
Cahaya matahari mulai menelusup lewat celah gorden kamar yang tak rapat. Cahayanya memberikan kehangatan seakan memberi semangat baru untuk gadis yang duduk di tepi ranjangnya. Tidak tidur semalaman membuat tubuhnya kembali melemah. Mencoba sekeras apapun tetap saja matanya enggan terpejam sampai matahari hadir menggantikan tugas sang rembuan menyinari bumi.
Gadis itu mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Dilangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju balkon. Dilihatnya suasana pagi yang sejuk. Semilir angin menggugurkan dedaunan, menggerakkan aneka bunga berwarna-warni seakan menari dengan indahnya. Terlihat seulas senyum menghiasi bibir merah delimanya. Senyum itu terasa sejuk sesejuk suasana pagi ini.Kesejukan yang mampu melupakan segala kegelisahan hati yang melanda.
Seseorang dari belakang merengkuh tubuh mungil gadis yang sedang menyelami kesejukan suasana pagi ini. "Enak banget ya, Mbak suasananya. Sejuk. " Mel memejamkan matanya.?Mencoba meresapi kesejukan yang sangat lama tak dia dapatkan.
"Kamu udah bangun, Mel? " tanya Sasya tetap dalam pelukan sang adik.
"Hmm.. "
"Sepertinya semalam kamu sangat pulas tertidur. Sampai aku yang gak bisa tidur gara-gara ngorok kamu kekencengen tahu. "
"Massa si Mbak, aku ngorok? " Mel tak percaya, dia mengira kakaknya ini hanya menjahili nya.
Sasya menguap, rasa kantuknya mulai menelusup. Mel yang melihat kakaknya menguap beberapa kali di waktu sepagi ini menjadi percaya apa yang dikatakan sang kakak barusan memang benar adanya. Bukan gurauan seperti dugaannya. Terblesit rasa bersalah menyisip di relung hatinya. 'Kasihan mbak Sasya. Gara-gara aku dia tidak bisa tidur padahal kesehatannya sedang kurang baik. 'sesal Mel dalam hati.
Sasya meregangkan pelukannya. Mbak tidur dulu y. Sebentar lumayan lah. Nanti kalau uda mau ke tempat Chika, kamu bangunkan mbak ya. "Sasya melenggang meninggalkan Mel. 'Aku harus tidur. Jangan sampai aku pingsan lagi. Aku harus membuat Chika bangkit.'pikir Sasya.
" Mbak tunggu, "panggilan Mel seketika menghentikan langkah Sasya. " Maaf, "Mel tertunduk menyesali sesuatu.
Sasya membalikkan tubuhnya. Tersenyum melihat penyesalan yang berlebihan itu. " Hey! "Sasya mendekat ke arah adiknya lalu merengkuh nya. " It's not problem my honey. Don't worry.Okay! "
Mel tersenyum lega. Dia mengagumi semua yang ada pada diri Sasya. Memang kesempurnaan hanya milik Allah Sang Penguasa tapi kakaknya ini benar-benar istimewa baginya. "You always perfect for me, my belove sister. "
Akhirnya Sasya bisa terbuai ke alam mimpinya. Dia memang harus mengisi penuh amunisi tubuhnya. Karena kemungkinan dia akan bekerja keras nantinya saat bertemu Chika.
Di SMA XX
"Vega, " Raymond memanggil Vega yang tengah asyik mengerjakan tugas yang diberikan pak Dismas.
"Apaan sih, Ray? " Vega menatap tajam ke arah Raymond.
Vega semakin kesal. Dari pagi selalu disudutkan dengan pertanyaan yang sama oleh Raymond. "Sudah berapa kali aku bilang kalo aku tidak tahu Raymond! " suara Vega meninggi. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. "Jawabanku tetap sama. Sekali tidak tahu ya tetap tidak tahu.Berapa kali pun kamu bertanya makan jawabannya akan tetap sama. Kamu fikir hanya kamu saja yang kawatir? Aku lebih kawatir lagi, karena baru kali ini Sasya tidak ada kabar seperti ini. WA aku sama sekali tak di baca dan panggilan suara pun tak di jawab. "
Raymond akhirnya terdiam. Dia mulai mempercayai ucapan Vega. Namun justru dia semakin kawatir terjadi sesuatu pada Sasya setelah mendengar Sasya sama sekali tak bisa di hubungi.
Di kota B
Sasya memasuki ruang rawat Chika. Sampai sekarang Chika belum sadar juga. Walaupun belum sadar tapi tante Maya sudah sangat bersyukur karena Chika semalam sudah keluar dari masa kritisnya. Sebelumnya dokter memvonis Chika koma. Dan semalam Chika sudah melewati komanya. Itu dinyatakan dokter saat terjadi pergerakan dari jemari Chika semalam. Yah tepat sekali waktunya saat Sasya juga terbangun dari pingsannya. Bagi semua orang mungkin itu bukan sesuatu yang menarik perhatian. Ya, saat tante Maya menceritakan itu, semua orang menganggap hal itu kebetulan, tapi tidak bagi Sasya. Karena ini memang bukan kebetulan pertama ataupun ke dua bagi dia dan Chika.
Sasya mendekati gadis tomboy yang terbaring tak berdaya yang masih enggan membuka matanya. Sasya duduk di sebelah sepupunya. Memandangi wajah pucat yang masih tampak cantik natural. "Chika... aku datang. " Sasya berbicara sendu. Bahkan air matanya sudah menetes membasahi pipinya yang kemerahan. "Hey, cepatlah bangun! " Sasya meninggikan suaranya. Sebenarnya ini dia lakukan semata-mata untuk menguatkan dirinya sendiri. Dia merasa sakit yang teramat terhadap apa yang dialami sepupu sekaligus sahabatnya. "Aku sudah jauh- jauh datang ke sini untuk menemuimu. Apa kamu tidak mau menyapa sahabat mu ini?" Sasya menggenggam erat jemari Chika . Air matanya semakin deras mengalir. Hatinya merapuh. Tubuhnya bergetar menahan isak tangis.
"Ku mohon bangunlah Chika, ada banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Hiks... hiks... " sisi melo Sasya sudah tak bisa di tahan lagi. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia akhirnya tertidur karena kelelahan menangis.
Sasya hanya mengaduk- aduk makan siangnya.Tadinya Sasya memang tak mau makan. Berkat bujukan tante Maya, Sasya pun menginyakan. Karena memang ada yang ingin dia tanyakan pada tantenya yang matanya masih terlihat merah dan bengkak."Sebenarnya apa yang terjadi hingga Chika mencoba bunuh diri, Tante? "Sasya memulai pembicaraan.
Terdengar tante Maya menghela nafas. Sasya tahu ini akan menyulut kembali kesedihan yang kemungkinan sudah sedikit mereda. Tante Maya terlihat menari nafas panjang beberapa kali kemudian mencoba mulai bercerita.
" Tante tak begitu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tante hanya seringkali memergoki Chika menangis. Tapi saat tante bertanya, dia tak pernah mau bercerita." Air mata tante Maya mulai mengalir. "Dan kemarin saat Tante mengunjungi dia di kamar, tante sudah melihat dia tergeletak di lantai dengan mulut berbusa. Hiks... hiks... " tante Maya menutup mulut dengan tangannya dan menangis tersedu-sedu.
"Apa tanta tak mencoba bertanya dengan teman atau sahabat Chika? "
"Tante tidak begitu banyak tahu tentang teman Chika. Chika tak pernah membawa teman main ke rumah selain Tama pacarnya. Tante sudah mencoba menghubungi Tama tapi nomornya sudah tidak aktif. Karena itulah tante berfikir Chika mencoba bunuh diri karena laki-laki itu. Padahal tante sudah mencoba melarang Chika berhubungan dengan Tama karena tante merasa tidak percaya dengan Tama, tapi Chika selalu mengabaikan nasihat tante. "
"Setahu Sasya Tama adalah cowok yang baik dan penyayang Tante. Chika sering bercerita tentang Tama pada Sasya. "
Tante Maya berdecih. " Kalau memang dia cowok yang baik mana mungkin dia membuat Chika mejadi nekat seperti ini?Kamu tahu Sya, dokter bilang jika kami telat sedikit saja membawa Chika ke rumah sakit,nyawa Chika takkan bisa diselamatkan."
Sasya bergidik mendengar kalimat terakhir yang diucapkan tante Maya. Sampai akhirpun Sasya tidak menemukan jawaban yang dia cari dalam pembicaraan mereka. Satu-satunya hanya Chika sendirilah kunci semua ini.
Sasya memutuskan bermalam di rumah sakit. Awalnya bunda Nayla menolak keras mengingat kesehatan anak sulungnya yang kurang sehat. Namun, akhirnya dia mengalah tak tega melihat wajah Sasya yang meredup.Biar bagaimanapun bunda Nayla yakin bahwa Sasya bisa memberi pengaruh yang besar dalam proses penyembuhan Chika. Terutama untuk jiwanya.