Miss My Sister

Miss My Sister
Di Panggil Ke Kantor



Langit pagi ini tampak gelap berhias mendung di mana-mana. Sasya berusaha tetap semangat walau cuacanya sangat cocok untuk bermalas-malasan.


Jam setengah tujuh Sasya sudah sampai di gerbang sekolah. Dia melangkahkan kaki jenjangnya dengan ringan memasuki kelasnya. " Pagi, Bella. " Sasya menyapa satu- satunya penghuni kelas 1A yang memang selalu datang paling awal dari yang lain. Kecuali hari itu memang dimana Sasya memegang alih rekor terpagi dari tangan Bella hanya untuk sehari.


" Pagi, Sasya, " balas Bella ramah. " Tumben pagi bener udah nyampai, Sya? "


Sasya tersenyum renyah sambil melepas tasnya dan duduk di kursinya. " Iya nih Bella, takut ujannya keburu turun. "


" Iya nih, tadi aku juga mengkhawatirkan hal yang sama seperti kamu, Sya. Untung udah nyampe skul ujannya belum nyusul. "


" Semoga aja ujannya nggak jadi turun ya, Bel.Nggak asik kalo ujan. Penjelasan dari guru ntar nggak kedengeran. " Sasya asal bicara.


"Amin... Aku juga berharapnya begitu, Sya." Bella beranjak dari duduknya. " Mau ikut ngantin dulu nggak Sya? " tawar Bella yang memang terbiasa sarapan di kantin sekolah.


" Nggak deh, Bel. Aku tadi udah sarapan. Masih penuh, " ucap Sasya sambil mengusap perutnya.


" Oke, kalau gitu aku duluan ya, " pamit Bella melenggang pergi.


Tinggallah Sasya sendiri di kelasnya. Bosan pasti iya karena tak ada yang bisa di ajak bicara. Akhirnya Sasya mengambil benda pipih di dalam tasnya kemudian membuka aplikasi game dan memainkannya.


Selang kurang lebih sepuluh menit, warga kelas 1A sudah mulai berdatangan. Kelas unggulan itu mulai penuh. Vega pun sudah duduk di kursinya. Sasya yang terlalu asyik dengan game-nya sampai tidak menyadari kedatangan sahabatnya.


Vega hanya melirik sekilas Sasya yang masih sangat asyik memainkan benda pipih itu lalu mengeluarkan buku pelajaran pertamanya. Wajahnya terlihar sekali tak bersemangat.


Sasya menghentikan gerakan lentik jari- jemarinya. Dia meringis mempertontonkan deretan gigi putihnya. Gadis cantik juara kelas itu kemudian menyimpan HP nya kembali di dalam tas.


" Selamat pagi anak-anak, " sapa bu Indri yang baru saja masuk ke dalam kelas.


" Selamat pagi, bu, " balas seisi kelas kompak.


Bu Indri memulai pelajaran dengan menjelaskan materi terlebih dahulu barulah mencoba memberi contoh soal dan pembahasannya.


Pelajaran berlangsung dengan hikmad.Bu Indri kemudian memberikan tugas kepada anak kelasnya berkenaan materi yang barusan disampaikan.


Jam pelajaran tinggal 10 menit menjelang Bel istirahat. Bu Indri sudah mengakhiri pelajaran danl melangkah kaki jenjangnya yang berbalut rok payung warna navy di padu dengan blouse motif polkadot menambah keanggunan wanita paruh baya berkepala 4 itu.


" Sasya dan Raymond, ikut ibu ke kantor. Ada yang ingin ibu bicarakan. " Tahu- tahu bu Indri yang sudah sampai di pintu kelas membalikkan tubuhny dan memberi perintah pada kedua siswanya.


"Baik, bu, " jawab Sasya dan Raymond bersamaan dan segera berdiri melaksanakan perintah sangat wali kelas.


" Emang ada apa Sya, kenapa kita dipanggil ke kantor ? " Raymond yang diantara merasa takut kalau-kalau sudah melakukan kesalahan bertanya pada gadis yang berjalan disebelahnya.


" Mana saya tahu. Yang penting kita nggak perlu takut karena kita yakin tidak melakukan kesalahan. " Sasya mencoba menenangkan kegelisahan yang melanda temannya itu.


Bersambung...