Miss My Sister

Miss My Sister
Kedatangan Tamu



Raymond sangat kaget saat melihat kedua sahabatnya masuk ke kamarnya setelah mengetuk pintu. Salma, mamanya berada diantara mereka.


" Kalian? " tanya Raymond.


" Tante tinggal dulu ya, " Salma berpamitan.


" Gimana kabar kamu, Raymond? " tanya Arvin mengawali.


" Kalian ngapain di sini? " Bukannya menjawab cowok ganteng itu malah balik bertanya.


" Masih nanya lagi, " Vega mulai beraksi. " Ya jenguk kamu lah. Dikira mau main basket apa?"


Arvin terkekeh mendengar omongan Vega. " Nggak deh Ray, yang bener itu Vega mau mbantu ngabisin obat kamu hahaha... " Arvin nampak tertawa lepas. Vega bukannya marah dengan ejekan Arvin. Dia malah terpana melihat tawa lepas dari teman cowok disebelahnya ini. Pasalnya baru kali ini dia melihat Arvin bisa tertawa selepas itu. Biasanya senyum aja pelit.


" Sasya nggak ikut ya, Ve? " tanya Raymond membuat Arvin menghentikan tawanya.


" Sebenarnya dia mau ikut tapi udah duluan ada janji sama adiknya, " jawab Vega santai.


Vega menyadari ada kekecewaan tergambar diwajah tampan sahabatnya. Sepertinya Raymond sangat mengharapkan Sasya ikut serta.


" Makanya cepetan skul biar bisa ketemu kami tiap hari, hehe..." sambar Vega cengengesan.


" Iya Raymond, cepet balik skul. Nggak rindu apa sama kami? " timpal Arvin.


" Mama papa belum ngijinin, Vin. Makanya aku disuruh home schooling dulu. " ucap Raymond sedih. " Sebenarnya aku pingin masuk skul. Booring di rumah terus. "


Arvin manggut-manggut. Dia cukup mengerti apa yang dirasakan Raymond karena dulu dia pernah mengalaminya. Karena kecelakaan yang mengakibatkan tulang betis kakinya patah mengharuskan dia home schoooling selama lebih dari sebulan dalam masa penyembuhan kala itu.


" Berarti kamu harus cepet sembuh, bro. Kamu harus semangat sembuh, " nasehat Arvin.


" Bener itu Ray, kamu harus semangat untuk kesembuhan kamu, " timpal Vega.


Raymond mengangguk dan tersenyum. Dia merasa beruntung memiliki sahabat- sahabatnya yang tetap ada di saat duka bukan hanya saat suka saja.


" Kamu chat aku aja kalo pas jenuh, Ray. " Arvin memberi saran. " Kamu aja kalo di chat nggak pernah bales. "


" Chat aku juga, Ray. Tapi ngomong- ngomong aku belum punya kontak kamu deh. Kamu minta Arvin aja ya. " Vega meringis.


Ketiganya saling melemparkan candaan membuat banyak senyuman tercipta di bibir Raymond. Namun entah mengapa dia merasa ketidakhadiran Sasya membuat suasana ini tidak sempurna.


Arvin dan Raymond sudah pulang. Suasana kamar Raymond kembali sepi. Salma mengetuk pintu kamar Raymond kemudian masuk setelah mendengar sahutan dari anak laki-lakinya.


Seperti biasanya Salma masuk membawa nampan berisi makan malam untuk anak sulungnya. Dia menyuapi dengan telaten hingga makanan dalam piring itu habis dilahap oleh Raymond.


" Bagus. Anak mama sekarang udah pinter ngabisin makanannya, sekarang minum obatnya dulu ya, sayang. " Salma memberikan obat dan segelas air putih. Raymond segera meminum obatnya.


Salma tersenyum. Diletakkannya nampan berisi piring dan mangkuk kosong itu di atas nakas. Dia memandang anaknya dengan senyuman hangatnya.


" Apa kamu ingin segera masuk sekolah, nak? "


Raymond kaget bercampur senang dengan pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh mamanya.


" Memang sudah boleh, ma? "


Lagi-lagi senyum yang tersungging di bibir merah seksi itu menambah aura kecantikan sang mama. " Kalau mama sih setuju- setuju saja. Belum tahu kalau papa. "


Senyum di bibir Raymond memudar. Tak dipungkiri dia begitu berharap segera masuk sekolah lagi. Namun dia tahu mama papanya melakukan ini semua karena mereka sangat menyayangi dirinya jadi Raymond hanya menurut saja. Dia yakin ini untuk kebaikannya.


" Nanti mama akan coba bicarakan sama papa. Asal kamu harus selalu ingat untuk jaga kesehatan kamu agar tidak drop lagi. "


Seketika senyum yang tadi sempat memudar kembali menghiasi wajah tampan rupawan itu. Ada secercah harapan yang membuatnya menjadi lebih bersemangat.


" Pasti ma. " Raymond merengkuh wanita patuh bayar yang sangat dia sayangi itu. " Thanks a lot, Mom. "


Salma membalas dekapan anak sulungnya. Diusapnya punggung Raymond dengan lembut. Dia sangat bersyukur atas kesembuhan Raymond sampai di tahap ini. Walau dokter belum memastikan kesembuhan anak laki-lakinya itu tapi ini sudah sangat lebih dari apapun jika mengingat betapa kelamnya masa- masa kala itu.


Bersambung...