
Sasya dan Raymond sampai di depan pintu kantor guru. Mau langsung masuk tapi masih deg- degan luar biasa. Tidak hanya Raymond, Sasya pun ikut cemas dan khawatir. Dia takut sesuatu yang tidak baik menghampiri.Kalau dia dipanggil sendiri ke kantor oleh bu Indri itu hal yang biasa tapi ini dia dipanggil bersama Raymond. Itu yang membuat dia menjadi berspekulasi macam- macam.
Akhirnya dengan memberanikan diri Sasya membuka pintu dan melangkah masuk diikuti Raymond di belakang. Bu Indri tampak sudah menunggu mereka.
" Duduk, " perintah bu Indri kepada dua anak didiknya itu. Sasya dan Raymond duduk sesuai perintah.
" Langsung saja ke pokoknya. " Bu Indri memulai. " Ibu memanggil kalian berdua karena Ibu ingin meminta bantuan kalian. Ibu ingin minta kerjasama kalian berdua berkenaan dengan ujian semester akhir yang akan dilaksanakan bulan depan. "
Sasya dan Raymond saling berpandangan seakan saling menanyakan satu sama lain lewat sorot mata tentang maksud pembicaraan sang wali kelas.
" Kita semua tahu bahwa kelas kita adalah kelas unggulan. Berkenaan dengan itu ibu ingin meminta kalian berdua membantu menjaga nama baik kelas kita. Kita juga tahu kalau Raymond sudah cukup lama tertinggal pelajaran karena sakit. Walau ibu tahu kamu juga ikut home schooling waktu itu. Dan lagi tolong jangan berpikir ibu meremehkan kemampuanmu. Ibu hanya antisipasi saja dari kemungkinan terburuknya. " bu Indri tampak hati- hati menyampaikan agar tak terjadi kesalahpahaman.
" Untuk itu ibu minta tolong kepada Sasya sebagai juara kelas untuk membantu Raymond mengejar ketinggalannya. "
Deg!
Jantung kedua anak kelas 1A itu terasa berhenti berdetak sesaat. Tak menyangka apa yang barusan disampaikan oleh wali kelas cantik itu.
" Bagaimana apa kalian keberatan? "tanya bu Indri.
" Tidak. " Raymond menjawab cepat dan mantap. Kedua netra Sasya segera menatap Raymond penuh tanya. Entah mengapa Sasya merasa Raymond justru bahagia dengan keputusan sang wali kelas.
" Maksud saya. Saya setuju karena saya pasti akan sangat terbantu sekali dengan ini, bu. " Bisa- bisanya Raymond berkata seperti itu. Bahkan tingkat intelegensinya mungkin setara atau bahkan lebih tinggi dari Sasya. Dasar modus.
" Tapi, bu, " Sasya kini angkat bicara. " Saya rasa saya tidak cocok untuk itu. Biar saja Raymond mencari guru privat untuk mengejar ketinggalannya. Saya rasa saya kurang pantas. "
" Kamu memang selalu merendah anakku. Ibu sangat yakin kamu orang yang cocok. Lagian ini justru baik juga untuk kamu. Dengan begini kalian akan sama-sama belajar, bukan? "
Sasya tahu sudah tak mungkin menolak perintah wali kelasnya ini. Tak ada pilihan lain. Mau tidak mau dia harus mau.
" Jadi kamu tidak salah paham kan, Raymond ? "Raymond menggeleng cepat. " Bagus lah, ibu tahu kamu juga pintar, dan ibu sama sekali tidak bermaksud meragukan kemampuan kamu. Ibu hanya ingin membantu kamu mempersiapkan ujian dengan sebaik-baiknya. Mengingat kamu sudah absen cukup lama. "
" Saya sama sekali tidak keberatan ibu. Saya justru sangat berterima kasih karena sepertinya saya memang membutuhkan bantuan ini. " Raut wajah Raymond menyiratkan kebahagiaan berbeda dengan gadis di sebelahnya itu. Namun Raymond justru menikmati pemandangan itu. Baginya dengan posisi kesal seperti ini wajah Sasya terlihat begitu menggemaskan baginya.
" Baik, bu. Sekali lagi saya berterima kasih. Permisi. " akhirnya Raymond meninggalkan Sasya dan bu Indri berdua.
Sepeninggal Raymond, bu Indri kembali bertanya. " Apa kamu keberatan, sayang? " bu Indri bangkit mendekat ke arah siswa kebanggaannya kemudian mengusap puncak kepala Sasya.
" Saya hanya merasa kurang pantas. Saya takut saya tidak mampu Bu In."
Tangan kanan Bu Indri masih aktif di kepala Sasya.Kini membelai rambut hitam panjang milik Sasya.
" Yakinlah ibu tidak asal mengambil keputusan. Ibu sangat yakin kamu mampu dan pantas. Anggap saja kamu membantu ibu. Menjaga nama baik ibu juga. Ibu tidak bisa membayangkan jika ada yang tinggal kelas. Hancur sudah reputasi ibu. "
Sebenarnya bu Indri yakin tak akan terjadi separah itu. Karena dilihat dari semester lalu nilai Raymond keseluruhan bagus. Bahkan dia juga menyandang juara kelas di sekolah lamanya. Hanya saja entah mengapa ketidakhadiran Raymond yang cukup lama dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah baru membuatnya sedikit khawatir Raymond belum sepenuhnya bisa mengikuti.
" Kamu cukup bantu di pelajaran kimia, fisika, matematika dan Seni di materi tangga nada. Untuk geografi kamu fokus di materi skala aja.Mungkin hanya perlu diulas sedikit. Yang lain, materi biar Raymond kejar sendiri. Soal jadwal dan berapa banyak waktunya ibu serahkan semua pada kamu. "
" Baik, bu. "
Bu Indri lega melihat sebuah senyuman sudah bertengger di bibir Sasya. "Terimakasih, sayang. " bu Indri merengkuh badan kecil Sasya yang padat berisi itu dengan lembut.
" Kalau begitu, saya permisi bu In." setelah sang wali kelas melepaskan pelukannya Sasya segera berpamitan.
Sasya keluar dari kantor. Dia ingin segera menyusul Vega yang sudah dipastikan sudah berada di kantin mengingat bel istirahat sudah sedari tadi berkumandang. Namun Sasya terbelalak kaget saat mendapati Raymond masih berada di depan kantor menunggunya.
"Kamu, kenapa masih di sini? "
Raymond berjalan mendekat ke arah Sasya tanpa menjawab pertanyaan gadis cantik itu.
Bersambung...
'