Miss My Sister

Miss My Sister
Gelisah



Suasana pagi yang hangat di meja makan keluarga Setyawan senada dengan pancaran sinar matahari pagi. Seperti itulah kehangatan senantiasa menghiasi sarapan bersama keluarga kecil itu. Walau memiliki asisten rumah tangga tak jarang Nayla memasak sendiri terutama untuk sarapan. Hal itu menjadi salah satu alasan keluarga kecil itu lebih suka sarapan di rumah daripada di luar.


Sasya terlihat sedikit canggung pagi ini. Mungkin itu dikarenakan sikap ibundanya yang tak sehangat sinar mentari khusus padanya. Masalah semalam memang sudah clear tapi sepertinya Sasya belum bisa mendapatkan kepercayaan ibundanya seperti sebelumnya.


" Mbak, ayo dong sarapannya cepetan, nanti kita kesiangan. " ucap Mel yang melihat Sasya hanya mengaduk- aduk makanannya.


" Ya udah, kita berangkat sekarang aja. " Sasya meletakkan sendoknya dan berdiri.


" Sasya, apa kamu sakit, sayang? " tanya Riko yang melihat anak sulungnya tak bersemangat seperti biasanya.


Sasya menggelengkan kepala pelan. " Nggak kog Yah, Sasya cuma lagi males aja bawaannya. "


" Bilang aja nggak suka masakannya Bunda, " celetuk Nayla tiba-tiba membuat Sasya cepat menggelengkan kepalanya lagi.


" Nggak Bun, bukan itu. Sasya hanya lagi nggak mood aja. "


Nayla kembali menyendokkan nasi ke mulutnya. " Ya sudah, "lanjut Nayla datar.


Sasya bisa merasakan perbedaan sikap ibundanya padanya. Bunda jadi lebih dingin padanya. Sasya menghela nafas. Sudah terlanjur. Yang jelas ini adalah pelajaran berharga untuknya agar lebih berhati-hati lagi dalam bersikap. Sasya dan Mel berpamitan dengan ayah dan bunda. Tak lupa mereka menyalim dan mencium punggung tangan orang tuanya.


Sasya melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kelasnya. Dia masih sangat menyesal tentang apa yang telah dilakukan. ' Bagaimana jika bunda tak mau percaya lagi kepadaku? ' Keluhnya dalam hati.


Hari ini pikiran Sasya masih berantakan hingga tak satupun pelajaran yang tersimpan di otaknya. Vega sendiri tak begitu menyadari sahabatnya sedang dalam masalah.


Bel istirahat berkumandang sudah. Riuh suara di sana- sini. " Ke kantin yuk, Sya, " ajak Vega.


Sasya mengangguk kemudian beranjak. Sebenarnya dia malas bergerak. Suasana hatinya sungguh berantakan tapi cacing di perutnya sungguh tak bisa di ajak kompromi. Semua berdemo minta makan.


Di sepanjang perjalanan Vega mengoceh banyak hal tapi sedikitpun tak direspon oleh Sasya. Hal itu membuat Vega mulai curiga.


Tetap tak ada respon dari Sasya. Dia duduk begitu saja. " Kamu ada masalah, Sya? " tanya Vega kemudian merasa tak sabar jika harus berbasa-basi.


Lagi-lagi Sasya masih tak merespon dan hal itu membuat Vega sungguh geregetan. " Sasya Ananda Setyawan, what's wrong with you?


Kini barulah perhatian Sasya mengarah pada sahabatnya. " Apaan sih kamu ini, Ve? " tanya Sasya yang kurang mengerti maksud pertanyaan


Vega.


" Kamu yang kenapa ? " Vega benar- benar geregetan.


" Aku nggak kenapa- kenapa kog, " kilah Sasya.


" Nggak usah boongin aku. Nggak mempan tahu. "


" Aku nggak papa, Vega sayang. "


Sebenarnya Vega yakin kalau sahabatnya sedang ada masalah tapi sejauh ini ternyata dia tak mau bercerita. ' Ya udah, kali ini nggak papa kalau kamu nggak mau cerita, Sya. Semoga saja masalah kamu cepat kelar, ' Vega berkecamuk dalam benaknya.


" Ya udah kita langsung makan aja guys, " ajak Vega yang menerima pesanannya. Mereka segera menikmati makan siang mereka.


Ini hari kedua. Sikap Nayla masih sama. Tak ada hangat- hangatnya dengan Sasya padahal terhadap Mel, sikapnya sangat hangat. Akhirnya Sasya lebih banyak mengurung diri dalam kamar. Menekuni hobinya membaca novel.


Setidaknya dengan berimaginasi pikirannya tidak akan terlalu stress memikirkan perubahan sikap ibunda tersayang.


Bersambung...