
Hari ini Pak Yossep sudah tiba di kota B untuk menjemput nona kesayangannya. Pak Yossep adalah supir keluarga Setyawan semenjak Sasya berumur satu bulan. Saat itu tak sengaja Ayah Riko hampir menabrak pak Yossep di jalan saat pak Yossep dalam keadaan seperti orang linglung karena kebingungan mencari biaya operasi istrinya yang akan melahirkan.
Ayah Riko yang memang berhati baik itu tidak hanya membantu biaya operasi istri pak Yossep melainkan memberikan pekerjaan tetap sebagai seorang supir pribadi keluarganya karena sebelumnya pak Yossep hanya seorang supir taxi online yang penghasilan tiap harinya tak bisa ditentukan sedikit banyaknya.
Dengan senang hati pak Yossep menerima uluran tangan Ayah Riko dan berjanji pada dirinya sendiri akan selalu setia untuk keluarga Ayah Riko.
Karena saat itu ayah Riko dan bunda Nayla memutuskan untuk mengurus Sasya sendiri tanpa merekrut babby sitter, maka di saat-saat urgent Sasya dititipkan sama bi Ningsih ataupun pak Yossep. Dan itulah yang mendekatkan Sasya dengan keduanya. Karena sifat Sasya yang selalu menghargai keduanya tanpa memandang mereka sebagai assisten di rumahnya membuat bi Ningsih dan Pak Yossep menganggap dan menyayangi Sasya seperti anak mereka sendiri.
Sasya berpamitan dengan om dan tantenya, juga Chika. Kesedihan terlihat jelas di mata cantik gadis berambut pendek itu. Tapi dia tahu cepat atau lambat hal ini pasti terjadi juga. Dan dia sudah memantapkan hati untuk merelakan sahabatnya pergi walaupun itu sangat berat baginya.
Sahabat yang telah menolong dia bangkit dari keputusasaan yang membelenggunya, mengembalikan dia kembali menjadi pribadi yang kuat dan tegar kini akan kembali ke kehidupan yang seharusnya. Kehidupan yang jauh. Dan menjauhkan mereka satu sama lain.
Air mata yang sedari tadi dipenjarakannya kini berhasil menembus pertahanan dan bebas mengalir keluar. Sasya pun demikian. Keduanya malah saling terisak dalam pelukan.
Mama Maya mendekati mereka. Sebenarnya dia tak sampai hati memisahkan keduanya ikut merasakan sakitnya perpisahan yang dilihat nya saat ini tapi ini memang harus dilakukannya.
"Sayang, " ucap mama Maya melerai pelukan keduanya. "Kalian masih bisa WA-nan, telponan, VC-an kan nanti. Kapan- kapan kita juga bisa main ke tempat Sasya, Sayang. "Mama Maya berusaha menenangkan putri tersayang.
" Kalian ini kayak gak akan pernah ketemu lagi aja." Chika dan Sasya tersenyum sambil terkekeh mendengar candaan yang barusan dilontarkan oleh mama Maya. Keduanya mengusap air mata masing-masing.
"Sasya tunggu ya, tante Maya dan keluarga maen ke rumah." Sasya mencium punggung tantenya. "Titip salam buat Om Vino ya, Tante. "
"Pasti,Sayang. Om Vino tadi malah udah nitip salam maaf buat kamu karena ada meeting pagi jadi nggak bisa nunggu kamu pamitan. "
"Gak papa Tante Sayang, ya udah Sasya berangkat sekarang ya Tante."
Sasya beralih memeluk kembali sepupu nya. "Baik-baik kamu ya, Chik. Awas jangan sampai kamu buat aku marah, " ancam Sasya dengan senyuman hangatnya. Chika hanya mengangguk beberapa kali. Dia takut jika mengeluarkan suara maka air matanya pun akan turut keluar.
Mobil yang ditumpangi pak Yossep dan Sasya segera melaju memecah keramaian jalan utama kota B. Sasya asyik menikmati pemandangan menyejukkan dari kaca jendela. "Suasana di sini masih asri ya Pak, nggak kayak di kota kita, " ucap Sasya di sela perjalanan.
Pak Yossep tersenyum. "Memang Mbak, suasana di sini masih sejuk. Mungkin karena dipengaruhi oleh kepadatan penduduknya yang juga mempengaruhi jumlah pengguna jalannya. " Dengan santai pak Yo menanggapi komentar nona mudanya. Dari dulu memang Sasya selalu menolak panggilan 'nona' untuknya dari para asisten rumah tangganya. Dia meminta untuk dipanggil mbak saja. Katanya itu membuatnya lebih nyaman.
"Kota ini membuat aku betah, Pak Yo, " celetuk Sasya sambil terkekeh. "Kalo minta kuliah di sini kira-kira dibolehin ayah bunda nggak ya pak? "
Pak Yossep tersenyum geli mendengar nona nya mengandai-andai. "Wah kalo itu kemungkinan besar jawabannya tidak, Mbak. Mana mau ayah dan bunda jauh-jauh dari Mbak Sasya."
Jawaban pak Yossep sukses memangkas kebahagiaan Sasya walau dalam angan-angan. Senyum indah di wajah cantiknya kian menyurut. Kemudian dia mengerucutkan bibir mungilnya yang kemerah-merahan.
Perjalanan yang cukup jauh membuat Sasya merasa ngantuk. Saat pak Yossep melirik kaca spion, dilihatnya nona muda tengah tertidur pulas. Terlukis seulas senyum hangat di bibir supir berkepala empat itu. 'Pantas saja sudah tidak mengajak ngobrol menanyakan ini itu, ternyata nona sudah terbuai mimpi. 'Gumam pak Yossep kembali fokus dengan kemudi.
Mobil yang membawa pak Yossep dan Sasya sampai di halaman rumah keluarga Setyawan dengan selamat. Suara deru mobil membuat Bunda Nayla berlari ke depan. Seakan tahu yang datang adalah putri tersayang nya.
Pak Yossep mematikan mesin mobil kemudian melongokkan kepala ke arah jok belakang. Dilihatnya nona nya masih terlelap. "Mbak Sasya, kita sudah sampai. "
Sasya mengerjapkan mata berkali-kali.Senyum dibibirnya seketika mengembang. "Alhamdulillah kita sampai dengan selamat ya, Pak Yo. Maaf Sasya malah ketiduran tadi nggak bisa nemenin ngobrol Pak Yo. " Sambil cengengesan Sasya meminta maaf karena ketiduran.
Pak Yo tersenyum. "Tak apa Mbak. Saya tahu perjalanan jauh pasti membuat Mbak Sasya kelelahan. "
Sasya keluar dari mobil disambut senyum hangat bundanya. Segera dia setengah berlari menubruk badan kecil namun berisi yang berjalan menghampirinya itu. Bunda Nayla yang tak menyangka akan ditubruk putri sulungnya sempat terhuyung. Namun segera bunda Nayla menyeimbangkan tubuhnya agar tak terjatuh.
"Sasya kangen, Bunda. " Sasya masih bergelayut manja dalam pelukan ibunda tercinta. "Mana Ayah dan Mel bun? "
"Bunda juga kangen sama Sasya. " Bunda mencubit hidung mancung Sasya. "Ayah ada meeting Sayang, kalau Mel ada kerja kelompok katanya. "
Sasya masih saja bergelayut manja. Akhirnya bunda Nayla mengajak anak perempuannya masuk kedalam rumah mereka.
Sasya meminta ijin bundanya untuk masuk ke kamar. Ada setitik rindu untuk kamar yang sudah tak dihuninya hampir sebulan lamanya. Dibukanya kamar kecil kesayangannya. Semua nampak rapi. Pasti bi Ningsih yang merapikan dan membersihkannya karena yang Sasya ingat kamar ini sangat berantakan saat terakhir kali ditinggalkannya. Tepat saat insiden itu.
Aroma melati kesukaannya bertebaran memenuhi ruangan kamar bertema white blue itu. Sasya menghempaskan tubuhnya di pembaringan. Dilepaskannya semua lelah. Sekarang dia bisa bernafas lega karena misinya mengembalikan Chika menjadi Chika yang sebenarnya telah berhasil. Semoga saja sepeninggalnya Chika tetap baik-baik saja.
Sasya teringat sesuatu. Diambilnya benda pintar berbentuk pipih dari dalam tasnya. Diklik nya beberapa kali. Tak selang beberapa lama terdengar sahutan dari seberang sana.
"Halo."
"Halo, Chika. Ini aku udah nyampe rumah dengan selamat. Aku udah nepatin janjiku dengan selamat sampai rumah. So... Kamu juga harus nepatin janji kamu untuk tetap menjadi Chika yang kuat, oke! "
Chika tersenyum samar. Entah ap makna senyum itu, hanya dia yang tau. "It's okay my sweety. "
"Good girl. "
Mereka terlibat obrolan singkat. Sasya memang harus sering mengontrol perkembangan sahabatnya. Dia tak mau sampai kecolongan lagi.