Miss My Sister

Miss My Sister
Kembali Sekolah



Matahari pagi sudah memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru. Kehangatannya senantiasa tercurah pada seluruh alam semesta. Tak terkecuali pada seorang anak laki-laki yang berjalan menuju gerbang SMA XX. Hangatnya mentari pagi menambah semangat yang membara pagi ini.


" Sya, tunggu! "panggil Raymond pada gadis yang berjalan tak jauh di depannya . Raymond tersenyum saat Sasya menoleh dan berhenti. Raymond berlari kecil menghampiri Sasya yang berhenti menunggunya.


Nampak seulas senyum yang menyejukkan hati tercipta di bibir mungil Sasya yang kemerah-merahan. Raymond membalas tersenyum.


" Alhamdulillah kamu udah masuk skul lagi, Ray. Berarti kamu udah bener- bener sembuh, kan? " tanya Sasya saat Raymond sudah sejajar dengan Sasya.


"Iya Sya, alhamdulillah aku udah sembuh. Terimakasih ya, Sya ini berkat bantuan dari kamu juga. Terimakasih banyak. "


" Aku nggak ngelakuin apa- apa padahal. Semua ini atas hasil kerja kerasmu sendiri yang gigih melawan penyakitmu."


" Pokoknya aku merasa ini juga karena bantuan kamu. Bahkan kamu ikut andil besar dalam hal ini."


" Terserah kamu deh. Yuk, jalan. "


Sasya mengajak Raymond kembali berjalan menuju kelas mereka.


" Arvin dan Vega pasti senang saat tahu kamu udah masuk skul lagi, " ucap Sasya di sela-sela perjalanan.


Cowok berwajah tampan yang berjalan di sebelah Sasya hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi omongan Sasya.


" Sebenarnya aku menantikanmu datang menjenguk, Sya. Sayang, kamu nggak kunjung datang. "


Seketika Sasya menjadi canggung dengan ucapan Raymond. Hatinya merasa tersentil.Dia memaksakan bibirnya tersenyum. Raymond memandang ke samping karena tak mendapat respon dari yang diajak bicara. Raymond melihat senyum kaku terbit di bibir kemerahan Sasya.


" Nggak papa kok Sya, aku kan cuma berharap kamu datang. Aku hanya ingin memastikan kamu baik- baik saja. Karena jujur aku khawatir sama kamu. Terakhir kali aku merasa ada masalah antara kamu dan mama kamu gara-gara aku. "


Sasya terperangah mendengar ucapan cowok bergaya rambut mandarin itu. Dia sama sekali tidak menyangka Raymond menyadari ketidakwajaran sikap bundanya. ' Aku nggak nyangka dia peka juga ternyata. Dia bisa baca situasi dan tebakannya benar, ' ucap Sasya dalam hati.


Sasya tersentak. Dia terpaksa keluar dari dunia lamunan. " Ah, kamu ini salah paham, Ray. Aku dan bunda baik- baik saja kok. "


Raymond tahu saat itu Sasya sedang berkilah. Entah mengapa dari sikap bunda Nayla saat itu benar-benar terbaca ada kemarahan yang tertuju pada Sasya. Dan Raymond yakin itu berkenaan dengan dirinya.


" Syukurlah kalau kekhawatiranku salah. Sekali lagi terimakasih Sya atas semua bantuan dan support kamu. "


Sasya tersenyum renyah. " Dari tadi terimakasih melulu deh kamu ini, Ray. "


" Kapan- kapan aku akan traktir kamu makan sebagai ucapan terimakasih walau aku tahu itu tak sebanding sih. Dan aku tidak menerima penolakan. "


" Wah, ini pemaksaan ceritanya. "


" Terserah jika kamu beranggapan seperti itu tapi akan lebih baik jika kamu menerimanya dengan senang hati. "


Lagi-lagi Sasya menyuguhkan senyuman yang ditangkap oleh mata hitam Raymond itu seketika menciptakan kesejukan tersendiri di hati Raymond. " Baiklah, kata orang menolak niat baik seseorang itu tidak baik. Jadi aku akan menerimanya dengan senang hati. "


" Nah, begitu dong. " Kali ini gantian Sasya yang terpesona saat melihat senyum mengembang di bibir sensual Raymond.


Bersambung...


Hai readers setianya author...


Mohon maaf ya author tidak bisa update lama. Author sedang ada kendala kesehatan kemarin. Do'ain author sehat selalu biar bisa update tiap hari ya...


Terimakasih masih setia dengan karya receh author ini. Jangan lupa like dan komen nya ya...