
Raymond menghembuskan nafas kasar. Pusing kepala yang belum hilang justru kini naik satu level mendengar kata sambutan dari cewek bermata sipit itu yang jelas dingin, sedingin es di Kutub Utara.
" Kenapa kamu ada di kamarku? " tanya Raymond sinis.
Tak kalah sinis Sasya menimpali. "Memang kamu pikir kenapa? "
"Kamu ini! " Suara Raymond meninggi. Kekesalannya bertambah karena Sasya malah membalikkan pertanyaan. "Kalo ditanya itu ngejawab bukannya balik nanya! "
"Suka- suka aku dong. Mulut mulut aku. "
Sasya berhasil menyulut api kemarahan teman cowok galaknya itu. Raymond benar-benar merasa diremehkan. Cowok bermanik hitam pekat itu berusaha mengumpulkan sisa tenaganya. Dia memaksakan tubuhnya berdiri walau sedikit terhuyung.
Sasya yang tak sedikitpun menyangka Raymond akan menghampiri nya karena marah seketika melangkah mundur. Namun di luar dugaan Raymond menambah langkahnya.
Sasya mulai panik. Terlihat manik mata hitam itu penuh kemarahan. Lagi-lagi Sasya melangkah mundur karena Raymond semakin mendekat. Bukk! Punggung Sasya sudah terpentok dinding.Sasya bagai menemukan jalan buntu. Raymond semakin dan semakin mendekat hingga semakin mengikis jarak mereka. Tak ada jalan lain lagi, dia pun sudah tak bisa lari.
Rasa takut memenuhi benak Sasya. Sasya tak bisa menerka apa yang kira- kira akan dilakukan si cowok galak itu saat dalam mode marah seperti ini. Karena memang Sasya belum banyak mengenal kepribadian cowok tampan dan mempesona di depannya.
Sasya sudah benar-benar terkunci. Dia hanya berharap cowok galak di depannya masih memiliki akal sehat sehingga tidak berbuat di luar batas. " Mm- mm- mau ap- pa kamu? " tanya Sasya tergagap saking takutnya. Sedari tadi tatapan tajam mata Raymond tak beralih sedikitpun. Kini seringai yang tak bisa diartikan maknanya oleh Sasya tercipta di bibir sensual milik Raymond.
'Sebenarnya apa yang ingin dilakukan cowok galak ini? Awas saja berani macam- macam akan aku balas dia 20 kali lipat! ' ancam Sasya dalam hati.
'Tak bisa di biarkan. Kalo tak di hentikan dia pasti mencium ku. Apa dia mau melecehkan ku. Tidak semudah itu kawan. 'Sasya bertekad membuat satu keputusan sebelum terjadi sesuatu yang akan di sesalinya seumur hidup.
Dengan gerakan cepat Sasya mengangkat tangan kanannya. Dia berniat melayangkan tamparan pada pipi putih yang dari jarak sedekat ini bisa dipastikan selembut kulit bayi.
Alangkah kagetnya saat Sasya merasakan tangannya tercekal dengan kuat. Raymond hanya terseyum. Kemudian tertawa keras. Keras sekali. Dan sepertinya tawa itu penuh kebahagiaan.
Sasya justru dibuat syok dengan tingkah Raymond yang tak bisa ditebak sama sekali. Raymond melepas cekalannya dan membalikkan badan menuju ranjangnya. Dia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai ke dada.
Sasya merasa kesal dan entahlah rasanya terlalu nano -nano hingga tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. 'Dasar gila! Aku bisa ikutan gila jika terus di sini.' Sasya baru saja ingin melangkahkan kaki jenjangnya namun diurungkan nya saat melihat senyum tipis singgah di bibir sensual milik Raymond.
"Pertahananmu bagus juga. "Setelah mengeluarkan kalimat pamungkas cowok galak itu memejamkan matanya.
Entah itu sebuah pujian atau justru ejekan, Sasya sudah tak mau ambil pusing. Sasya melangkahkan kakinya keluar dari kamar besar itu. Ditutupnya pintu bercat biru itu dengan keras.
Brak! Raymond tersenyum puas masih dalam mode mata tertutup.Sampai di lantai bawah Sasya bertemu Tante Salma yang sepertinya baru pulang dari apotek. Terlihat diarnentang kantok kresek kecil yang mungkin itu obat dari apotik. Sasya berpamitan setelah bercerita bahwa
Raymond sudah siuman tapi dia kembali tidur.
Bersambung...