
" Kalian jadi ikut, kan? " tanya Arvin saat mengemasi alat tulisnya.
" Jadi. " Kedua gadis cantik di bangku depan menjawab serempak.
Sasya dan Vega memutuskan untuk nebeng Arvin.Mereka bertiga langsung cap cus menuju parkiran. Sasya mencoba paksa melupakan kenangan terakhir yang tak mengenakkan antara dia dan Raymond walau bayangan kejadian itu selalu melintas di benaknya. Sudah di usir berkali-kali tapi tetap saja singgah.
Perjalanan yang memakan waktu 30 menit sudah membawa mereka ke rumah sakit tempat Raymond dirawat. Arvin dengan gercep nya menanyakan kamar tempat sahabatnya dirawat.
" Vin, katanya kamu semalam chat-an sama Raymond tapi kog nggak tanya ruang rawatnya? " tukas Vega tiba- tiba di sela perjalanan menuju kamar VIP tempat Raymond dirawat.
" Udah aku tanya tapi dia nggak balas." Arvin berjalan di depan dan kedua gadis cantik itu mengekor di belakang. Sampai depan lift yang masih tertutup mereka berhenti dan menunggu. " Asal kalian tahu, aku itu tahu Raymond masuk rumah sakit dari mamanya. "
Ting!
Pintu lift terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan gaya elegant nya keluar dari benda kotak tersebut. Arvin, Vega dan Sasya langsung memasuki lift tanpa dikomando.
" Itu gimana ceritanya Vin? Kamu chat-an ama mamanya Raymond kah? " Vega melanjutkan interogasinya.
"Jadi sorean aku WA si Raymond kanapa nggak skul. Nyampe malem kagag di bales guys. Aku khawatir aja ma keadaan dia jadi aku calling. Eh yang ngangkat emaknya. Dan ngasih tau kalo tu anak rawat inap."
Pintu lift terbuka bertepatan dengan berakhirnya cerita Arvin. Vega dan Sasya masih mengekor di belakang Arvin.
Sampailah mereka di ruang yang dituju. Sasya melihat tante Salma sedang duduk di kursi tunggu sambil mengotak- atik ponselnya.
" Permisi Tante, " Sasya mendahului menyapa mamanya Raymond. Tante Salma mendongak kemudian mengupas senyum indah yang mempercantik wajahnya walau sudah berumur itu.
" Eh, Sasya kan? " Balasan dari tante Salma itu membuat Arvin dan Vega saling berpandangan. Vega memang sudah mendengar semua cerita Sasya tentang hubungannya dengan Raymond yang tadinya dipikir pacaran, tapi Vega juga tidak menyangka kalau Sasya ternyata sudah sedekat itu dengan mama Raymond.
" Iya, tante. " Sasya hanya tersenyum mengiyakan.
" Ini teman- teman Raymond ya? "
"Iya tante, saya Arvin, " Arvin terlebih dahulu mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Tante Salma terlihat senang saat meraih tangan Arvin. Senyum dibibir merahnya mengembang.
" Saya Vega, tante, " Vega ganti berkenalan.
" Tante senang Raymond punya teman- teman yang baik seperti kalian. "
Arvin, Vega dan Sasya hanya tersenyum menanggapi perkataan tante Salma. Diam- diam Sasya mengagumi keramahtamahan yang selalu dilihatnya dari tante Salma.Sangat disayangkan sekali sifat itu ternyata tak menurun pada anak laki-lakinya. Bayangkan saja jika cowok tampan itu mengumbar keramahtamahan seperti ibunya pasti pesonanya akan semakin mengobrak-abrik kaum hawa.
" Kalian pasti datang untuk menjenguk Raymond kan? Di tunggu sebentar ya, Raymond sedang diperiksa dokter.Kalian duduk saja dulu sini. " Masih tetap dengan keramahtamahan yang hangat tante Salma mempersilahkan ketiga sahabat Raymond untuk duduk.
Vega dengan sengaja menyenggol lengan Sasya agar tersadar dalam lamunannya. Sasya terlonjak kaget kemudian asal saja mengikuti duduk di sebelah kiri Vega.
Arvin yang duduk tepat di sebelah kiri tante Salma terlibat dalam obrolan ringan. Baru kali ini Sasya melihat temen cowoknya yang menjadikan renang sebagai hobinya itu banyak bicara juga. Padahal jika di sekolah dua cowok yang duduk di bangku belakangnya itu sama-sama tak banyak cakap. Bercanda pun juga jarang-jarang.
Pintu kamar rawat Raymond terbuka menyembulkan sosok berjas putih yang senada dengan rambut putih memenuhi kepalanya. Tante Salma buru- buru menghampiri sosok tersebut yang tak lain adalah dokter yang menangani anak laki-laki kebanggaannya.
"Nyonya Salma bisa kita bicara sebentar? "
"Tentu, dok. "
"Mari ikut ke ruang saya. "
Dokter yang terlihat sudah berumur itu kemudian berjalan menuju ruangannya. Tante Salma bergegas mengekor di belakang setelah mempersilahkan ketiga tamunya masuk menemui anak sulungnya.
Raymond tampak terkejut melihat wajah- wajah yang memasuki ruangannya. Bibirnya reflek mengulas senyum tipis saat melihat wajah terakhir dari barisan itu.
"Halo, Bro, " Arvin ber- toast ala dia dan Raymond seperti biasanya dengan meninju pelan kepalan tangan mereka.
"Alhamdulillah.Sudah cukup baik, Bro. Bagaimana kalian tahu aku di sini? "
Raymond tampak heran ketiga temannya bisa tahu keadannya sekarang yang diharuskan rawat inap di rumah sakit. Pasalnya Sasya sudah lama pulang berselang dengan dropnya kondisi tubuhnya malam itu.
"Kita kan temen jadi ya tahu lah." Arvin menjawab dengan renyahnya. Vega yang duduk di sofa bersama Sasya di sisi kanan pembaringan menganggukkan kepalanya berkali-kali seakan mempertegas jawaban Arvin. Sedang Sasya tak bergeming sedikitpun.
"Kamu sakit apa sih, Ray sampai harus opname gini?" Arvin yang duduk persis di sebelah kiri ranjang Raymond mengawali interogasinya.
Raymond tampak memaksakan senyum di bibirnya yang pucat. " Aku cuma kecapean saja, Vin. Karena daya imunku melemah menjadikan aku drop. Biasalah mama aku yang terlalu takut terjadi apa- apa sama anaknya langsung membawa aku ke sini. "
Penjelasan Raymond seketika membuat Sasya mencebikkan pipinya. ' Masih aja bohong. Memangnya kenapa sih dia nggak jujur aja kalo nganggep kita- kita itu temannya. ' Protes Sasya dalam hati.
Sasya seakan tidak rela mendengar pengakuan bohong dari Raymond langsung menyambar. " Aku rasa kalo cuma seperti itu kondisinya dokter tidak akan menyarankan opname deh. Biasanya paling cukup dengan rawat jalan aja. "
Raymond merasa tertampar dengan ucapan Sasya yang menurutnya adalah sebuah serangan pembuka.
' Ni anak selalu aja bikin emosi aku naik. ' Geram Raymond dalam hati. Bahkan tak ada yang menyadari tangan kanannya mengepal erat menahan gejolak amarah yang tengah tersulut.
"Tapi bener juga apa kata Sasya kan, Ray. Kalo tidak ada sesuatu dan cuma ngedrop karena kecapean pasti dianjurkan rawat jalan? " Vega mencoba meresapi ucapan gadis cantik di sebelahnya.
" Kalian itu belum tahu bagaimana protektifnya mama aku ke anak- anaknya sih. "
Mendengar kalimat yang terakhir diucapkan Raymond, Sasya justru makin kesal saja. ' Masih aja nggak mau ngaku!' Sasya mencoba menumpahkan kekesalannya dalam hati.
Sasya tahu Raymond pasti punya alasan yang kuat kenapa dia harus menyembunyikan keadaannya saat ini. Sasya akhirnya mengalah dan berusaha menenangkan hatinya.
" Terserah! Itu bukan urusanku. Dasar sok kuat" Maki gadis bermata sipit itu sembari menghela nafas panjang.
Bersambung...