
Sasya dan peri kecilnya sudah sampai di kebun binatang sejak setengah jam yang lalu. Sasya sangat lega melihat senyum kebahagiaan terus menghiasi bibir mungil peri kecilnya.
" Kakak cantik, liat itu! " teriak Silvy. Sasya segera mendekat. Dilihatnya apa yang ingin ditunjukkan oleh gadis kecil yang cantik itu. " Anak sapinya lucu ya, kak. Lagi ***** mamanya. "
Sebuah senyuman tulus tercipta di bibir ranum gadis bermata sipit itu. Di belainya rambut lurus milik Silvy yang berkibar terkena hembusan angin. Entah mengapa hati Sasya menjadi rindu akan Mel kecil yang tak kalah menggemaskan dari gadis kecil yang sekarang ada di hadapannya.
Sasya terus melangkah mengikuti kemana peri kecilnya pergi. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Bertanya ini itu bab hewan yang dikunjungi penuh keriangan.
Tak terasa panas terik matahari mulai terasa menyengat kulit putih mulus milik Sasya yang menjadi bersemu merah akibat kepanasan. Kakinya pun sudah mulai merasa pegal.
" Sayang, kita rehat bentar yuk, " Sasya menghentikan langkahnya kemudian berjongkok di depan gadis kecilnya.
Yang diajak bicara mengangguk. "Ayuk, kak. Silvy juga udah capek. "
Sasya membimbing Silvy menuju kursi panjang dibawah rindangnya pohon beringin dan duduk di sana.
"Apa setelah ini kita pulang, kak? " tanya Silvy setelah menghabiskan jus alpukatnya.
"Kalau itu kakak cantik ngikut maunya Silvy dong sayang, " jawaban Sasya seketika menciptakan tarikan kedua sudut bibir peri kecilnya.
" Berarti kita pulang sore ya kakak cantik, " pinta peri kecil dengan gaya bicaranya yang menggemaskan.
" Boleh. " Sasya mencubit ujung hidung mancung itu gemas.
" Sebenarnya Silvy kangen kak Raymond. " Tiba-tiba suara parau terdengar keluar dari mulut mungil itu. Air mukanya berubah sedih.
Sasya tersenyum mencoba mengalihkan kesedihannya. " Silvy yang sabar ya sayang karena belum boleh datang ke rumah sakit untuk menjenguk kak Raymond." Sasya menyelipkan rambut Silvy yang berkibar menutupi sebagian wajahnya imutnya ke belakang daun telinganya. " Silvy do'akan saja biar kak Raymond cepat sembuh dan pulang. Jadi Silvy bisa bertemu kak Raymond kapan aja. "
" Silvy udah do'ain kak Raymond terus supaya cepat sembuh bahkan juga supaya cepat ketemu kak Lia. "
Sasya seketika menegakan badannya beralih memandang penuh gadis kecil di sebelahnya. Terlihat gadis kecil itu memandang nanar jauh ke depan.
" Andai kak Lia ada di sini pasti kak Raymond cepat sembuh. " Sasya seperti tak percaya sedang berbicara dengan anak usia sekitar 6 tahun. Pemikirannya terkesan jauh lebih dewasa dari umurnya.
"Setelah pulang dari kota B, kak Raymond murung terus. Padahal pas berangkat kak Raymond terlihat sangat bahagia dan bersemangat. "
Tiba-tiba gadis kecil itu menggenggam erat jemari lentik Sasya. " Kakak cantik, maukah Kakak menolongku? "
Sasya terhenyak mendapati pertanyaan itu ditujukan untuknya. Sasya menyunggingkan senyum renyahnya. " Tentu saja sayang, kakak pasti bersedia menolong gadis cantik sepertimu. Memangnya kakak harus bantu apa sayang? "
Gadis kecil itu tak langsung menjawab. Dia tampak seorang yang sedang menimbang- nimbang sesuatu. " Tolong bantu kak Raymond supaya bersemangat lagi terutama untuk melawan penyakitnya, kak. "
Tatapan mata yang tulus itu seakan mengobrak-abrik hati Sasya. ' Oh, Raymond betapa beruntungnya kamu dikelilingi oleh orang- orang yang sangat menyayangi kamu. ' Gumam Sasya dalam hati.
" Apa kamu sangat menyayangi kakak galak kamu itu sayang? " Sasya bukannya menjawab permintaan Silvy malah balik bertanya.
" Siapa yang bilang kak Raymond galak? "
Mendengar jawaban dari peri kecil membuat Sasya melongo. Setelah apa yang dilihatnya malam pertemuan pertama mereka Silvy bahkan seperti tidak terima Raymond di katakan cowok galak.
"Kak Ray itu kakak yang baik dan penyayang. Walaupun dia dingin dan keras kepala tapi dia sangat menyayangi Silvy, kak. " lanjut Silvy dengan senyum cantik di bibir imutnya. " Bahkan seinget Silvy kak Raymond tidak pernah membentak atau berlaku kasar pada Silvy. "
Baru saja mulut Sasya ingin membantah pernyataan Silvy yang dilontarkan barusan tapi Silvy sudah mendahuluinya seakan tahu apa isi pikiran Sasya. " Kalau malam itu memang Silvy yang salah kok kak. "
Flashback On
Semua itu tak luput dari penglihatan adik semata wayangnya. " Kak, aku ikut, " Silvy merengek. Raymond yang tak bisa melihat adiknya bersedih tak kuasa menolaknya. Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan kediaman Pratama.
Tak ada suara dalam perjalanan mereka. Silvy pun seperti tahu situasi tak banyak bertanya. Hingga akhirnya Raymond asal menepikan mobilnya dan berhenti.
Raymond menundukkan kepalanya bersandar di kemudi. Silvy masih diam mengamati kakaknya. Sampai dia yakin kakaknya meneteskan airmata dalam diamnya.
" Kak Raymond, " sapa Silvy berusaha mencairkan suasana. " Silvy sayang kak Raymond. "
Mendengar adiknya bersuara menyadarkan Raymond dari keterpurukan. Dia mendongakkan kepalanya. Terlihat jelas jejak air mata yang buru- buru disekanya.
"Kakak jangan bersedih lagi ya, " hibur Silvy. Raymond tersenyum getir menanggapi usaha yang dilakukan oleh adik kecilnya.
" Oh ya kak, kapan- kapan kalau kakak mau mengunjungi kak Lia, aku ikut ya. Soalnya Silvy belum sempat berpamitan karena kita pindahan mendadak. " Silvy yang hanya melihat pertengkaran kakak dan papanya dan tak mengerti duduk permasalahan perkaranya melontarkan kalimat yang mampu menusuk ulu hati sang kakak.
Raymond menjadi tambah gusar. " Lupakan dia karena kita tak akan bertemu lagi dengannya. "
Silvy merasa sakit dengan perkataan kakaknya yang disangkanya melarang bertemu dengan kak Lia. " Kak Raymond jahat, kenapa aku nggak boleh ketemu lagi dengan kak Lia?! Kenapa aku harus melupakannya? !" Tanpa disangka Silvy berteriak tak terima dengan larangan kakaknya.
Raymond yang memang masih di kuasai emosi terhadap papa tercintanya yang sedari tadi mencoba menahannya agar tidak meledak karena keberadaan Silvy mulai tak bisa mengendalikan diri.
" Silvy! Diam dan menurut lah! " bentakan yang tak biasa di dapatkan dari kakak tercinta membuat Silvy sedih bukan main dan tanpa pikir panjang lansung keluar dari mobil dan berlari sambil menangis.
Flashback Off
" Dan saat itulah aku bertemu kakak cantik. Aku minta maaf karena akhirnya kemarahan kak Raymond terlampiaskan pada kakak cantik. "
Sasya terpaku mendengar cerita dari peri kecil. Sungguh sangat berharga sosok Lia bagi kehidupan Raymond juga adik semata wayangnya ini. Entah mengapa Sasya menjadi ingin menggali lebih dalam.
" Kalau boleh tahu kak Lia itu siapa sih sayang? "
"Kak Lia itu pacar kak Raymond kak. Dia cantik dan baik. Dia juga udah seperti kakak kedua aku. " Silvy terus bercerita sambil memakan snack yang tadi dibelikan Sasya.
" Dia sering mengunjungi aku. Menemani aku belajar dan bermain. Mama juga udah terlanjur sayang katanya. Pokoknya kak Lia yang terbaik. " Silvy mengacungkan jempolnya.
Walau deskripsi seorang Lia tidak begitu detail tapi Sasya sudah bisa mengerti dengan pasti dan jelas sekarang seperti apa berharganya seorang Lia terutama untuk Raymond dan Silvy.
" Kakak cantik tau nggak satu hal rahasia? "
"Rahasia? " Sasya tergugah. Sedikit banyak penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh peri kecil.
Gadis kecil itu mengangguk mantap lalu berkata. " Kakak cantik itu mirip sekali dengan kak Lia. "
Deg!
Sasya tersentak. Dia terpaku untuk sesaat. " Mirip apanya sayang ? " tanya Sasya saat sudah bisa menguasai diri kembali.
" Semuanya. Mirip cantiknya dan mirip baiknya. Silvy juga sayang kakak cantik. "
Sasya terbengong sesaat mendapat dekapan tiba-tiba dari gadis kecil menggemaskan itu. Dia pun membalas dekapan itu dengan lembut.
Bersambung...