Miss My Sister

Miss My Sister
Marissa



Sebuah pertemuan tak terduga saat itu memang memberikan kesan yang tidak baik di hati Marissa. Mereka tidak sengaja bertemu di salah satu counter baju di sebuah mall. Karena merasa mengenalnya Marissa menyapa Raymond. Namun betapa menyakitkannya saat melihat respon yang disuguhkan oleh Raymond. Jangankan membalas sapaan nya dengan menyapa balik, atau tersenyum .Bahkan memandangnya pun tidak. Dia seperti halnya sebuah debu yang berterbangan. Ada namun tak terlihat. Dengan wajah dinginnya itu Raymond berlalu begitu saja.


Namun kini Marissa bahkan tak percaya dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Sikapnya yang tampak hangat dan akrab dengan Sasya. Bahkan beberapa kali terlihat senyum yang menghiasi bibir sensual itu. Semua yang dilihatnya saat ini sangat bertolak belakang dengan Raymond yang dia temui di mall waktu itu. " Dasar cowok aneh, " desis Marissa. Marissa bahkan sulit mempercayai pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Sejak pertemuan itu rasanya sudah terpatri dalam memori Marissa bahwa Raymond adalah cowok yang dingin dan angkuhnya selangit. Bahkan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tak akan menyapanya lagi jika suatu saat mereka bertemu kembali.


Marissa yang jadi uring-uringan sendiri akhirnya memutuskan meninggalkan kantin dan kembali ke kelas. Padahal bakso di dalam mangkuknya masih terlihat penuh. Nafsu makannya hilang seketika melihat tingkah Raymond yang seperti punya kepribadian ganda.


Sedang yang membuat suasana hati Marissa kacau masih asyik berbincang dengan Sasya. Entah mengapa Sasya merasa betah berlama-lama berbincang dengan teman cowoknya yang satu ini. Padahal tidak jarang tingkah Raymond membuat emosinya tersulut.


Tidak beda dengan yang dirasakan Raymond. Cowok dingin itu merasa sangat nyaman saat bersama dengan Sasya. Semakin mengenal Sasya semakin pula bertambah kekaguman pada gadis bermata sipit itu. Bahkan dia menjadi lebih rileks dan sikap dinginnya berangsur mencair dengan sendirinya saat mereka bersama.


Jangan salah paham. Itu bukan berarti Raymond punya kepribadian ganda seperti anggapan Marissa. Raymond memang aslinya dingin, arogan, angkuh dan introvert. Hanya saja saat berada dengan orang-orang tertentu yang bisa membuatnya rileks maka secara otomatis dia akan menghangat, penyayang dan terbuka. Tapi setelah kembali dengan orang umum maka dia akan beralih ke mode setelan pabrik secara otomatis. ( Kog ada ya guys orang seperti itu🤔)


Raymond dan Sasya mengakhiri makan mereka dan bergegas menuju kelas karena bel masuk akan segera berkumandang.


Seperti biasa Sasya pulang di jemput pak Yo. Sampai rumah dia langsung menuju kamar dan mandi. Setelah itu dia merebahkan tubuh lelahnya di atas pembaringan. Tak lama kemudian dirinya sudah terbuai di alam mimpi.


Sasya mendengar sayup-sayup suara adzan berkumandang. Matanya mulai mengerjap. Beberapa kali menguap panjang. Diraihnya benda pipih pintarnya di atas nakas. " Waktu ashar ternyata. Hoaaammmmm, " berkali-kali Sasya kembali menguap. Rasa kantuk masih menjalar dengan kuatnya. Namun Sasya segera menepisnya .


Dengan langkah gontai gadis cantik itu melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Tak lama kemudian rasa kantuk yang tadi masih kuat menjalar musnah seketika saat guyuran air hangat dari shower membasahi setiap inchi tubuhnya.


Setelah mandi Sasya menunaikan kewajiban empat raka'atnya. Barulah dia turun ke bawah. "Dah cantik anak bunda, " sapaan Nayla menerbitkan senyum cantik di bibir si cantik.


Sasya mempercepat langkahnya mendekat ke arah sang ibunda. Memeluknya erat seolah melepas kerinduan yang terpendam. " Bunda kog udah pulang ? "tanya Sasya masih dalam pelukan hangat Nayla.


Nayla tersenyum. " Iya sayang, tadi bunda pulang lebih awal. Tadi bun sempat tengok kamu sama Mel. Tapi kalian pada tidur semua. "


Sasya terkekeh. " Lha ini jangan-jangan Mel masih tidur, bun. "


"Coba kamu tengok sana. "


"Nggak mau ah, bun. Ntar ngomel-ngomelnya panjang kali lebar. Males Sasya. "


Nayla hanya tersenyum mendengar jawaban anak sulungnya. Terkadang memang kedua anak gadisnya ini gelud dengan alasan-alasan yang sepele.


" Oh iya bun. Sasya mau minta ijin sama bunda, " Nayla melepas pelukannya kemudian menaikkan kedua alisnya.


" Ini atas permintaan bu Indri, " lanjut Sasya.


Sasya mengangguk. " Bu Indri minta tolong ke Sasya untuk membantu Raymond atas ketertinggalan pelajarannya guna persiapan ujian bulan depan. " Sasya tampak hati-hati dalam menyampaikan.


Nayla tersenyum renyah. " Bagus dong, sayang. "


Sasya justru mendelikkan mata sipitnya. Sama sekali dia tak menduga respon seperti ini yang keluar dari mulut seksi ibundanya.


" Bunda nggak keberatan? "


Nayla menggeleng. " Kenapa harus keberatan, sayang? Justru itu sangat bagus untuk kamu. Selain kamu membantu teman yang artinya kamu akan bermanfaat untuk orang lain, kamu juga berkesempatan memperdalam materi dalam pelajaran kamu. Itu juga akan mempertajam ingatan kamu, sayang. "


" Tapi Sasya takut jika Sasya nggak mampu, bun, "akhirnya Sasya mengeluarkan satu-satunya hal yang membuatnya masih ragu dalam keputusan yang telah dia ambil.


Nayla mengelus puncak kepala anak gadisnya dengan lembut. " Sayang, kamu harus percaya diri. Karena itu sangatlah penting dalam segala hal. Bu Indri saja percaya sama kamu. Massa kamu nggak percaya sama kemampuan kamu."


Sasya tersenyum lega. Keraguan dalam hatinya lenyap seketika. " Trimakasih bunda sayang. " Sasya mengecup pipi sang ibunda yang masih tetap kencang di usianya yang semakin tua itu.


Sasya segera kembali ke kamar. Dia menyambar ponselnya di atas nakas lalu menghempaskan tubuh mungilnya ke atas ranjang.


Sasya : Aku udah dapat ijin dari bunda.Mulai besok setelah pulang sekolah kita akan belajar satu jam tambahan. Kamu juga boleh ajak Arvin ikut serta.


Send message


Ting!


Raymond segera menyambar benda pipih pintar miliknya itu. Senyum lebar mengembang saat melihat notifikasi yang menyatakan ada satu pesan untuknya. Tentu saja itu pesan yang sedari tadi ditunggunya sampai tak mah jauh-jauh dari benda pipih kesayangannya itu. Ya, itu adalah


pesan dari Sasya.


Dengan begitu semangatnya Raymond membaca pesan singkat itu. Senyum indah itu senantiasa bertengger di bibir sensualnya. Segera digerakkannya jemarinya di atas layar.


Raymond : Siap bu guru


Send message


Bersambung...