
Langit sudah berubah warna merah keemasan. Di sebelah barat matahari mulai bergerak turun untuk bersembunyi sementara dan akan kembali terbit melakukan tugasnya memancarkan sinarnya esok hari.
Perasaan cemas Salma semakin menjadi. Dari siang tadi Raymond belum juga keluar dari kamar. Dia takut terjadi sesuatu dengan anak tampannya itu.
Tiga puluh menit sudah Salma menunggu tapi Raymond tak kunjung keluar juga. Akhirnya Salma memutuskan menyusul ke kamarnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Salma mengetuk pintu kamar yang menjadi tempat favorit anak laki-lakinya itu. Tak ada sahutan. Salma berniat membuka pintu itu.Baru saja Salma ingin memegang gagang pintu, pintu sudah dibuka dari dalam.
Dari balik pintu wajah tampan Raymond menyembul. Wajahnya nampak segar. Rambutnya terlihat masih basah. Itu menunjukkan Raymond tak lama tadi baru menyelesaikan mandi sorenya.
" Kamu telat mandi lagi, nak? "tanya Salma yang sedikit kesal Raymond masih saja susah disuruh mandi tak terlalu sore. Tapi di hatinya sangat bersyukur anaknya dalam keadaan baik- baik saja.
" Maaf, mama sayang. Raymond tadi telat bangun tidur siangnya jadi Raymond telat mandinya deh, " jawab Raymond sambil meringis.
" Ya sudah jangan diulangi lagi ya, " pinta Salma sambil mengusap bahu kekar anak sulungnya. Raymond mengangguk mengiyakan permintaan sangat mama.
Raymond dan Salma turun bersama. " Mama jadi buat es campurnya? " tanya Raymond di sela-sela perjalanan.
" Jadi dong, sayang. Udah jadi dari tadi siang. "
" Aduh maafin Raymond ya ma,nggak jadi mbantuin deh. "
" Nggak apa- apa sayang. Silvy udah pinter banget lho mbantuin mama. "
" Syukurlah mama tidak marah. "
" Kenapa mama harus marah? Ya udah, kamu mau coba es campurnya? "
Raymond tersenyum mendengar ucapan mamanya. Dia segera memegang sendoknya. Es campur yang tersaji di hadapannya sungguh menggugah selera. Kuahnya yang berwarna merah muda, isinya yang berwarna warni karena dari berbagai macam bahan dan beraneka buah membuatnya nampak cantik dan menarik.
Raymond tak sabar menyantap sendok pertamanya. Matanya membulat sempurna. Di kunyahnya isi es campur tersebut perlahan untuk mendapat kenikmatan sempurna. Kepalanya menggeleng beberapa kali. " Ini sungguh luar biasa, ma. Sueger dan amazing. Ini sungguh seperti es campur bintang lima. " Raymond memuji rasa es campur buatan mama dan adiknya.
" Ah, yang bener? Paling kak Raymond cuma mau buat Silvy seneng aja. Iya, kan? " sambar Silvy yang tidak diketahui kapan datangnya tahu- tahu sudah ada di belakang dan duduk di sebelah Raymond.
Raymond tersenyum. " Terus kamu maunya kakak jawab apa, dek? "
" Ya yang jujur dong, kak. "
" Lha ini udah jawab jujur, adekku sayang. "
" Beneran? Nggak bohong kan? "
Raymond menggelengkan kepala sambil melanjutkan melahap es campur amazing-nya. Terlihat senyum cerah menghiasi bibir mungil Silvy.
" Oh ya, Ray. Mama ada kabar gembira buat kamu, " ucap Salma tiba-tiba. Dia memang sudah tak sabar ingin menyampaikan berita ini pada Raymond. Dia tidak sabar melihat kebahagiaan akan terpancar di wajah tampan itu. Kebahagiaan yang akhir- akhir ini jarang dilihatnya menghiasi wajah tampan itu.
" Kabar apa, ma? " Raymond menghentikan makannya. Menunggu jawaban dari sang mama.
Salma tersenyum lebar. " Mulai besok kamu udah bisa berangkat sekolah lagi. "
" Beneran, ma? " Raymond seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Salma mengangguk dua kali sambil tersenyum. " Mama udah bicarakan ini sama papa dan akhirnya dia setuju. "
Penjelasan dari Salma membuat Raymond mempercayai kabar gembira yang dibawa mamanya.Hatinya bersorak gembira. ' Akhirnya aku sekolah lagi.'
Bersambung...