
Bel pulang telah berkumandang.Seketika menciptakan senyuman di seluruh warga SMA XX. Para siswa tampak beberes alat tulis masing- masing. "Kamu dijemput, Sya? " tanya Vega yang sudah selesai memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
Sasya mengangguk malas. Entah kenapa dia tidak merasa bersemangat. Padahal dari kemarin dia berdoa siang malam ingin bertemu dengan peri kecilnya. Sekarang doanya sudah dikabulkan oleh Sang Pencipta, harusnya dia bersyukur dan berbahagia, bukan?
Sasya dan Vega berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Menghampiri jemputan masing-masing. Di belakang mereka Raymond berjalan. Ya memang, seharusnya Raymond berjalan ke arah parkiran, tapi dia justru membuntuti Sasya dan Vega. Dia terlihat seperti ingin menghentikan Sasya dan berbicara sesuatu. Tapi sama sekali tidak berani dilakukannya.
"Sya, itu jemputan aku uda dateng. Aku duluan ya, " pamit Vega yang diangguki Sasya sambil tersenyum.
Vega memasuki mobilnya kemudian membuka kaca jendelanya dan melambaikan tangan ke arah sahabatnya. Sasya membalas sembari tersenyum pada sahabat terbaiknya. Dilihatnya mobil yang ditumpangi sahabatnya sampai hilang di kelokan jalan.
"Kamu dijemput Sya? " Sasya kaget bukan maen mendengar suara persis dibelakangnya. Spontan dia membalikkan badannya belum menyadari betul siapa yang bertanya.
Sasya menghela nafas kasar. "Oh... Kamu ternyata."
Raymond menyadari gadis berparas cantik berambut sebahu itu tidak menyukai keberadaanya tapi demi adik tercinta dia harus berjuang.
"Iya aku dijemput, memangnya kenapa? " lanjut Sasya yang melihat cowok di depannya justru asyik dengan fikirannya sendiri.
Tak kunjung mendapat jawaban dari yang di tanya Sasya menjadi tambah kesal. Dipandangi nya Raymond sambil menarik nafas panjang menahan diri dari amarah.
Jarak pandang keduanya sangat dekat sampai Sasya bisa merasakan hembusan nafas Raymond yang keluar. Tanpa disadari Sasya terhanyut dalam pemandangan mempesona di depan matanya. Ya, wajah putih mulus yang sangat tampan dengan hidung mancung, serasi dengan bola mata hitam pekat, bibir tipis kemerahan. Entahlah tapi rasanya pesona ketampanan wajah Raymond sangat sempurna. Seakan menghipnotis Sasya dalam sekejap.
Entah berapa lama Sasya terhanyut, saat menemukan kesadarannya kembali Sasya merasa kikuk sendiri. Untung saja Raymond masih berada dalam dunia lamunan.
Sasya menepuk lengan Raymond untuk menjemputnya dari dunia lamunan kembali ke dunia nyata. Raymond mengaduh. "Auw... "
Sasya membalikkan badannya mencari keberadaan mobil jemputannya. Tapi tak ditemukannya juga.
Aneh sekali. Tak biasanya Pak Yo telat jemput. Bahkan ini udah telat pake banget. Huft...
Baru saja Sasya berniat menelepon pak Yo, sebuah panggilan masuk dan Sasya segera mengangkatnya.
"Halo," sapa Sasya pada penelepon yang ternyata adalah pak Yossep supir keluarganya yang sedari tadi ditunggu nya.
" Hallo, Mbak Sasya. Mohon maaf ini saya sepertinya akan sangat telat menjemput. " Suara pak Yo terdengar ngos ngosan.
"Iya pak Yo saya ini juga sudah hampir kering nungguin pak Yo, " canda Sasya. " Memangnya ada masalah apa pak? "
"Ini Mbak, tadi ban belakang bocor terus sudah saya ganti. Eh baru jalan 2 meteran ini ya kira- kira malah ban depan bocor juga. Padahal ini ban serepnya cuma satu Mbak. Dan sepertinya dari info yang saya dapat bengkel agak jauh. " Pak Yo panjang lebar bercerita. Bulir- bulir keringat masih jelas terlihat di area wajahnya.
"Oh gitu ya, Pak? " Sasya lemas. Dia tidak mungkin menunggu. Tapi dia juga tidak mau semobil dengan cowok kasar di belakangnya. " Ya udah gak papa pak Yo urus aja gimana baiknya tuh mobil. Biar Sasya naik taxi aja, Pak."
Sasya mengakhiri panggilannya. Disimpannya benda pintar itu di dalam tasnya. Di arahkan nya mata cantik itu mencari taxi yang memang biasa lewat di jalanan depan sekolahnya.
Sasya memutar kepalanya mengarah ke sumber suara. "Bareng aku aja, " tambah Raymond.
"No!" Sasya mengacungkan jari telunjuknya lalu menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
Raymond sama sekali tidak terkejut mendengar penolakan dari Sasya. Dia cukup paham gadis didepannya ini tengah menjaga jarak darinya.
Beberapa saat setelah mereka saling terdiam, Sasya melambaikan tangannya ke arah taxi yang menuju ke arahnya. Raymond segera menghampiri taxi tersebut. Sopir taxi pun menghentikan lajunya. Secepat kilat Raymond berdiri di depan pintu taxi yang hendak dibuka oleh Sasya.
Sasya menghela nafas. " Please, Raymond"
Bukannya menjawab atau bahkan menyingkir dari pintu taxi, Raymond justru menyuguhkan senyum lebar. Sasya kesal dibuatnya.
Sasya beranjak dari pintu taxi seakan tahu Raymond tak akan mengalah padanya. Tapi dengan cepat pula Raymond setengah berlari memutari badan depan taxi dan lagi- lagi berdiri di depan pintu penumpang yang satunya.
Sasya baru sampai di sebelah pintu dan menyadari Raymond sudah lebih dulu sampai dan menghadangnya lagi. "Stop it Raymond, please! "
Sasya sudah sangat marah. Rasanya ada yang ingin meledak di kepalanya.
Tapi dasar Raymond bukannya beringsut dari pintu, dia malah menggedor keras pintu si sopir. Dan itu membuat si sopir keluar dari taxi nya. Terlihat Raymond hanya membisikkan sesuatu pada telinga si sopir. Sopir itu hanya mengangguk beberapa kali lalu kembali masuk ke dalam taxi.
Tak berselang lama mobil taxi itu pun sudah melaju meninggalkan sepasang muda mudi yang berada dalam pikiran yang bertolak belakang.
Sasya masih tetap dalam posisinya. Raymond segera menarik tangan Sasya lalu mengajaknya menepi setelah melihat ada sebuah truk yang akan melintas.
Mereka berhenti di parkiran. Raymond membukakan pintu mobilnya tapi Sasya tak bergeming. Ditatapnya Raymond kesal. 'Selain galak dan kasar ternyata kakak peri kecilku juga seorang pemaksa dan keras kepala.' Gumam Sasya dalam hatinya.
"Ayo Sya, masuk." Akhirnya mulut Raymond terbuka melihat gadis didepannya tetap bergeming dan juga masih dalam mode tatapan tajam padanya. "Silvy pasti sudah menunggu kakak cantiknya," tambahnya berharap bisa membujuk gadis cantik di depannya.
Sasya masih tetap dengan posisinya. Di satu sisi dia tidak ingin satu mobil dengan cowok pemaksa ini. Namun di sisi lain dia sangat ingin bertemu dengan peri kecil yang dirindukannya. Apalagi dia sedang sakit. Jujur saja dia sangat ingin melihat kondisinya. Entah bagaimana dia seakan sudah jatuh cinta pada pertemuan pertama mereka.
Sasya terus menimbang- nimbang. Dia tau saat ini tak bisa menentang cowok di depannya. Sasya akhirnya mengalah mengikuti kemauan Raymond. Itu dia lakukan tak lain demi peri kecilnya.
Raymond begitu terkejut melihat pergerakan Sasya yang masuk ke dalam mobilnya. Namun bukan pada pintu yang sudah dibukakan olehnya melainkan masuk ke mobil bagian belakang. Raymond hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.Tak apa di belakang yang penting dia mau pulang bersamaku untuk Silvy.
Raymond segera memasuki mobil dan melaju perlahan. Untung saja rute yang dilewati Raymond bebas dari macet saat ini. Setidaknya itu akan membuat mereka cepat sampai pada peri kecil dan tentu saja memberi kenyamanan pada gadis yang duduk di jog belakang. Karena pasti mulutnya tambah manyun jika perjalanan mereka terhalang macet. Raymond jadi senyum- senyum sendiri membayangkannya.
Sesekali dilihatnya kaca spion. Terlihat gadis cantik itu dengan majah kesalnya. Sasya tak sengaja mengarahkan pandangannya ke depan.Ya di kaca spion dia memergoki Raymond tengah mengamatinya.Saat tatapan mata mereka bertemu sesaat Sasya buru- buru mengalihkan pandangan. Kesal. Berbeda dengan cowok di belakang kemudi itu justru tersenyum geli. Baginya Sasya terlihat begitu menggemaskan.
Bersambung...