla ternyata tak menyadari kedatangan anak sulungnya. Sasya mengusap butiran bening yang masih senantiasa keluar. "Kenapa Bunda menangis? Apa yang terjadi Bun? "


Bunda Nayla menyeka air matanya kemudian merengkuh Sasya erat. "Kita tunggu Ayah dan Mel pulang. Kita akan menjenguk Chika, Sayang"


Sasya tersentak kaget dengan apa yang dia dengar. Kenapa ini? Sasya sudah tak sabar dengan rasa penasarannya. "Memang ada apa dengan Chika, Bun? "


Bunda Nayla melepaskan pelukannya."Bunda juga tak habis fikir dengan pemikiran pendek anak itu." Emosi Bunda mulai naik. "Bisa- bisanya mencoba mengakhiri hidupnya hanya gara-gara laki-laki! "


BOOMM!!!


Seakan ada yang meledak membuat Sasya terasa sesak bernafas. Tubuhnya mendadak terkulai lemas. Butiran air matanya menetes satu persatu dengan sendirinya.


"Bunda sudah tidak sabar ingin melihat kondisinya. " Bunda Nayla melihat jam yang terlilit di pergelangan tangan putihnya. " Kenapa ayah dan Mel juga lama sekali sampai. "


Sasya hanya terdiam. Fikirannya melayang entah kemana. Banyak hal yang berkecamuk di sana. Tapi tak ada yang dia utarakan. Rasanya tubuhnya benar-benar kehilangan tulangnya. Lemas sekali. Bahkan untuk menggerakkan mulutnya saja dia tak kuasa.


Bunda Nayla menggerakkan tubuhnya.Berdiri.Ah,tidak. Bunda Nayla tidak hanya sekedar berdiri. Dia mondar-mandir ka sana kemari sambil sesekali melihat jam tangannya.


Hal itu membuat Sasya merasakan ada yang aneh dengan bundanya.Ya. Kekhawatiran Bundanya terhadap keadaan Chika.Sasya tahu betul bunda Nayla memang seorang yang penyayang kepada setiap orang. Beliau pun senantiasa bersikap lembut dan hangat kepada semua orang. Namun entah kali ini Sasya merasa kekhawatiran bundanya terasa berlebihan. Kayak Chika itu anaknya saja.


DEG!


Jantung Sasya terasa berhenti berdetak saat pikirannya sampai ke situ. 'Tidak. Aku gak boleh berfikir ngawur. Bunda bersikap begitu karena memang Chika adalah keponakan satu- satunya yang beliau miliki. Anak satu-satunya dari adik semata wayangnya, Tante Maya. Karena ayah memang seorang anak tunggal yang tidak memiliki saudara. ' Gumam Sasya dalam hati untuk menepis pikiran ngawurnya.


"Assalamu'alaikum, " suara ayah Riko dan Mel terdengar serentak disertai suara derap langkah sepatu mereka.


"Wa'alaikumsalam, " hanya bunda Nayla yang menjawab salam. Sasya hanya menjawab dalam hati. Sasya merasakan tubuhnya kian berat. "Ayah kenapa lama sekali sampai? "


Bunda Nayla jatuh di pelukan sang suami. Tubuhnya bergetar. Sepertinya beliau menangis lagi. "Sudahlah, Sayang kamu harus tenang. Chika pasti baik-baik saja." Ayah Riko menepuk bahu bunda Nayla beberapa kali.Berusaha menenangkan sang istri tercinta berharap tangisnya segera mereda. "Lebih baik kita segera berangkat dan teruslah berdoa untuk yang terbaik buat Chika. "


Bunda Nayla mengangguk kemudian melepaskan pelukannya. Berjalan menuju keberadaan Sasya dan mengambil tas merahnya kemudian menyampirkannya di pundak. "Ayo sayang kita berangkat, " ajak bunda Nayla kemudian mengulurkan tangannya ke arah Sasya.


Sasya mencoba meraih tangan bunda Nayla dengan mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa. Sasya mencoba berdiri tapi sebelum bisa sepenuhnya berdiri tubuh Sasya kembali terkulai lemas. "Bruk! " Bunda Nayla saking kagetnya melihat tubuh Sasya ambruk. "Ayah! Sasya Yah! "


Ayah Riko dan Mel pun segera mendekat. Akhirnya Sasya ditidurkan di sofa dengan bantal pangkuan bunda tersayang.


Sepuluh menit sudah berlalu tapi Sasya belum bangun juga. Ayah Riko sudah menelepon dokter Yeni tapi belum datang juga. Setelah menelepon dokter Yeni ayah Riko memindahkan Sasya ke kamarnya.


Bunda Nayla hanya terdiam dalam kebisuan. Air matanya sudah mengalir menganak sungai. Dilihatnya wajah cantik yang tak kunjung membuka matanya itu terbaring tak berdaya di ranjangnya.


Terlihat kesedihan yang mendalam di wajah ayu wanita yang sudah berkepala empat itu. Pikirannya melayang tanpa tujuan. Disatu sisi dia ingin segera melihat kondisi Chika setelah meminum semua pil tidur di kamarnya. Tapi di sisi lain kondisi Sasya yang belum sadarkan diri entah karena apa belum diketahui penyebabnya. Karena rasa yakinnya bunda Nayla sebelumnya melihat anak sulungnya dalam keadaan segar bugar saat pulang tadi. Namun tiba-tiba saja ambruk tak sadarkan diri begini.


'Ya Allah tolong beri hamba kekuatan.Baru kali ini hamba merasa sangat rapuh serapuh rapuhnya. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala kesedihan yang hamba rasa. Kesakitan yang hamba rasa. Kuatkan hamba Ya Allah. Lindungilah Chika dan Sasya. Jadikanlah mereka sehat seperti sedia kala. Semoga Engkau berkenan mengabulkan doa hamba, Amin. 'Rintihan dan doa bunda Nayla dalam hatinya.


Dokter Yeni keluar dari kamar Sasya segera disambut Ayah Riko, Mel, dan bunda Nayla."Bagaimana keadaan Sasya, Dok?" tanya ayah Riko dengan cemas. Berharap kondisi anaknya tidak terlalu buruk. Karena kejadian pingsannya Sasya yang tiba-tiba membuat pria bertubuh atletis itu takut jikalau ada penyakit dalam yang berbahaya pada tubuh Sasya yang tidak terdeteksi.


Dokter Yeni menjawab dengan senyum anggunnya. Itu sudah mampu melegakan hati ketiga anggota keluarga Sasya yang masih setia mendengar kelanjutan diagnosa dokter Yeni.


Akhirnya Ayah Riko mengajak dokter Yeni ke ruang tengah diikuti bunda Nayla. Sedangkan Mel menemani sang kakak tersayang di kamarnya.


"Pak Riko dan Bu Nayla tidak perlu khawatir." Dokter Yeni memulai pembicaraan yang sudah ditunggu kedua orang tua Sasya. "Semua baik- baik saja. Justru ini aneh, karena menurut pemeriksaan saya, tidak ada yang salah dengan Sasya. Semua normal. Sepertinya juga tidak sedang masuk angin. "


Bunda Nayla dan ayah Riko mendengarkan penjelasan dari dokter Yeni dengan seksama. Namun keduanya juga bingung akan diagnosa yang disampaikan dokter Yeni. "Lantas apa yang kira- kira membuat Sasya pingsan tiba-tiba jika semua baik- baik saja seperti yang Dokter Yeni sampaikan? " Ayah Riko masih tak puas dengan jawaban dokter Yeni. Sebenarnya dia takut ada yang ditutupi oleh dokter Yeni.


"Sepertinya hanya ada dua faktor pemicu nya, Pak Riko." dokter Yeni menyeruput teh yang tadi di suguhkan oleh bi Ningsih, asisten rumah tangga keluarga Setyawan. "Bisa saja karena terlalu kelelahan atau syok. "


"Syok... " ucap bunda Nayla menggantung. Menurutnya ini mungkin penyebab yang bisa masuk logika. Ya, mungkin Sasya syok mendengar kabar yang menimpa Chika.


"Iya, Bu Nayla. Syok merupakan suatu keadaan yang terjadi bila perfusi oksigen ke jaringan tidak adekuat. Kehilangan sel darah pada pasien yang mengakibatkan berkurangnya transport oksigen ke jaringan tubuh terutama otak. Keadaan ini bisa memicu terjadinya pingsan. " Dokter Yeni mencoba memberi penjelasan. "Tapi ini juga jarang sekali terjadi pada pasien. Hanya sekitar 10% hal ini di temui oleh tim dokter. Biasanya syok hanya mempengaruhi mental dalam waktu tertentu saja."


Ayah Riko dan bunda Nayla terdiam dengan pikiran masing-masing. "Yang jelas saya pastikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Pak Riko dan Bu Nayla. Tidak terdeteksi penyakit berbahaya dalam tubuh Sasya. Tapi kalau Bapak dan Ibu masih belum yakin bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Silakan datang ke rumah sakit. "


"Alhamdulillah Dok. puji syukur Allah memang MahaKuasa. Terima kasih, Dokter Yeni atas bantuannya. "tukas bunda Nayla yang terlihat lebih tenang.


" Sama-sama Bu Nayla. Saya pastikan Sasya akan segera sadar. Kalau begitu saya permisi Pak Riko, Bu Nayla."Dokter Yeni berpamitan seraya menganggukkan kepalanya.


"Biar saya antar ke depan, Dok," sahut Ayah Riko.


Bersambung...