
Sasya tidur di kursi samping ranjang Chika. Tidurnya tampak lelap malam ini. Tangannya masi saja asyik menggenggam jemari Chika.Sasya melenguh dan menguap. Dengan setengah sadar di liriknya jam tangan navy kesayangannya. 'Baru jam 2 ternyata. 'Gumamnya sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Sasya pun memutuskan untuk meneruskan tidurnya kembali.
Tiba-tiba Sasya merasakan ada pergerakan dalam genggaman Sasya. Sasya terlonjak. Dipaksakan matanya terbuka lebar. Dan benar apa yang dirasakan ternyata juga dilihatnya. Senyum kebahagiaan terajut sudah. Ditekannya tombol emergency untuk memanggil dokter.
Tak berselang lama dokter sudah memasuki ruangan rawat Chika diikuti oleh dua orang suster. Sasya pun akhirnya meninggalkan ruang rawat Chika atas perintah sang dokter guna kelancaran pemeriksaan.
Saat keluar Sasya langsung ditubruk oleh tnte Maya. Dibelakang om Vino terlihat mengembangkan senyum lebarnya. "Semoga ini menjadi awal yang baik untuk Chika ya, Sya, " gumam tante Maya seperti berbisik di telinga Sasya. Sasya melepas pelukan tante Maya lalu mengangguk mantap disertai senyum kebahagiaan. "Kita harus selalu mendoakan yang terbaik untuk Chika, tante. Sasya yakin Chika anak yang kuat. Dia pasti bisa melalui ini semua."
Dokter keluar dari ruang rawat Chika.Tante Maya dan Om Vino berlari serempak mendekat ke arah sang dokter walau tanpa di komando. Sasya hanya berdiri masih di kursi tunggunya.
Senyum yang tercipta di bibir sang dokter membuat Sasya tampak lega. Rasanya senyum itu sudah mewakili kabar baik yang akan dia sampaikan.
"Gimana Dok, keadaan putri saya? " Lagi-lagi tanpa di komando pun tante Maya dan om Vino serempak melontarkan kalimat pertanyaan yang sama untuk sang dokter.
"Puji Syukur Yang Maha Kuasa, Chika sudah sadar dengan kondisi yang stabil." Dokter Indra tersenyum, menambah pesona ketampanan wajahnya. "Sudah bisa di jenguk Bu Maya, Pak Vino, tapi tolong jangan terlalu banyak diajak bicara apalagi perihal yang berat ya, Pak, Bu. Biar tidak memicu stres. " Dokter Indra berpesan kemudian pamit untuk memeriksa pasien yang lain.
Sepeninggal dokter Indra, tante Maya dan om Vino langsung masuk ke ruang rawat Chika. Sebenarnya Sasya pun sudah tidak sabar ingin melihat Chika, tapi dia tahu orang tuanya lah yang lebih berhak bertemu lebih dulu.
Tak lama kemudian tante Maya dan om Vino keluar dan memberi kode kepada Sasya untuk masuk. Wajah Sasya berbinar. Dia segera beranjak menuju sepupu tersayang.
Sesampainya di dalam, Sasya langsung memeluk erat gadis berambut pendek ala polwan itu. Seakan menuangkan segala kerinduan yang kian lama ditahan. Chika membalas pelukan Sasya sama eratnya. Kebahagiaan menyelimuti Chika bahkan melebihi saat dalam pelukan orang tuanya.
"Dasar nakal." Sasya melepas rengkuhannya lalu mencubit hidung mancung sahabatnya.
"Auw! "teriak Chika yang meringis kesakitan.
" Kali ini aku memaafkanmu karena tak menyambut kedatanganku bahkan sampai berhari- hari membuatku menunggu tanpa menyapaku, tapi ingat kalau sampai kamu mengulanginya lagi makan aku tak kan memaafkanmu walaupun kau meminta maaf seribu kali. Kamu harus ingat itu! "ancam Sasya dengan wajah merajuk.
Yang diancam justru terkekeh. " Aku janji takkan mengulanginya lagi. Aku pasti orang pertama yang akan menyambutmu kelak saat kamu kembali kesini."
Keduanya saling melontarkan kalimat candaan. Terlihat tawa bahagia seakan tak ada beban yang membelenggu mereka.
Tante Maya tersenyum melihat anak dan keponakannya tertawa riang bersama. Semua itu dilihatnya dari kaca pintu kamar Chika. Tante Maya melambaikan tangan ke arah suaminya. Om Vino pun segera mendekat dan ikut mengintip kebahagiaan putri kesayangannya.