
Chika masih saja dalam diamnya. Air matanya sudah tk nampak menetes lagi. Sasya mengeratkan pelukannya.
Matahari mulai naik. Sinarnya tak lagi menghangatkan. Sisa-sisa embun yang tadi masih nampak di dedaunan kini telah mengering. Hilang tanpa bekas.
"Aku tak mungkin bisa melupakan Tama. Terlalu banyak kenangan indah yang kami lalui bersama, "gumam Chika lirih. Namun Sasya masih bisa mendengarnya. Apalagi jarak mereka sangat dekat.
Sasya tersenyum. Dia sengaja menunjukkan senyum cantiknya pada Chika dengan pindah duduk di depan Chika.
" Chik, dengerin aku. "Sasya menggenggam erat tangan Chika. " Aku sangat mengenalmu. Aku tahu kamu anak yang kuat.Kamu anak yang tegar. Aku juga tahu ini bukanlah hal yang mudah dilakukan seperti membalikkan telapak tangan. Dan aku juga tahu butuh waktu yang tidak cepat pula untuk semua ini. Tapi aku mohon Chik, berjuanglah. Lihatlah kesedihan yang tercipta di wajah tante Maya dan Om Vino. Mereka juga amat terluka atas apa yang menimpa kamu. Lihatlah juga bunda yang kamu bilang sudah menganggap dia sebagai ibu kedua kamu. Lihat betapa terpukul nya beliau melihat keadaan kamu seperti ini. Bunda bahkan sampai melewatkan jadwal makannya berkali-kali.
Lalu apa ini akan kamu biarkan berlangsung terus menerus? "
Sasya mengelus pipi Chika dengan lembut kemudian kembali bicara. " Semua ini tergantung padamu Chik. Kamu harus mengambil keputusan. Apa kamu lebih memilih kesedihan semua orang yang menyayangimu atau kamu justru mementingkan orang yang entah dia masih peduli atau tidak padamu. Aku tidak bisa memaksa. Semua keputusan penuh ditanganmu. "
Sasya tersenyum. Dipandanginya Chika yang masih menyiratkan keraguan dalam hatinya. "Dan satu hal yang harus slalu kamu ingat, Chik. Aku akan slalu membantu dan mendukung kamu. "
Kini Chika yng tersenyum. Semua yang di utarakan Sasya akhirnya mampu meresap ke hati dan fikiran Chika. Kata-kata Sasya mampu menyadarkannya untuk bangkit. Ya, untuk dirinya sendiri juga orang-orang di sekitarnya yang amat menyayanginya.Kini Chika merasa lebih tenang dan mantap tentang apa yang akan dia lakukan ke depannya.
Chika dan Sasya saling berpelukan. Kelegaan membanjiri batin keduanya. Sasya meneteskan air mata bahagia atas kembalinya Chika yang kuat dan tegar seperti yang diidolakan nya dari dulu. Chika meregangkan pelukannya. Segera mengusap sisa air mata diwajah sang sahabat saat didapatinya menangis. Tapi Chika pun tahu bahwa itu adalah air mata bahagia karena dirinya sudah kembali.
Keduanya tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan karena disela tawa mereka, buliran hangat mulai berjatuhan dari mata masing-masing. Saling berpelukan kembali lalu memutuskan masuk ke dalam rumah.
🍀🍀🍀
Seminggu telah berlalu. Banyak sekali waktu yang Sasya habiskan untuk menemani Chika dalam hal apapun. Berbelanja bersama, piknik bersama bahkan nge-game bersama. Keriangan mulai nampak menghiasi wajah ayu itu.
Wajah Chika yang memang sudah terbiasa tak pernah mendapat polesan make up karena sifatnya yang tomboy pun kini terlihat lebih bersinar berhias senyum kebahagiaan. Semua berkat kegigihan dan rasa sayang Sasya. Kebahagiaan yang tiada tara bagi Sasya karena akhirnya Chika benar-benar sudah kembali.
Chika dan keluarga memutuskan pindah rumah dan sekolah walau masih berasa di kota B. Itu merupakan saran yang diajukan Sasya dengan alasan supaya Chika tidak banyak mengingat kenangan bersama Tama yng akhirnya akan berdampak tidak baik untuk Chika. Beruntunglah Chika dan orang tuanya tidak keberatan akan hal itu.
Hari ini mereka mulai menempati rumah baru. Chika pun baru saja pulang dari mendaftar di sekolah yang baru. Tadinya Sasya merekomendasikan mereka sekalian pindah ke kota S supaya Sasya bisa lebih dekat dan bisa lebih sering menemani Chika tapi sayang Om Vino menolaknya. Tidak bisa dipungkiri perusahaan yang dikelola Om Vino berada di kota B, jadi tidak memungkinkan mereka pergi meninggalkan kota B.
Dengan persetujuan ayah Riko dan bunda Nayla, juga pihak sekolah akhirnya Sasya menambah home scooling- nya seminggu lagi. Itu untuk memastikan keadaan Chika benar-benar sudah stabil.