Miss My Sister

Miss My Sister
Makan di Pinggir Jalan



Sasya seakan terhanyut dalam kesedihan yang tersirat dalam senyum Raymond. Apakah mungkin ini berkaitan dengn sakitnya Silvy?


Melihat tak ada pergerakan dari Sasya, Raymond menarik tangan Sasya. Sasya pun hanya menurut. Sasya tidak tahu kenapa sekarang pandangannya terhadap Raymond berubah. Sasya merasa Raymond yang sekarang yang dilihatnya lah Raymond yang sesungguhnya. Raymond yang baik, lembut dan penyayang terhadap adiknya.


Tapi kenapa pada pertemuan pertama mereka Raymond bersikap lain. Menjadi sosok yang kasar, galak dan mengerikan untuk adiknya. Hingga membuat adik cantiknya begitu ketakutan. Ataukah mungkin terjadi sesuatu di hari itu.


"Sya, ayo naik!"Raymond sedikit mengeratkan genggaman tangannya agar gadis cantik di depannya tersadar dari lamunan. Sasya meringis malu. Lagi- lagi dia ketahuan melamun lagi.


Sasya memasuki mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Raymond. Kali ini dia bersedia duduk di samping kemudi. Raymond tersenyum melihat kakak cantik adik kesayangannya tidak menolak lagi. Sepertinya kamu sudah tidak terlalu buruk menilaiku. Gumam Raymond disertai senyum yang menambah aura ketampanannya.


Raymond melajukan mobilnya perlahan memecah keramaian jalan. Dalam perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. "Kita makan dulu ya, Sya." Raymond memberanikan membuka mulut yang sedari tadi bungkam.


"Langsung pulang aja, Ray. Nanti aku makan malam di rumah. " Tepat seperti dugaan ajakan nya ditolak oleh gadis cantik bermata sipit itu.


"Ayolah, Sya. Anggap ini sebagai ungkapan terimakasihku karena kamu bersedia menjenguk Silvy. "Raymond berusaha membujuk gadis di sebelah nya.


No! Untungnya satu kata itu tak jadi keluar dari mulut Sasya. Saat ini Sasya kembali melihat senyum sayu itu. Dan itu membuatnya tak tega. Akhirnya dia mengangguk mengiyakan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Mobil berhenti di depan sebuah warung tenda di pinggir jalan. Ya. Tadinya mereka sudah berhenti di depan sebuah cafe. Namun Sasya mengajak Raymond makan di pinggir jalan saja. Awalnya Raymond menolak karena jujur dia belum pernah makan di pinggir jalan. Tapi karena Sasya mengancam tidak mau makan dan minta pulang akhirnya Raymond mau tidak mau menyetujuinya.


Mereka memasuki warung dan duduk bersebelahan. Raymond melihat sekeliling. Setelah beberapa menit menunggu tak ada juga yang menyodorkan buku menu. "Kamu saja yang pesan, Sya. Aku gak pernah makan di tempat seperti ini. Aku gak paham tata caranya. Buku menu aja gak ada. " Ungkapan Raymond membuat Sasya tertawa geli.


Sasya kemudian beranjak menghampiri pemilik warung dan memesan dua porsi ayam bakar dan dua es jeruk.Raymond memandangi pergerakan Sasya sampai kembali duduk di sebelah nya.


Beberapa lama kemudian pesanan mereka datang. Raymond memandang makanan di depannya dengan enggan. Sasya justru terlihat semangat. Tak dipungkiri perutnya memang sudah kelaparan.


Raymond melihat Sasya memasukkan tangan ke kobokan yang tersedia lalu menyuapkan makanannya langsung dengan tangan. Raymond merasa hal itu tidak sehat. Akhirnya Raymond memaksakan diri memegang sendok dan menyuapkan makanannya sedikit demi sedikit.


Tak ada yang istimewa menurutnya. Masakan itu biasa saja. Rasanya setara dengan levelnya. Tentu saja ayam bakar di cafe lebih lezat dan sehat.


Sesekali Raymond melihat Sasya yang tengah asyik dengan makanannya. Sedetik dua detik dan seterusnya memandangi Sasya yang terlihat makan begitu lahapnya.


'Bukankah makanan kami sama tapi kenapa rasanya punya Sasya lebih enak ya. Punyaku terasa hambar.' Batin Raymond penasaran yang melihat Sasya makan dengan semangat sekali. Dan sekarang nasi itu sudah ludes oleh Sasya.


Sasya mengakhiri makannya dengan meminum es jeruknya. "Uhuk... uhuk... " Saking kagetnya melihat makanan Raymond yang masih utuh, Sasya sampai tersedak.


Sasya justru menepis gelas itu. "Apaan sih, ini punyaku juga masih. " Sasya kembali meneguk es jeruk miliknya.


"Itu kenapa makanan masih utuh? " tanya Sasya ketus. "Nggak doyan ya makanan pinggir jalan? Lha wong makanan enak kayak gini kog nggak mau. "


Raymond hanya terdiam. Tiba-tiba Sasya menyodorkan sesuap nasi ayam bakar itu di depan mulut Raymond.


Raymond menatap tajam. Tapi Sasya malah tersenyum. Senyum yang sejuk dan tulus. "Ayo di coba dulu. Enak kog. Sehat lagi. "Sasya mencoba membujuk Raymond dengan lembut.


Akhirnya dengan ragu Raymond meregangkan mulutnya perlahan dan masuklah suapan itu ke dalam mulut Raymond.


Raymond perlahan mengunyah makanan itu. Anehnya rasa makanan itu berbeda dengan yang pertama tadi dimasukkan ke mulutnya. Padahal makanannya sama.


Saat tengah asyik menikmati kelezatan makanan itu, suapan kedua sudah ada di depan mulut Raymond. Kali ini Raymond membuka mulutnya lebar dan melahap makanan itu tanpa ragu lagi.


Kini tinggal suapan yang terakhir. Dan semuanya telah masuk ke dalam perut Raymond. Sasya menyodorkan gelas milik Raymond. Raymond meraih dan meneguk nya. Segar sekali rasanya. Perpaduan manis dan asam yang sempurna. Baru kali ini Raymond merasa makan dengan kenikmatan sempurna.


"Gimana,makanan pinggir jalan tak kalah lezatnya dengan cafe mewah dan ternama sekalipun kan? " Sasya memandang ke arah Raymond seakan menuntut jawaban. Yang ditanya hanya menyuguhkan senyum lebar. Itu sudah cukup menjadi jawaban.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan pulang setelah membayar. Dan hanya butuh waktu 25 menit mereka sampai di rumah Sasya.


"Makasih ya udah dianterin pulang. "


"Seharusnya aku yang banyak berterimakasih padamu, Sya. Kamu udah mengembalikan keceriaan adik kesayanganku. Dan dari mu juga aku bisa merasakan enaknya makan di pinggir jalan. "


Keduanya sama-sama terkekeh mengingat kejadian di warung tenda.


"Ya udah aku langsung pulang aja ya, kamu met istirahat. Sekali lagi terimakasih atas semuanya. "


Sasya hanya mengangguk sambil menampilkan senyum indah di bibir tipisnya yang kemerahan. Menunggu mobil yang ditumpangi Raymond hingga tak terlihat lagi oleh jangkauan matanya kemudian masuk ke dalam rumah.


Bersambung...