Miss My Sister

Miss My Sister
Kembali Sekolah



Kicau burung nan merdu membangunkan Sasya dari istirahat malamnya. Di liriknya jam beker di atas nakas. Mata Sasya terbelalak kaget.


”Oh My God! " pekik Sasya sambil menutup mulut mungilnya dengan sebelah tangan.Dia langsung melompat dari ranjangnya dan kemudian masuk ke kamar mandi.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mandi. Wow! Ini rekor tercepat nya mandi teman-teman. Sasya bergegas memakai seragam yang sudah hampir sebulan ini tak di pakainya.


Bunda Nayla, Ayah Riko dan Mel sudah menunggu di meja makan untuk sarapan pagi. Mel sudah jengah rasanya menunggu kakaknya tak kunjung turun.


Dengan setengah berlari Sasya menuruni anak tangga. Suara sepatunya tentu membuat dia menjadi pusat perhatian. Saat berada di meja makan dia hanya meringis tanpa rasa bersalah. "Selamat pagi semua. " Dengn nafas ngos-an dia duduk di kursinya.


"Mbak Sasya bangun kesiangan ya? " tebak Mel. Sasya hanya manggut-manggut sambil nyengir. "Tumben.Ini bisa di masukkan rekor MURI dong. Hahaha.. " Gelak tawa Mel membuat ayah dan bundanya tersenyum. Sedang Sasya hanya mengerucutkan bibir seksinya.


Acara sarapan berjalan dengan hikmat. Mel dan Sasya berpamitan berangkat ke sekolah di antara pak Yossep.


"Kak Chika apa kabarnya Mbak? " tanya Mel di sela perjalanan.


"Alhamdulillah Mel, Chika udah lebih baik. Aku lihat dia udah kembali menjadi Chika kita. Tapi... "


"Tapi? "


"Tapi aku takut saat dia sendiri akan menjadi beban berat buatnya. Tapi semoga ini hanya kekhawatiranku saja."


"Semoga saja ya Mbak. Aku juga akan bantu support kak Chika. Aku akan sering kontak dia. "


Senyum Sasya mengembang lebar. Di toelnya pipi Mel yang padat berisi. "Makasih adekku sayang. "


Sasya menyusuri koridor menuju kelasnya. Suasana tampak ramai tak seperti biasanya.


'Oh iya mungkin ini karena aku sampai di sekolah lebih siang dari biasanya. 'batin Sasya saat mengingat dia bangun kesiangan pagi tadi.


"Sasya, " panggil seseorang dari arah belakang Sasya dan Sasya merasa dia kenal betul pemilik suara cempreng itu.


Sasya memutar tubuhnya. Dan benar saja seperti perkiraannya. Kini Vega sudah menyadari Sasya berjalanwnuju kelas mereka.


Sasya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maapin ya guys, HP aku ketinggalan di rumah. Dan urgent banget aku kudu menginap di kota B. Sepupu aku depresi berat., bahkan mencoba bunuh diri. Menurut keluarga hanya aku yang bisa membantu pemulihan psikisnya karena aku yang paling dekat dengannya. "


"Wah, parah gitu Sya.Apa gara-gara putus cinta? "


Sasya menggeleng. " Dia ditinggalkan begitu saja tanpa tahu apa kesalahannya. Pacarnya ilang entah kemana. "


"Ih, tu cowok nggak tanggungjawab banget sih. Ujug-ujug ngilang kayak jaelangkung aje. "


"Padahal sepupu aku itu type cewek tegar, Ve.Aku dan Mel sangat mengagumi ketegarannya. Aku aja nggak percaya pas denger dia meminum semua persediaan pil tidurnya."


"Apa bener dia type cewek tegar? "


Sasya seketika memandang tajam ke arah Vega.


Vega hanya meringis. Dia mulai memahami sahabatnya sedang dalam mode serius. "Bukannya gak percaya bestie, cuma kan aneh aja. Massa orang yang tegar jadi KO gitu? "


"Aku kan juga uda bilang tadi kalo aku bahkan tak percaya saat denger kabarnya. Tapi setelah aku bicara dari hati ke hati dengannya aku jadi tahu apa yang membuatnya menjadi sangat rapuh. "


Vega menatap dalam sahabatnya. Tersirat kesedihan yang mendalam. Seakan Sasya lah yang mengalami semua itu.


"Sya, " sapa Raymond saat Sasya dan Vega sampai di kursi mereka. Sasya hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi. Kemudian duduk di kursinya.


Pak Dismas memasuki kelas kemudian memulai pelajaran. Sasya memperhatikan dengan seksama. Memahami setiap rumus yang di ajarkan. Pak Dismas memberikan beberapa soal serupa untuk menguji kepahaman para siswa.


Bel istirahat berkumandang. Sasya dan Vega beranjak hendak ke kantin.


"Apa kamu tidak merindukan seseorang? " tanya Raymond tiba-tiba membuat Sasya mematung.


Bersambung...