Miss My Sister

Miss My Sister
Hari Pertama



Hari ini wajah Raymond tampak berseri. Seharian ini bahkan dia selalu bersenandung riang.


" Sepertinya dari berangkat sampai ni bentar lagi bel pulang bunyi kamu ceria banget ya? Tumben amat.Biasanya juga wajah kamu dingin aja," ucap Arvin berkomentar.


Yang dikomentari cuma senyum. Tak menjawab sepatah kata pun. Arvin mendengus kesal. Merasa di cuekin Arvin tidak tinggal diam. Arvin merebut paksa buku yang ada di hadapan Raymond. Raymond yang sama sekali tak menyadari pergerakan Arvin sudah terlambat untuk melakukan pencegahan. Akhirnya dibiarkan saja buku itu ada di tangan sahabatnya yang tumben- tumbenan jahil itu.


Melihat tak ada respon lagi dari yang dijahili, Arvin pun tambah kesal. Tiba-tiba saja Arvin menulis sesuatu di sobekan kertas kemudian diremas- remas menjadi kecil dan dilemparkan ke arah Sasya.


Raymond menatap Arvin penuh tanya. Tentu saja Arvin tak menghiraukannya. Dia juga ingin sahabatnya ini merasakan gimana rasanya dicuekin. Yah, sama seperti yang sedari tadi dilakukan sahabatnya itu. Kini waktunya membalas.


Sasya kaget karena ada sebuah remasan kertas di atas mejanya. Sasya hendak membuangnya namun dia mengurungkannya. Dan itu membuat sebuah senyum terbit di bibir sensual milik Arvin.


Arvin melihat Sasya membuka kertas itu. Seketika Arvin berpura-pura mengerjakan tugasnya. Sasya melotot saat membaca tulisan di kertas itu. Dia langsung memutar badannya ke arah belakang. Ya, tepat di hadapan Raymond. " Nggak usah ngegombal. Semua orang juga tahu kalau aku cantik, "ucap Sasya dengan sarkas. Gadis cantik itu kembali memutar tubuhnya menghadap ke depan. Melempar kembali remasan kertas itu ke meja Raymond p0p.


Raymond tergesa-gesa membuka kertas itu. Matanya melotot kaget. " Sampai jumpa nanti, cantik, " gumam Raymond membaca tulisan di kertas itu. Dapat dipastikan Arvin saat ini tengah mendapatkan pelototan dari mata elang sahabatnya.


" Gila kamu, Vin! " rahang Raymond mengetat. Suaranya hampir tak tertahan. Untungnya Raymond masih bisa mengendalikan diri untuk tidak berteriak. Dia sudah cukup malu dengan isi kertas yang pastinya menurut Sasya adalah darinya. Dia tidak mungkin membuat Sasya tambah illfeel lagi padanya.


Arvin tertawa penuh kemenangan. Tak dipungkiri Arvin sepertinya menyadari perubahan mood sahabatnya ini. Sedari pagi setelah menceritakan tentang permintaan Bu Indri yang diiyakan oleh Sasya kepada dirinya. Dia terus melihat keceriaan tak lepas menghiasi wajah tampan sahabatnya itu. Dan itu membuat Arvin berspekulasi sedang tumbuh benih-benih cinta dalam hati Raymond.


" Harusnya kamu makasih dong sama aku, Ray. Aku udah ikut membukakan jalan mulus untuk acara kencan kamu nanti sore, " Arvin masih saja dengan tawanya.


Raymond langsung menonyor kepala Arvin. " Kencan pala lu peyang! " sentak Raymond. Lagi-lagi Arvin tertawa terpingkal-pingkal.


" Hallah. Emang bener itu kencan berkedok belajar. Lha wong berduaan.Ya tho? " canda Arvin menambahkan. Sepertinya hari ini dia juga sedang senang membuat kesal teman sebangkunya itu.


" Kita mau belajar Arvin jelek bukan kencan. Kamu diajak ikutan juga gak mau. Jangan ngomong aneh- aneh kamu nanti jatuhnya fitnah! " Raymond kembali merebut bukunya dari Arvin.


🍀🍀🍀


Semua warga SMA XX bersiap mengemasi alat tulisnya. Bel pulang baru saja berkumandang. Namun Sasya masih tak beranjak. Begitu pun juga dengan Raymond.


" Duluan ya, Ray. " Arvin menepuk lembut pundak Raymond. Setelah mendapat anggukan dari yang diajak bicara, Arvin segera berlalu.


Sasya pun segera mengajak Raymond memulai satu jam tambahannya. Dengan cekatan Sasya menjabarkan rumus materi yang dipilih. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, di ambang pintu kelas 1A tampak seorang berdiri memperhatikan aktivitas mereka. Orang itu tak lain adalah sang wali kelas, bu Indri.Beliau tersenyum bangga. Beberapa saat kemudian beliau memutuskan untuk pulang. Beliau tak perlu khawatir lagi karena sudah memilih orang yang tepat.


Raymond tampak memperhatikan Sasya dengan seksama. Dia sudah sangat menguasai materi yang disampaikan gadis di depannya. Namun tak bisa dipungkiri cara menjelaskan penggunaan rumus tersebut memang simpel dan ringkas. Sehingga akan sangat mudah di ingat dan dipahami.


" So, any questions? " Sasya mengakhiri materinya dan memberikan kesempatan untuk Raymond bertanya.


Raymond hanya menggeleng. Sasya menghembuskan nafas. " Oke kalo gitu coba kamu kerjain soal- soal ini! " Sasya kemudian memberikan sebuah buku referensi miliknya kepada Raymond.


" Sya, " akhirnya Raymond menepuk lembut lengan gadis cantik bermata sipit itu.


Sasya terhenyak kaget. " Kamu kenapa ?" tanya Raymond.


"Oh, a-aku tidak apa-apa, " jawab Sasya sedikit tergagap. " Sudah selesai ya, aku koreksi dulu."


Raymond tahu Sasya tidak berkata yang sebenarnya. Raymond tahu pasti ada masalah yang mengganggu pikirannya. Hanya saja Raymond tidak berani bertanya lebih jauh.


Sasya memang sedang sedih.Tapi dia tidak mau bercerita kepada Raymond. Entah kemana Vega sahabatnya yang dulu. Yang selalu ceria dan welcome padanya. Tadi pagi saat Sasya menceritakan tentang permintaan bu Indri untuk membantu Raymond mengejar ketinggalan materinya, Vega terlihat jelas tak acuh. Bahkan saat Sasya memintanya untuk ikut belajar bersama Sasya mendapatkan penolakan keras dari sahabatnya itu. Sesaat Sasya kembali dalam pikirannya sendiri. Dia menghela nafas kemudian melanjutkan mengoreksi jawaban Raymond.


Setelah selesai mengoreksi dan menemukan semua jawaban Raymond benar, Sasya mengacungkan dua jempolnya untuk Raymond.


Sasya melanjutkan materi pilihan yang kedua. Menyampaikan materi, penerapan rumus juga contoh soalnya. " Any questions? " Lagi-lagi pertanyaan Sasya hanya mendapat gelengan kepala sebagai jawaban.


" Kalau nggak ada yang ditanyakan, nih dikerjain lagi soal-soalnya. "


Raymond menghembuskan nafas halus. Sebenarnya dia sangat jenuh dengan metode pembelajaran Sasya ini. Bukannya tidak suka dengan cara penyampaian materinya tapi dia tidak suka karena dikasih banyak soal. Itu yang membuatnya merasa jenuh. Namun di satu sisi dia sangat nyaman berlama-lama bersama dengan gadis bermata sipit itu. Bahkan dia berharap satu jam ini jangan cepat berakhir.


Sasya terlihat melamun lagi. Raymond bukannya menyadarkannya justru malah asyik memandangi wajah ayu bermata sipit itu. Rasanya tak ada celana sedikitpun dari wajah itu. Cantik alami dan menyejukkan.


Sasya tersadar dari lamunannya. Untung Raymond menyadari hal itu sehingga dia sudah secepat kilat memposisikan dirinya terlihat berkutek pada soal- soal pemberian Sasya.


" Ehm, aku ke toilet bentar ya, Ray, " ucap Sasya tiba-tiba. Raymond tersenyum kemudian mengangguk mengiyakan.


Sasya sudah merasa lebih segar setelah mencuci mukanya. Dia keluar dari toilet dengan senyum tipis menghiasi bibirnya. Diarahkannya pandangan ke beberapa arah. Mata sipitnya berhenti saat memandang ke suatu arah. Kemudian dia bergegas melangkahkan kaki jenjangnya.


🍀🍀🍀


Sasya sudah kembali ke kelas menemui Raymond. Sasya meletakkan sekantong kresek di atas meja Raymond. " Minum dulu Ray, ni tadi juga aku beliin pisang goreng. "


Raymond tersenyum sumrik. " Duh, makasih ya, Sya. Emang pinter bener deh bu Indri sama aku. Udah dikasih tutor cantik, pinter baik hati lagi, " ucap Raymond sambil menyomot pisang goreng pemberian Sasya.


" Oh, jadi ni mau ngelanjutin modus yang tadi sing nih? " sindir Sasya.


Seketika wajah Raymond bersemu merah. " Itu bukan tulisan aku, Sya. Nih coba liat, tulisan tangan aku. " Raymond menyodorkan buku nya. Sasya hanya melirik buku itu. Tak berniat untuk meraihnya. Tapi benar juga. Tulisan tangan Raymond memang berbeda dengan tulisan di kertas itu. Sasya pun sudah bisa menduga tulisan tangan siapa itu.


" Ya sudah, selesaikan aja tugas kamu supaya kita bisa cepat pulang, " ucap Sasya memerintah.


Bersambung