Miss My Sister

Miss My Sister
Siuman



Dengan susah payah akhirnya Sasya berhasil membaringkan tubuh Raymond di pembaringan.Sasya kemudian turun dan memanggil tante Salma. Tante Salma langsung menelponkan dokter untuk Raymond setelah mendengar cerita dari Sasya bahwa Raymond tak sadarkan diri dan badannya demam tinggi.


"Sya, tante minta tolong temani Raymond dulu sampai dokter datang ya. Tante mau telpon papanya Raymond dulu." Tante Salma langsung meninggalkan Sasya tanpa menghiraukan respon dari Sasya.


Sasya menghembuskan nafas kasar. Dia melangkahkan kakinya dengan lunglai menuju kamar cowok tampan tapi nyebelin itu.Setidaknya dia bersyukur karena rasa gugup yang memenuhi tubuhnya kian berangsur hilang.


Sasya memutar knop pintu perlahan. Di bukanya lebar daun pintu bercat biru itu. Dia sengaja membiarkan pintu itu tetap terbuka. Sasya duduk di sofa. Tampak olehnya wajah tampan itu tampak pucat. Dalam keadaan seperti itu tak sedikitpun kentara kalau si pemilik wajah adalah cowok yang sangat galak. Tapi mungkin memang benar. Sasya jadi mengingat saat pertama datang ke rumah ini, Raymond terlihat lembut dan penyayang.


Sasya meraup wajahnya dengan kasar. Dia merutuki dirinya sendiri. Bisa- bisanya pikirannya melayang sejauh itu.


Tap. tap.tap. Terdengar suara langkah.Sepertinya menuju ke kamar Raymond. Saat Sasya berdiri terlihat dua wanita cantik memasuki kamar Raymond. Satu diantaranya adalah tante Salma dan saat Sasya mengarahkan pandangan ke sebelah kanan matanya terbelalak kaget.


Dua wanita cantik itu semakin mendekati Sasya. "Ini Mbak Sasya bukan? " seorang dokter yang datang untuk memeriksa Raymond bertanya sedikit ragu. Dokter itu tak lain adalah dokter Yeni, dokter keluarga Setyawan yang sudah sangat dikenal oleh Sasya.


Sasya mengangguk perlahan sambil menarik kedua sudut bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.


"Alhamdulillah sudah sehat ya Mbak Sasya. Jangan lupa jaga pola makan dan cukup waktu istirahat. Semoga selalu sehat ya, " lanjut dokter Yeni sembari mengelus pangkal lengan Sasya. Dokter kemudian melanjutkan langkahnya menuju Raymond. Sasya hanya mengangguk dan mengamini dalam hati.


Dokter Yeni dengan cekatan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Raymond. Demamnya memang belum turun. Dokter Yeni memperkirakan ini gejala typus. Untuk lebih pastinya dokter Yeni menyarankan melakukan tes laboratorium secepatnya.


"Sasya tolong jaga Raymond dulu ya tante mau antar dokter Yeni keluar sekalian nebus obat di apotik. "


Huh... Sasya menghembuskan nafas kasar. 'Lagi -lagi tante Salma begitu saja meninggalkannya tanpa memperdulikan Sasya mau atau tidak.'


Sasya memilih main game di ponselnya. Sesekali di liriknya tubuh Raymond yang belum ada pergerakan. Lalu Sasya kembali asyik dengan game- nya.


Suasana masih sepi. Mata sipitnya sudah terasa lelah akibat terpapar sinar dari ponselnya cukup lama. Sasya meregangkan kedua tangannya ke atas, menggerakkan pelan kepalanya ke kanan dan ke kiri bergantian sekedar merilekskan otot-ototnya.


Gadis cantik itu kemudian berdiri.Melangkahkan kakinya asal saja. Dia melihat sebuah lukisan terpajang di dinding. Mata sipitnya tak berkedip sama sekali mengagumi keindahan yang di sajikan karya tersebut. Lukisan itu sepertinya diambil langsung karena jelas objek dari karya itu adalah keluarga Raymond. Silvy duduk di kursi. Raymond duduk di lengan kursi sebelah kanan Silvy. Sedang mama papanya berdiri di belakang mereka. Terlihat jelas keharmonisan keluarga tersebut. Kira-kira siapa pelukisnya ya... Aku jadi keinget Chika deh. Dia kan hobi melukis. Dan hasil lukisannya juga sangat bagus. Kalo menurutku sih. Hehe... ' Sasya terkekeh sendiri dengan gumamannya.


Sasya masih asyik memandangi karya cantik didepannya. Tiba-tiba terdengar seperti seseorang melenguh.


Sasya spontanitas menoleh ke arah Raymond. Karena hanya ada dirinya dan si galak itu di kamar. Terlihat gerakan halus dari badan kekar yang kini terbaring lemah. Mata hitam milik Raymond perlahan terbuka.


Raymond memijat lembut pelipisnya. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Sasya mendekat ke arah Raymond. "Akhirnya kamu bangun juga. " Gumaman lirih yang keluar dari mulut Sasya masi bisa di dengar oleh Raymond.


Bersambung...