Miss My Sister

Miss My Sister
Senyum Kesedihan



Mobil hitam itu kini telah menghentikan lajunya. Raymond menatap gadis cantik di jog belakang yang segera menggerakkan tubuhnya keluar dari mobil. Raymond pun menyusulnya.


" Ayo Sya kita masuk," ajak Raymond. Dia berjalan mendahului Sasya. Sasya hanya mengikuti di belakang. Sasya sedikit heran melihat rumah Raymond yang begitu sepi. Raymond menghentikan langkahnya dan berniat berbalik tapi dia sudah keduluan di tubruk tubuh Sasya yang tadi jalan sambil mengarahkan mata ke sana ke mari keheranan dengan suasana rumah yang begitu sepi.


Padahal rumahnya segede gini apa tidak ada asisten rumah tangga nya juga. sepi banget kayak kuburan. Mana peri kecil betah di rumah ini. Kecamuknya dalam hati.


"Auw! " teriak Sasya saat tubuhnya terasa terbentur sesuatu yang tak lain adalah tubuh Raymond. Sasya menjadi malu sendiri saat mendongakkan kepalanya dan mengetahui Raymond lah yang sudah dia tabrak. Untung saja Raymond masih berdiri membelakangi nya. Coba kalau tadi dia sudah berbalik badan bisa tambah malu kan dia dengan apa yang nantinya terjadi.


Namun bukan Sasya jika tak bisa membalikkan keadaan untuk menutupi rasa malunya. "Kamu gimana sih Ray, berhenti mendadak gitu. Sengaja ya biar ketabrak? "


"Ini uda sampai kamar Silvy Sya, ya terang aja aku berhenti.Kamu aja yang jalan sambil melamun sampai gak lihat aku berhenti. Mana pakai nuduh segala lagi aku sengaja ingin kamu tabrak. Kayak kamu artis terkenal aja. " Rupanya Raymond sengaja menyerang balik tuduhan Sasya. Sebenarnya dia ingin diam saja mengalah karena tak ingin berdebat tapi entah kenapa dia ingin melihat wajah kesal Sasya yang akan menjadi begitu menggemaskan menurutnya.


Mulut Sasya terbungkam dengan kata-kata Raymond barusan. Alangkah malu dirinya saat ini. Dia hanya menundukkan wajahnya. Berharap Raymond tak melihat wajahnya yang merah karena malu.


Raymond menghela nafas menyadari situasi sedang tidak baik- baik saja. " Ya udah, aku masuk duluan ya. Nanti setelah aku panggil kamu baru masuk. Aku ingin menjadikan ini surprise untuk Silvy. "


Sasya mengangguk mengiyakan. Raymond mengetuk pintu kamar memanggil nama adiknya kemudian memasukinya setelah mendengar sahutan dari sang adik.


"Halo Sayang, gimana badan kamu. Masih lemaskah?" tanya sang kakak yang hanya mendapat anggukan dari yang ditanya.


" Pasti balum makan? " tebak sang kakak yakin. Lagi-lagi lagi hanya mendapat anggukan sebagai jawaban.


" Bagaimana nggak lemes kalo kamu masih tidak mau makan Sayang." Raymond duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut puncak kepala sang adik kesayangan. "Ayo dong Sayang jangan terus-terusan bikin Kak Ray dan Mama Papa sedih terus melihat kamu begini Sayang."


Sasya dari luar kamar yang memang sebagian terbuka mendengar semua pembicaraan kakak beradik itu. Dia dengan jelas mendengar kelembutan Raymond pada peri kecilnya.Sama sekali dia tak menyangka Raymond bisa selembut itu. 'Tidak. Tunggu Sya. Jangan berspekulasi dulu. Bisa saja Raymond bersikap seperti itu karena adanya keberadaan kamu di sini. Ya. Jangan- jangan dia sedang berakting.' Gumam Sasya tak mau sampai terkecoh.


"Oh iya Sayang, Kakak bawa hadiah yang pasti bakal buat Silvy seneng. Coba tebak apa yang kira- kira Kakak bawa? " Raymond mencoba menggugah semangat adiknya.


Namun adiknya masih jelas terlihat tak bersemangat. "Sudah Silvy bilang kan, Kak. Hanya kakak cantik yang bisa bikin Silvy seneng. Dan itu tidak mungkin terjadi kan? Kakak hanya terus berjanji akan membawa kakak cantik,tapi bohong. " Silvy kembali tertunduk lesu.


Ada butiran hangat yang hendak menyeruak keluar dari kelopak mata pria tampan itu. Dia jadi penasaran juga apa yang sudah diperbuat Sasya pada adik semata wayangnya ini hingga menjadikan dia begitu berarti baginya.


Dibalik pintu kamar Sasya bahkan sudah menjatuhkan kristal bening dari mata sipitnya. Dia bahkan tak menyangka begitu besarnya keinginan Silvy ingin berjumpa dengan dirinya. Rasanya dia ingin segera masuk dan memeluk tubuh mungil milik peri kecilnya.


"Sayang, dengerin Kakak? " Raymond memegang kepala adiknya dengan kedua tangannya. Mengarahkan wajah Silvy agar memandang kearahnya. "Kakak gak pernah bohongin Silvy. Kakak akan buktikan kalau Kakak akan menepati janji."


"Halo Peri kecil." Sasya tiba-tiba nyelonong masuk. Menyapa peri kecil dengan senyum riangnya. Silvy yang seakan sudah hafal siapa pemilik suara itu buru- buru mendongakkan kepala dan seketika senyum lebar penuh kebahagiaan tersungging di bibir mungilnya.


" Kakak cantik, " teriak Silvy girang langsung meloncat dari pembaringan berlari dan berhambur ke tubuh Sasya.


Sasya yang tanpa persiapan ditubruk keras terhuyung hampir jatuh terjengkang ke belakang. Beruntung Raymond dengan sigap menangkap tubuh Sasya.


Reflek saja tangn Sasya berpegangan pada lengan Raymond untuk tumpuan mendapatkan kembali keseimbangan tubuhnya. Setelah bisa berdiri tegak dengan seimbang Sasya melepaskan pegangannya. " Thanks, " Sasya memaksakan bibirnya tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba badannya melemas dan detak jantungny berpacu lebih cepat.


Raymond tersadar akan suasana yang membuatnya kikuk. Ya sesaat saat Sasya mendongakkan kepala dalam pelukannya tadi dan tatapan mata mereka bertemu membuat ada desiran aneh yang bergerak dalam hatinya.


Raymond melepaskan pelukannya dengan Sasya.Membiarkan Sasya merengkuh adik kesayangannya.Setelah beberapa lama akhirnya Raymond meminta Sasya untuk membantu Silvy makan. "Kakak cantik, si Peri kecil belum makan ini."


Sasya tersenyum. Dia tahu harus berbuat apa mendapat kode keras dari sang kakak. "Kak Raymond boleh diambilkan makanan untuk si peri nakal ini ya yang tak mau makan, " canda Sasya sambil mencubit hidung mancung Silvy.


"Tentu." Raymond segera berlalu. Tak lama kemudian kembali membawa nampan yang berisi makanan untuk Silvy.


Sasya segera mengambil alih nampannya. Mengambil nasi lalu di sendoknya sup daging dan di siapkan ke arah mulut si peri kecil. " Awas Peri kecil ini ada pesawat mau masuk ke gua ya.... siap... goal... "Sasya menyuapi Silvy dengan sabar dan telaten. Dan akhirnya nasi dalam mangkuk beserta sup dagingnya habis tak tersisa. Raymond begitu senang melihatnya.


Setelahnya Raymond meninggalkan mereka berdua bercengkrama dan bercanda bersama. Dia duduk di sofa ruang tengah. Dia merasa lega dan sangat bersyukur akhirnya Sang Pencipta mempertemukannya dengan Sasya. Siapapun dia, yang jelas senyum ceria di bibir adik kesayangannya kembali atas kehadirannya.


"Raymond, " sapa Sasya membuat Raymond terhenyak.


Sasya duduk di sofa di depan Raymond. "Silvy sudah tidur, jadi aku pamit pulang ya. "


"Aku akan mengantarmu." Dengan cepat Raymond menyambar kunci mobil di meja lalu bergegas berdiri.


Sasya ikut berdiri. "Gak usah Ray, aku bisa naik taxi. " tolak Sasya membuat langkah Raymond seketika berhenti lalu membalikkan badannya.


Raymond memandang ke arah Sasya dengan sayu. Sasya sendiri tak bisa meraba maksud pandangan tersebut. Tapi dia dapat melihat ada kesedihan yang bersemayam di sana.


Bersambung...