
Tante Salma masih tak bergeming. Terlihat lelehan air mata yang menyeruak membasahi pipinya saat Sasya menoleh ke arahnya. Sasya pun seperti ikut merasakan kepedihan yang kian melanda hati seorang ibu itu.
" Tante." Sasya rasanya ingin mendekap tubuh itu tapi di masih risih. Akhirnya Sasya hanya mengusap lembut pundak yang sedikit terguncang itu..
" Sebelumnya Raymond adalah anak yang keras kepala, dingin dan tertutup." Tante Salma melanjutkan ceritanya dengan buliran bening yang masih terus mengalir. " Tapi setelah mengenal Lia semua berubah. Lia mampu menjadikan anak sulung tante menjadi pribadi yang lebih baik. Raymond menjadi sosok yang lebih hangat,terbuka dan penurut. Dia juga lebih disiplin akan waktu makan dan meminum vitamin yang diresepkan oleh dokter. Dia menjadi sosok yang sangat berbeda. Dan itu membuat tante sangat bahagia. "
Tante Salma mencoba tersenyum walau agak kaku lalu melanjutkan lagi ceritanya. " Dulu bahkan Raymond hanya meminum vitaminnya jika dia mau. Makan tak teratur. Jika sedikit kelelahan ditambah telat makan kondisinya akan drop dan sudah dipastikan typusnya kambuh. Sudah tak terhitung berapa kali dia masuk keluar rumah sakit. Sampai typusnya menjadi akut. Tapi berkat Lia setahun belakangan ini Raymond tidak pernah kambuh. Tapi sekarang... "
Wanita cantik yang tangisnya semakin menjadi itu tak mampu meneruskan ceritanya. Tubuhnya berguncang hebat. Isakannya sampai terdengar di telinga Sasya. Sasya meraih tubuh yang merapuh itu. Sasya memeluknya erat. Menggosok punggungnya dengan lembut berharap bisa sedikit menenangkan.
Tante Salma melepaskan pelukan gadis cantik itu setelah merasa sedikit lebih tenang.
Sasya tersenyum mencoba mensupport sosok yang masih meneteskan air matanya walau tak sederas sebelumnya.
Wanita beranak dua itu membalas senyum Sasya dengan sedikit dipaksakan. Terdengar menghela nafas panjang beberapa kali.
" Semua ini gara-gara dia! " tiba-tiba dengan sarkas tante Salma bergumam lirih yang masih bisa jelas terdengar oleh Sasya.
" Dia siapa tante? " tanya Sasya mencoba menggali lebih dalam.
" Papanya Raymond. " Jawaban singkat tante Salma membuat Sasya mengernyitkan dahinya.
" Dulu tante dan om sama-sama menyetujui hubungan Raymond dan Lia. Karena kami melihat Lia membawa aura baik untuk Raymond, kami tak mempermasalahkan kalau mereka menjalin hubungan lebih serius. Tapi entah kenapa sebulanan yang lalu tiba-tiba papanya Raymond melarang keras hubungan mereka. Meminta Raymond memutuskan hubungan dengan Lia. Penolakan Raymond akan permintaan papanya menjadikan kami sekeluarga pindah ke kota S ini atas keputusan sepihak dari papanya Raymond. Rupanya dia benar-benar menolak keras hubungan mereka. "
Tante Salma menghela nafas kasar. Sesekali menyeka air mata yang masih menetes. " Bahkan tante sudah mencoba menanyakan alasan ketidaksetujuannya terhadap hubungan mereka tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Dia hanya melontarkan alasan yang menurut tante tidak masuk akal. Karena sebelumnya kami sama-sama tak mempermasalahkannya. "
" Kalau boleh saya tahu apa alasannya tante? " Sasya sedikit ragu melontarkan pertanyaannya.
" Karena Lia tomboy. " Tante Salma mengetatkan rahangnya. " Tapi aku yakin itu bukan alasan yang sebenarnya. "
" Maaf sebelumnya tante, apa papa Raymond menyayangi Raymond? "
"Sasya sayang, jangan salah paham. Setahu tante suami tante sangat menyayangi anak- anaknya. " tante Salma meluruskan spekulasi yang salah dari gadis yang baru saja dikenalnya tapi merasa sudah sangat dekat dan cocok sampai- sampai dia menceritakan semua masalahnya tentang anak laki-laki kesayangannya.
" Tapi Sasya tidak melihat dia di sini? "
Tante Salma tersenyum. " Tiga hari yang lalu dia pergi ke luar negeri untuk masalah bisnis. Dan kesempatan itulah yang ditunggu oleh Raymond. Karena saat papanya dirumah Raymond tidak akan berani bertindak. Jadi Raymond meminta ijin tante untuk pergi ke kota B menemui Lia untuk terakhir kalinya. Tapi sayang Lia sudah pergi entah kemana. Teman-teman pun tak ada yang tahu. "
" Lalu? "
" Sudah dipastikan Raymond menjadi kalang kabut. Bahkan tante sangat bersyukur dia bisa kembali ke rumah dengan selamat. Bayangkan saja dia melakukan perjalanan seorang diri dari luar kota dengan perasaan hancur. "
" Apa om... "
"Ilham "
Sasya tersenyum karena tante Salma masih sangat tanggap di keadaan rapuhnya itu. " Apa om Ilham tahu dengan yang terjadi pada Raymond tante? "
Tante Salma mengangguk. " Setelah pulang dari kota B. Raymond menjadi sosok yang tak bisa dikendalikan. Mengurung diri di kamar. Mengacak-acak seisi kamar. Membanting apapun yang ada. Dia sampai tidak mau makan sama sekali. Dan akhirnya typusnya kambuh lagi. "
Sasya hanya terdiam. Dia sama sekali tak berniat untuk merespon. Dia menunggu tante Salma melanjutkan ceritanya.
"Tante yang panik akhirnya menelepon om Ilhan dan menceritakan semuanya juga memberi tahu penyebab Raymond sakit. Bahkan tante memarahinya dan mengejudge bahwa ini semua gara-gara kesalahan dia. Om Ilham langsung reservasi tiket penerbangan paling awal. Dan tadi pagi- pagi sekali dia kembali terbang karena siang ini ada meeting penting dengan salah satu klien penting. "
" Makanya tante mau minta tolong sama Sasya ya sayang. Tolong buat Raymond semangat untuk sembuh. " Tante Salma menggenggam erat tangan Sasya.
" Tapi sebenarnya Sasya tidak terlalu dekat dengan Raymond tante. "
" Tidak, tante yakin tidak salah pilih. Pertemuan pertama kamu dengan Silvy lah jawabannya." Tante Salma memegang erat bahu Sasya." Kamu sudah bisa menaklukkan hati Silvy jadi aku yakin kamu orang yang tepat."
Tante Salma tersenyum. " Sepertinya ada banyak kemiripan antara kamu dengan Lia. Salah satunya kalian sama-sama bisa menaklukkan hati Silvy hanya dengan pertemuan pertama. "
Sasya tersenyum kecut. Rasanya memang tanggung. Sebenarnya Sasya ingin menolak permintaan tante Salma ini karena dirasa dia tak kan mampu bertemu Raymond yang kembali menjadi sosok yang dingin, keras kepala dan tertutup. Namun dia juga tak sampai hati menolak permintaan seorang ibu yang hanya menginginkan kesembuhan putra mahkotanya.
" Baiklah tante, saya akan mencobanya tapi saya tidak berani menjanjikan apapun. Karena bisa saja nanti saya gagal."
Tante Salma merengkuh Sasya dengan sumringah. " Tante yakin kamu pasti bisa. "
Sasya sendiri juga masih bingung kenapa Tante Salma bisa seyakin ini.
Setelahnya tante Salma menceritakan tentang apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh Raymond. Hal-hal yang sepele tentang Raymond.
Kesedihan di mata indah milik wanita bertubuh seksi itu mulai memudar. Pesona kecantikannya kian terpancar saat ulasan senyum menghiasi bibir merahnya.
Sasya ikut merasakan kebahagiaan yang mulai menggantikan kesedihan yang membelenggu tante Salma.
" Oh ya, besok jadi ngajak Silvy jalan- jalan kan? " Pertanyaan yang dilontarkan mulut berbibir seksi itu lebih menyerupai suatu perintah. Tapi untuk hal ini Sasya sama sekali tidak keberatan karena memang Sasya berniat kapan- kapan mengajak peri kecilnya itu jalan- jalan. Pasti menyenangkan. Pikirnya dalam hati.
Bersambung...