
Ceklek!
Suara pintu kamar rawat VIP itu terbuka. Pandangan Sasya dan Raymond segera beralih ke sumber suara.
"Sasya? "
" Bunda? "
Ucap dua orang di kamar rawat itu bersamaan. Ternyata yang datang adalah Salma dan Nayla, lebih tepatnya bundanya Sasya.
Sasya dan Nayla sama- sama kagetnya mendapati orang terdekatnya ada di kamar itu. Salma pun tak kalah kagetnya saat mendengar satu kata keluar dari mulut Sasya.
Kedua wanita berbeda usia itu berpandangan dengan pikiran masing-masing.
" Jadi Sasya ini anak kamu, Nay? " tanya Salma memastikan sekaligus memecah suasana yang tak sedap dipandang mata itu.
Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya pelan. Rasanya dia ingin segera melayangkan sejuta pertanyaan untuk anak sulungnya itu yang akhir- akhir ini memang sering pulang telat dengan alasan belajar kelompok. Sama sekali tak disangka ternyata dia dibohongi selama ini. Dan sungguh tak habis pikir anak kebanggaannya ini sejak kapan sudah berani membohongi dirinya.
" Pantes kalo dia anak kamu, " lanjut Salma. Nayla mengalihkan pandangan ke Salma dengan pandangan penuh tanya.
" Kamu kenapa kog mandang aku kayak gitu, Nay? " Salma malah terkekeh. " Aku hanya ingin bilang kalau dia itu persis baik hatinya kayak kamu."
Salma menghampiri Sasya kemudian merangkul bahu ringkih itu. " Dia adalah malaikat untuk kedua anakku. "
Nayla tak bergeming. Yang dia inginkan hanyalah berdua dengan anak sulungnya ini secepatnya agar bisa melontarkan sejuta tanya dalam benaknya.
" Aku bahkan tidak tahu akan bagaimana jadinya jika tidak ada Sasya lho, Nay. " Salma seperti tak menyadari apa yang ada dalam benak sahabat baiknya sejak SMA itu. Dia hanya terus nerocos. Sebenarnya niatnya baik. Dia ingin memperlihatkan betapa suksesnya dia mendidik anak perempuannya ini. Namun sayangnya semua itu tak tersampaikan karena pikiran sahabatnya itu ada di tempat yang berbeda.
Berbeda dengan cowok tampan yang wajahnya sudah terlihat lebih segar itu. Dia seperti bisa membaca situasi saat melihat Sasya hanya tertunduk sejak kehadiran ibundanya. Dia seperti ikut merasakan kegelisahan yang begitu kuat melanda.
" Kayaknya aku pulang aja ya, Sal. Lagian kamu sendiri kan yang bilang tadi kalo Raymond udah boleh pulang.Aku turut senang mendengarnya, " ucap Nayla dengan senyum yang dipaksakan.
" Lho, kok pulang? Baru aja nyampe, kan? " balas Salma protes.
" Iya, maaf aku baru ingat ada janji temu dengan seseorang membahas sesuatu yang penting, " kilah Nayla.
" Ya sudah kalau begitu. Aku thanks banget ya, Nay atas support kamu. " Salma menjeda kalimatnya. " Teruntuk Sasya juga ya, Sayang. "
Sasya hanya mengangguk tipis. " Kami pamit ya, Sal. "
Nayla melangkahkan kaki jenjangnya diikuti anak gadisnya di belakang. Dalam perjalanan tak ada komunikasi. Hanya terdengar suara sepatu bersahut-sahutan.
Sampai di mobil keduanya masih dalam diam. Nayla yang memang sudah terbiasa tanpa supir segera mengemudikan mobilnya memecahkan kemacetan jalan kota S.
Mobil hitam itu sudah berhenti menderu. Nayla masuk ke dalam rumah segera. Sasya mengekor di belakang sampai berhenti di ruang kerjanya di mana Nayla sudah duduk di kursi kerjanya.
Sasya langsung ambil sikap duduk di depan sangat ibunda.Beberapa saat suasana hening. Hanya terdengar suara cicak di dinding.
" Kamu tahu betapa syoknya bunda karena bunda baru sadar anak bunda ini sudah pandai berbohong. Katanya pulang telat ada kerja kelompok tapi nyatanya. " Akhirnya Nayla mulai mengeluarkan yang sedari tadi ditahan.
Sasya tertunduk. Dia sadar memang melakukan kesalahan besar walau dia terpaksa melakukannya.
" Kenapa Sya? "
Sasya tergugu bisu. Mulutnya serasa terkunci. Ingin digerakkan tapi tak bisa. Hanya telaga bening yang menyeruak keluar dari bendungannya.
" Siapa cowok itu bagi kamu? Pacar kamu? Sampai kamu tega membohongi bunda hanya karena dia? " suara Nayla mengeras. Kemarahannya terlihat sudah naik ke ubun2. Baru kali ini Sasya melihat bundanya semarah ini. Biasanya bunda Nayla hanya akan menegur halus kesalahannya atau pada Mel sekalipun.
Mulut Sasya masih terkunci. Dia memaksakan lidahnya bergerak tapi nihil.
" Jadi benar dia cowok kamu? Sudah berapa lama kamu backstreet ? Kenapa tidak jujur saja, bunda dan ayah tidak pernah melarang kamu punya hubungan spesial dengan teman laki-laki kamu asal tak berdampak negatif, kan? "
Sasya menghembuskan nafas panjang. Dia merasa sedikit lega mendengar suara bundanya yang sedikit melunak di akhir kalimatnya.
" Bukan Bun, dia hanya teman biasa." Akhirnya suara itu keluar dari mulut mungil Sasya walau sangat pelan tapi mampu terdengar oleh lawan bicaranya.
Bunda Nayla tersenyum sinis. " Kamu pikir aku percaya dengan kata-kata orang yang udah terbiasa berbohong. "
Aliran air mata yang tadi sempat terhenti kini mulai mengalir dengan sendirinya. Sakitnya sampai menembus ulu hati mendengar cercaan dari bundanya sendiri. Rasanya dia ingin memprotes tuduhan bundanya yang bahkan mengejudge dia sudah terbiasa berbohong. Padahal memang baru ini dia berbohong itupun juga terpaksa untuk membantu orang.
" Please dengerin Sasya dulu, bun. " Sasya mencoba menjelaskan kesalahpahaman bundanya. " Sasya itu hanya membantu tante Salma yang saat itu sudah sangat putus asa dengan putranya. Dan Sasya tahu Sasya bersalah karena tidak jujur sama Bunda. Sasya hanya takut bunda berfikir yang macam- macam tentang hubunganku dengan Raymond nantinya. Itu saja bun alasan kenapa aku nggak jujur sama bunda. "
Nayla terdiam. Dia berusaha menyaring kata-kata anaknya yang menurutnya memang sebuah kebenaran. Bagaimanapun dia sangat mengenal pribadi anak sulungnya ini. Sejak kecil dia memang takut berbohong. Dia menyakini bohong adalah dosa yang paling mudah dilakukan tapi paling berat hukumannya kelak. Jadi kemungkinan besar memang dia hanya berbohong dalam kondisi urgent saja.
"Jadi Raymond itu mengalami luka parah karena kehilangan orang yang dicintainya karena papanya, bun. Dan dia sampai drop sehingga menyebabkan typus akutnya kumat. Tapi sayangnya Raymond terlihat tak ada keinginan sedikit pun melawan penyakitnya. Selama 6 hari dirawat kondisinya justru memburuk. Saat Sasya, Vega dan Arvin datang menjenguk, tante Salma minta bantuan Sasya. Sasya udah coba nolak bun, karena Sasya bilang kita bukan teman dekat, jadi Sasya kurang mengenal karakter Raymond. Tante Salma malah bilang yakin hanya Sasya yang bisa membantu melihat riwayat sebelumnya Sasya berhasil membantu Silvy pas sakit. Tante Salma berfikir karena bantuan Sasya Silvy cepet sembuhnya. "
" Silvy itu siapa? "
" Bunda ingat kan Sasya pernah cerita tentang peri kecil? Peri kecil itu adalah Silvy anak kedua tante Salma. "
Nayla manggut- manggut. Wajahnya sudah tidak merah padam seperti tadi saat masuk ruang kerja. Sasya bernafas lega. Setidaknya dia tak melihat lagi sosok bunda yang begitu mengerikan tadi. Ini pengalaman pertama yang tak ingin dia alami lagi kelak.
Bersambung...