Miss My Sister

Miss My Sister
Masuk Rumah Sakit



Sasya merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangannya. Beberapa kali menghembuskan nafas dengan kasar. Dipejamkannya mata sipitnya. Dia mencoba merilekskan semua tubuh dari rasa lelah yang melanda.


Bayangan kejadian di kamar bersama cowok galak itu melintas dengan tidak sopan. Rasa kesal Sasya mulai tersulut. Cowok galak yang satu itu memang selalu bisa saja membuat Sasya kesal bahkan saat sakit sekalipun.


Sasya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia berfikir mungkin bisa mendinginkan kepalanya dengan guyuran air dingin dari shower.


Setengah jam lamanya gadis cantik itu baru menyelesaikan ritual mandinya. Terlihat air masih menetes dari ujung rambutnya karena tadi hanya dikeringkan dengan handuk sekenanya.


Sasya duduk di kursi di depan meja riasnya membelakangi kaca. Sasya malah termangu bukannya mengeringkan rambutnya atau menyisirnya.


Pikirannya kosong. Wajahnya masih terlihat cantik walau tak berbalut make up sekalipun. Mata sipitnya nanar memandang ke arah pembaringan. Mata hitam indahnya menangkap sesuatu di atas ranjangnya. Sasya kemudian menghampirinya. Memeluknya erat kemudian mencoba memejamkan matanya.


🍀🍀🍀


Pagi yang cerah. Kicau burung yang bernyanyi menambah keceriaan. Namun tidak bagi gadis yang melangkagkan kakinya dengan malas itu.


Sasya memasuki kelas dan duduk di kursinya.Kelas favorit di SMA XX itu masih sepi. Sepertinya dia memang datang terlalu awal. Buktinya Sasyalah orang pertama yang datang. Bahkan dia bisa mengalahkan Bella yang terkenal selalu paling awal datang ke kelas selama ini.


"Morning my class! " sapaan seseorang yang baru masuk ke kelas 1A yang tak lain adalah Bella membuat Sasya tersadar dari lamunan.


Bella pun tak kalah kagetnya saat mendapati ada anak lain yang sudah datang. Padahal setiap harinya dirinyalah yang pertama kali datang. Keceriaan gadis berambut ikal itu menyurut karena merasa hari ini dia sudah kalah dengan Sasya.


"Kog kamu tumben amat jam segini udah dateng, Sya?" tanya Bella jauh dari kata ramah. Bella melangkahkan kaki menuju kursinya.


Sasya bergeming. Sebenarnya dia enggan menanggapi Bella karena itu pun dirasa tak penting baginya tapi dia takut Bella akan salah paham terhadapnya.


"Aku juga nggak nyangka datang sepagi ini, Bel. Ini aku juga jadi malah kebingungan sendiri mau ngapain." Akhirnya Sasya memaksakan mulutnya menjawab sekenanya.


Bella hanya mengupas senyum hambarnya. "Mau ke kantin? " tawar Bella yang berfikir Sasya benar-benar bingung mau ngapain.


Gadis bermata sipit itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. " Aku udah sarapan tadi. "


" It's okay. Kalau gitu aku tinggal ya, " pamit gadis berambut ikal itu segera hilang dari pandangan Sasya.


Sepeninggal Bella, Sasya kembali berkecamuk dengan hatinya. ' Ya Allah, sebenarnya aku ini kenapa sih. Kog gak semangat banget gini. Kayaknya gak ada yang salah dengan kesehatanku. Tapi kog bawaannya males banget gini ya. '


Satu persatu warga kelas 1A memasuki kelas dan beberapa diantaranya menyapa Sasya. Sasya pun membalas sekenanya.


" Sasya... " teriakan panggilan itu dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Vega dengan suara khas cemprengnya.


" Ini gawat, Sya. Gawat banget ini! " wajahnya Vega terlihat serius. Sasya pun jadi penasaran melihat sahabat konyolnya ini seserius itu.


" Apanya yang gawat, Vega? Sini duduk dulu. " Sasya menarik lengan Vega yang masih berdiri di tempat untuk duduk di kursinya.


"Itu Sya, si Raymond. " Vega menghentikan perkataannya dan menghembuskan nafas panjang. Sepertinya dia berusaha menenangkan dirinya.


" Iya si Raymond kenapa memang? " Sasya jadi penasaran. Jiwa kepo-nya meronta- ronta.


" Dia masuk rumah sakit beb."


Blush....


Pernyataan Vega bagaikan terpaan angin yang menyejukkan. Saking sejuknya sampai serasa membekukan aliran darahnya.


"Semalem aku chat- an sama Arvin, terus dia ngasih tahu kalau Raymond masuk rumah sakit."


Sasya terpaku. Dia tak menyangka sakit Raymond bertambah parah. Kalau diingat- ingat kemarin dia masih bisa mencekal tangannya dengan kuat. Seperti tenaganya masih full power walau demam tubuhnya masih tinggi.


"Sasya! " Vega berteriak karena merasa diabaikan oleh sahabatnya yang justru asyik melamun.


Sasya terhenyak kaget. Tak menjawab sahabatnya malah meraih tas dan mengambil benda pintar di dalamnya. Dia mengklik beberapa kali kemudian menempelkan benda pipih itu di telinganya.


Vega yang merasa kesal dan bingung hanya mengamati gerak- gerik sahabatnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hallo." Sasya tersenyum saat menyadari panggilannya sudah di jawab oleh orang di seberang sana.


" Hallo, Mbak Sasya." suara sahutan di seberang sana melegakan batin Sasya karena dia yakin dia akan mendapat apa yang dia inginkan. " Ada yang bisa saya bantu? Apa ada yang sakit? " lanjut orang yang ditelpon Sasya yang ternyata adalah dokter Yeni.


Dokter Yeni mengernyitkan dahi. " Soal apa ya? "


"Soal Raymond, dok. Saya dengar semalam dia masuk rumah sakit. Apa dokter Yeni mengetahui hal itu? "


Dokter Yeni tersenyum. "Oh, itu semalam memang saya yang merujuknya."


" Apa sakitnya semakin parah, dok? Kemarin saya sempat ngobrol dan seperti nya dia sudah lebih baik. " Vega melotot mendengar perkataan Sasya yang ini. Dari tadi dia memang kebingungan saat mengetahui sahabatnya itu menelepon dokter Yeni yang diketahuinya adalah dokter keluarganya tapi malah menanyakan tentang Raymond.


Dan sekarang dia tambah dikejutkan dengan pernyataan Sasya yang kemarin sempat ngobrol dengan Raymond. Jadi kemarin mereka ketemu di mana? Atau mungkin Sasya yang menemui Raymond? Vega menepuk jidatnya. Terlalu banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya.


"Iya Mbak, kalau keadaan Raymond lebih baik mana mungkin saya merujuknya. "


Sasya menjadi malu sendiri mendengar jawaban dokter Yeni. Harusnya dia tidak bertanya seperti itu bukan?


"Emmm, apa dia mengidap sakit tertentu, dok


? " Sasya sebenarnya ragu ingin melontarkan pertanyaan yang ini karena dia tahu ini adalah hal privasi. Tapi dia juga tidak bisa mengesampingkan kekepoannya.


" Aduh gimana ya Mbak, itu privasi pasien saya."


Tepat seperti dugaan dokter Yeni menolak menjawab. Sasya hampir saja menyerah saat terlintas ide brilian di otaknya. Sedikit berbohong sih, tapi kan kalau untuk kebaikan berbohong diperbolehkan.


" Please, Dok. Raymond adalah seseorang yang penting untuk saya, dan dia sepertinya sengaja merahasiakan sesuatu dari saya. Saya mohon, kali ini bantu saya dok karena saya tidak mau menyesal suatu saat nanti. Saya akan berpura-pura tidak tahu nanti. Dan saya janji tidak akan membahayakan dokter Yeni. "


Sasya hanya fokus merayu dokter Yeni tanpa menyadari ada tatapan tajam mengarah padanya. Tatapan tajam yang mematikan itu dari Vega yang merasa dibohongi Sasya selama ini. Amarahnya memuncak tinggal menghitung waktu untuk segera meledak.


Dokter Yeni terdiam. Dia berfikir apa mungkin Raymond adalah kekasih pasien cantiknya ini. Dia tahu jika membocorkan privasi sembarangan pasien melanggar kode etik kedokteran yang selama ini sangat dia junjung tinggi. Tapi jika ini memang masalah percintaan sepertinya bantuannya memang sangat diperlukan.


"Baiklah Mbak Sasya, tapi tolong ya Mbak jangan libatkan saya nantinya jika muncul masalah. Saya tidak bermaksud membocorkan privasi pasien saya, saya hanya berniat membantu Mbak Sasya. Karena saya juga pernah dalam posisi Mbak Sasya saat ini hingga saya menyesal seumur hidup saya. Dan saya tidak mau itu terjadi dengan Anda. "


Sasya tersenyum puas. Akhirnya berhasil. " Pasti dok. Anda tidak perlu khawatir, saya janji tak akan melibatkan dokter Yeni. Saya justru berterimakasih karena dokter Yeni dengan baik hati membantu saya. "


"Sebenarnya Raymond menderita typus akut, Mbak. Sudah cukup lama jika saya lihat dari riwayatnya. Saya baru menanganinya satu bulan ini semenjak pindah ke kota S. "


Sasya terdiam. Tak disangka cowok galak itu ternyata sakit typus yang sudah akut. " Terimakasih ya dok untuk informasinya. Saya tutup ya, dok."


Dokter Yeni hanya mengiyakan dan memutuskan panggilan. Dia mengira mungkin Sasya syok mendengar penyakit yang diderita kekasihnya. Dia memaklumi sikap Sasya yang berubah dingin.


Sasya termangu. Dia merasa iba pada sosok galak yang selalu menyebalkan di depannya.


Pak Dismas memasuki ruangan membuat Sasya menyudahi lamunannya. Dia kaget saat menoleh ke arah sahabatnya dan mendapat tatapan mematikan.


" Kamu punya banyak hutang penjelasan padaku beb! " ucap Vega tegas lalu kembali fokus kepada guru tampan di depan kelas yang sudah memulai pelajaran.


🍀🍀🍀


Bel joon joon istirahat yang dinanti seluruh warga SMA XX berkumandang dengan merdunya. Vega langsung siap dengan mode introgasi memutar tubuhnya 90 derajat ke arah kiri.


Sasya kebingungan dengan sikap sahabatnya. Dia salah apa sebenarnya.


"Sekarang jelaskan semuanya. "


Sasya keheranan mendapat tatapan menyelidik dari sahabatnya. Dia bingung tentang apa yang harus dia jelaskan.


" Kamu pacaran sama Raymond? "


" Kamu ngomong apa sih Vega, ngaco! "


" Nggak usah ngeles, jelas - jelas kamu ngomong ke dokter Yeni kalo si Raymond orang penting buat kamu. Kamu juga bilang kemarin abis ngobrol ama dia. Aku nggak pernah masalah kamu mau pacaran sama siapa yang bikin aku kesel kenapa kamu tega gak cerita sama aku! Aku kira selama ini kita sahabat! "


Sasya menepuk jidatnya berkali-kali. Dia menyadari rupanya sahabatnya ini sedang salah paham. Akhirnya Sasya menceritakan semuanya sedetail- detailnya. Dan syukurlah kesalahpahaman itu berakhir. Sasya bernafas lega.


Bersambung...