Miss My Sister

Miss My Sister
Tidak Bisa Tidur



Bunda Nayla menghampiri Sasya dan Mel. Gadis cantik berhidung mancung itu masih menyembunyikan manik mata hitamnya rapat. 'Semoga kamu cepat sadar nak, seperti yang dokter Yeni katakan.Bunda sudah sangat lelah rasanya dengan keadaan seperti ini. ' Bunda Nayla mengeluh dalam hati.


Bunda berdiri disamping Mel. Di usapnya puncak kepala Mel yang setia duduk di sisi pembaringan kakaknya. Mel memeluk pinggang ibundanya dengan erat. "Bunda jangan khawatir, mbak Sasya pasti cepat bangun. " Mel mencoba menenangkan ibunda tercinta juga dirinya sendiri. Tak dapat di pungkiri perasaannya juga sangat kacau. Takut hal buruk akan terjadi pada kakaknya. Kakak yang selama ini sangat dia kagumi. Kakak yang selama ini serasa perfect baginya. Kakak yang baginya tak ada duanya. She is number one.


Mel melihat sang kakak mengerjapkan matanya perlahan. Senyum dibibirnya kian merekah bak bunga di musim semi. Akhirnya gadis yang terbaring sudah selama hampir satu jam itu membuka matanya lebar. Mel dan Bunda Nayla merengkuh tubuh yang masih terbaring lemas itu bersamaan.


Sasya hanya terdiam. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Dan tak lama dia sudah mengingat semuanya. Ya. semua yang terjadi hingga dia merasa tubuhnya berat dan semua menjadi gelap.


"Kamu gak apa-apa kan Sayang? " Bunda Nayla melepaskan pelukannya. Sasya menjawab pertanyaan ibundanya dengan gelengan kepala perlahan.


Sasya berusaha menggerakkan bibirnya yang pucat.Sungguh dia merasa tubuhnya masih sangat lemah. Tapi dia mengumpulkan semua tenaga yang ada untuk membuka mulut. "Kita-jadi-ke-tempat Chika kan, Bun?Sasya ingin-segera melihatnya. "Sasya sedikit terbata.


Wajah bunda Nayla seketika meredup. 'Ya Allah dalam kondisinya yang lemah seperti ini dia masih memikirkan orang lain. Bukan! Chika memang bukan orang lain. 'Bunda Nayla justru asyik dengan pikirannya sendiri. Dia lupa Sasya tengah menunggu jawaban darinya.


"Sayang, kamu masih lemah. Kamu perlu istirahat untuk memulihkan kesehatan. Setelah kamu sehat, baru kita jenguk Chika ya. "Bunda Nayla justru tak percaya pada dirinya sendiri bisa mengatakan pernyataan itu. Pasalnya dia sangat mengkhawatirkan Chika dan ingin segera berada di samping anak tomboy itu. Namun sebagai seorang ibu dia memang seharusnya tidak mementingkan keinginannya sendiri, karena bagaimanapun kesehatan Sasya juga sangatlah penting.


Sasya menggeleng. Wajahnya kian sendu. Butiran kristal bening mulai berjatuhan membanjiri pipinya.


Ayah Riko yang sedari tadi mendengar pembicaraan anak dan istrinya akhirnya memutuskan sesuatu. Dia berharap ini yang terbaik.


"Kita akan berangkat, Sayang." Ayah Riko mendekat ke arah putrinya lalu mengecup puncak kepalanya. "Tapi kamu harus berjanji satu hal bahwa kamu akan tetap baik- baik saja. "


Perjalanan panjang telah usai. Hampir tengah malam mereka sampai di rumah sakit tempat Chika di rawat. Sebenarnya tadi Ayah Riko hendak bermalam dulu di rumah tante Maya barulah pagi harinya ke rumah sakit menjenguk Chika, tapi Sasya begitu bersikeras.


Baru di lobi mereka sudah di hadang oleh satpam penjaga rumah sakit. Tentu saja karena ini bukan jam besuk. Bahkan ini sudah tengah malam. Tentu kehadiran mereka akan menggangu kenyamanan pasien.


Akhirnya dengan berat hati mereka meninggalkan rumah sakit.Mereka memutuskan menginap di hotel terdekat dengan rumah sakit. Hal itu diputuskan oleh ayah Riko dengan pertimbangan matang. Beliau tidak ingin Sasya terlalu lelah, mengingat rumah tante Maya cukup jauh jaraknya dari rumah sakit. Ya, mereka harus berbalik arah lagi. Apalagi keadaan Sasya yang kurang sehat. Tentu saja ayah Riko mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terjadi.


Mel sudah tertidur dengan pulasnya sampai terdengar dengkuran halus. Namun berbeda dengan Sasya, dia memaksakan matanya terpejam. Tapi tetap tidak bisa tidur. Pikirannya melayang keman- mana. Entah mengapa ia merasa hatinya tidak tenang sebelum melihat keadaan Chika dan memastikan dia baik- baik saja.


Malam itu terasa sangat panjang bagi Sasya. Matanya benar-benar tak ingin diistirahatkan padahal badannya terasa sangat lelah. Tiba-tiba ditengah kegundahan nya dia teringat kejadian sore tadi bersama Raymond.


'Sebenarnya apa yang tadi aku pikirkan. Bisa- bisanya aku menyuapi dia dengan tangan telanjang. Dianya juga kenapa gak nolak. Gak jijik apa? Huft! Bukankah ini sangat memalukan?


Tapi entah mengapa saat aku melihat senyum sendunya yang sepertinya penuh akan kesedihan mendalam itu membuat hatiku tergerak begitu saja tanpa berfikir. Lain kali tidak boleh kecolongan begini. Harus berfikir dulu sebelum bertindak.'


Sasya terus saja bergumam dalam hati.


Bersambung...