Miss My Sister

Miss My Sister
Dasar Cowok Lemah



" Kau? " Raymond mengerjap kaget saat mendapati ada seorang gadis yang duduk di sofa dalam kamar rawatnya.Dia bahkan mengerjapkan matanya berkali-kali seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Gadis itu tersenyum tulus. Ya kali ini dia sudah memantapkan hati ingin memenuhi permintaan tante Salma dan peri kecilnya untuk membantu Raymond sembuh dari typusnya dan kalau bisa juga dari luka hatinya.


Gadis bermata sipit itu merasa sangat iba dengan kisah cinta tragis yang dialaminya. Hatinya yang memang mudah sekali melembek membuatnya tak perlu waktu lama untuk memutuskan keputusan ini.


" Apa kamu membutuhkan sesuatu, Ray? " tanyanya dengan wajah yang teduh. Membuat yang ditanya seakan ikut larut dalam keteduhan.


" Sedang apa kamu di sini? " Raymond yang merasa canggung bertanya. Dia nampak tidak suka akan keberadaan Sasya di luar tapi di dalam hati bahkan dia sangat nyaman ditemani oleh salah satu teman baru di sekolah barunya itu.


" Oh, aku hanya sekedar mampir untuk menjengukmu." Lagi-lagi Sasya mengupas senyum sejuknya yang bisa menyihir siapapun yang melihatnya. " Tapi kalau kamu keberatan, aku bisa pergi. "


Saya tahu dia tidak bisa langsung memaksa jadi dia putuskan untuk menyusup pelan- pelan.


" Di mana mama? " Raymond celingak- celinguk mencari keberadaan mamanya yang tak tertangkap pandangannya.


" Aku menyuruhnya pulang karena aku tidak tega melihatnya pucat. Sepertinya tante Salma sangat lelah. Aku menyuruhnya istirahat sebentar selagi aku bisa membantunya menjagamu. "


Dengan santainya Sasya menjawab sambil mengupas buah melon kesukaan Raymond. Begitulah yang Sasya tahu dari tante Salma. Ya, kemarin tante Salma menyekolahinya lumayan lama perkara hal mana yang disukai ataupun yang tidak disukai oleh putra mahkotanya itu. Dan dengan lincahnya Sasya sudah bisa menghafal hampir separuh.


Gadis ayu yang memakai blazer mocca itu menyendokkan sepotong melon mengarahkan ke mulut Raymond. " Makanlah, kata dokter kau sudah boleh memakannya. Kau sangat menyukainya,bukan? "


Entah apa yang terjadi pada otak cowok yang terlilit selang infus itu dengan patuhnya menurut membuka mulut dan menerima suapan gadis di depannya. Mungkin otaknya sedang kongslet karena biasanya dia akan menolak dengn jaimnya.


" Anak pinter, " gumaman Sasya cukup keras dan sepertinya memang disengaja agar cowok di depannya mendengar. Dengan cepat Sasya meraih tissu yang ada di atas meja lalu mengelap sudut bibir Raymond yang kotor.


Mata Raymond mulai berkabut. Sialnya perlakuan Sasya kali ini justru mencabik hatinya karena mengingatkan dia kepada Lia yang selalu sabar dan penuh kasih sayang kepadanya.


Dengan cepat Sasya menyadari kabut yang menyelubungi mata hitam pekat itu. " Raymond, apa aku menyinggungmu?" tanya Sasya yang merasa menyesal menyebabkan kabut itu muncul.


Raymond tak bergeming. Bahkan pertanyaan Sasya tak mampu dia dengar karena tenggelam dalam pikiran kalutnya.


Sasya jadi bingung dan serba salah. Tapi dia begitu iba melihat cowok galak yang selama ini dikenalnya sebagai pribadi yang arogan,angkuh dan sok menjadi serapuh ini sekarang.


" Raymond, " Sasya mencoba menyapa kembali cowok yang tetap terlihat tampan itu walau dengan wajah yang pucat.


Raymond tersentak kaget. Dia meraup wajahnya kasar dengan tangan kanan yang tak terpasang jarum infus.


"Maaf jika aku mengagetkanmu." Sasya beringsut mundur beberapa langkah karena dia pun juga kaget saat Raymond kaget saat disapanya tadi.


Raymond dengan cepat menggeleng. " Maaf sudah merepotkanmu. "


Sasya terkekeh. " Tak apa Raymond, aku sama sekali tak merasa direpotkan. "


Raymond tersenyum. Oh My God! Sasya menjerit dalam hati. Dia sangat terpesona dengan senyuman yang menjadikan wajah pucat itu tampan perfect.


🍀🍀🍀


Sejak hari itu Sasya sering mengunjungi Raymond dan menggantikan tante Salma menunggu Raymond. Namun anehnya keakraban mereka belum terjalin. Bahkan sedikit- sedikit mereka adu mulut itupun dengan Sasya yang sudah extra mengalah.


" Raymond ayolah kamu harus makan biar cepet sembuh, " bujuk Sasya selalu saat menyuapkan makanan untuk Raymond. Terus seperti itu.


Raymond melengos tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Biasanya Sasya akan extra menyabarkan diri agar makanan itu masuk ke perut Raymond walau dengan berdrama ini itu. Tapi kini tidak lagi. Mungkin Sasya sudah mulai lelah mengalah tanpa ada perubahan dari yang bersangkutan.


" Dasar cowok lemah! " Sasya memaki. Dia sengaja agar Raymond mendengarnya. Kalau harus ribut besar kali ini dia siap meladeni.


Raymond seketika memalingkan wajah ke arah Sasya. Mata hitam pekat itu menatap tajam mengerikan tak lagi terlihat indah. " Apa tadi kamu bilang? "


Sasya sedikit pun tak gentar. Dia justru membuat suasana makin panas. " Apa kamu tuli? "


" Kamu! " Raymond berteriak marah.


Sasya tersenyum mengejek. " Nggak usah teriak- teriak kali Ray. Aku tidak tuli seperti kamu. " Dengan sarkas Sasya membalas. Dan itu tentu saja membuat amarah Raymond memuncak.


" Beraninya kamu! "


" Memangnya kenapa aku harus takut sama cowok lemah kayak kamu! " Suara Sasya lebih ditinggikan dari sebelumnya.


Raymond tampak ingin nekat turun dari pembaringan. Hal itu membuat Sasya sepersekian detik kebingungan karena pasalnya 9 hari di rumah sakit belum ada peningkatan sama sekali atas kondisi cowok keras kepala itu. ' Dia masih sangat lemah. Tidak! Dia tidak boleh turun! ' Jeritan dalam hati Sasya yang sudah sangat kebingungan.


" Raymond... Raymond... " Sasya berusaha mengulur waktu untuk mendapatkan kata- kata yang tepat selanjutnya dan dia berhasil. Raymond menghentikan aktivitasnya untuk turun dari ranjang seakan menantikan apa yang akan gadis menjengkelkan di depannya ini sampaikan.


" Sungguh aku tak habis pikir. Seorang Raymond bahkan tak bisa hanya sekedar melawan penyakit nya. Bahkan hanya sekedar penyakit typus. " Lagi-lagi perkataan Sasya membuat hati Raymond mencelos.


" Memang benar kan kalau cuma typus itu hanya cukup dengan istirahat teratur dan disiplin makan. Pasti jauh berbeda penanganannya dengan penyakit jantung atau kronis lainnya."


Raymond mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya pun mulai mengetat. ' Enak saja dia menyepelekan penyakit ku. Dia pikir dia bisa jika berada di posisiku saat ini. Dia tidak tahu bagaimana beratnya aku menjalani ini semua, ' kecamuk Raymond dalam hati memprotes Sasya.


Sasya menyadari cowok keras kepala di hadapannya mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya sendu. Sinar matanya meredup.


" Raymond Pratama yang terhormat, " Raymond terhenyak memandang Sasya. Wajahnya terlihat sayu membuat Sasya hampir saja melemah. " Aku tahu penyakit kamu itu memang sudah sangat sulit untuk sembuh. Tapi setidaknya lawan lah. Jangan kamu biarkan dia menggerogoti kebahagiaan yang seharusnya bisa kamu raih. Kebahagiaan orang-orang di sekitar kamu yang menyayangimu. Apa sedikitpun kamu tak mencemaskan mental tante Salma? Ibu mana yang tidak hancur melihat anak yang dia banggakan terus terkapar seperti ini. "


Entah mengapa justru hati Sasya yang tersayat. Matanya menghangat. Bahkan buliran bening itu dibiarkannya begitu saja mengalir setetes hingga berpuluh-puluh tetes.


" Apa kamu juga tidak pernah memikirkan perasaan Silvy yang setiap hari bahkan menantikan kepulanganmu. Setiap saat dia hanya bisa melantunkan do'a- do'a indahnya untuk kamu. Tapi bagaimana bisa kamu seperti ini. " Suara Sasya serak.


" Aku tahu semua ini memang tidak mudah. Aku tahu semua beban ini sangat berat untukmu tapi tolong bersikap dewasa lah. Janganlah jadi orang yang egois, pikirkanlah orang-orang disekitarmu yang bahkan sampai tak mempedulikan dirinya sendiri hanya untuk mengurusi kamu. Lihatlah bagaimana mamamu mendedikasikan semuanya untukmu. Apa itu tak cukup membuka matamu?! Apa itu tak cukup menyadarkan kamu?!" suara Sasya tercekat di bagian akhir kalimatnya.


Air mata itu masih menetes walau tidak sederas sebelumnya. Kali ini kata- kata Sasya berhasil mengenai sasaran. Raymond tertunduk lesu dengan keluarnya tetesan air hangat dari kelopak matanya.


🍀🍀🍀


"Sya, aku akan pulang besok jadi kamu udah nggak harus datang lagi ke sini. " Raymond menyampaikan kabar gembira sore ini. Seketika membuat senyum indah merekah di bibir tipis kemerahan itu.


Sudah dua minggu Raymond menginap di rumah sakit. Hanya untuk penyembuhan penyakit typus walau sudah akut pun rasanya itu terbilang lama.


Syukurlah setelah kejadian hari itu dimana Sasya menyerang hati terdalam Raymond menjadikan pemulihan Raymond meningkat pesat.


Tante Salma bersyukur karena mungkin jika tanpa bantuan Sasya bisa jadi kepulangan Raymond akan jauh lebih lama. Sasya memang memiliki andil terbesar akan hal ini.


" Baiklah, sepertinya aku tak harus mengurus bayi besar lagi, " canda Sasya. Raymond hanya terkekeh.


Bersambung...